(Februari 2015)

 

Prague Castle adalah juga satu kawasan yang tak semestinya dilewatkan. Selain karena ada bangunan-bangunan megah bersejarah panjang, kawasan ini terletak di tempat tinggi yang berarti dari sana, lanskap kota Praha dapat dinikmati secara cukup menyeluruh.

Kawasan ini sudah ada sejak abad ke-9. Sudah sejak lama pula, Prague Castle menjadi tempat kediaman para penguasa wilayah yang kini mungkin meliputi beberapa negara di Eropa Tengah. Tercatat, raja-raja Bohemia, pemimpin Dinasti Habsburg di bawah tahta suci Roma, sampai Presiden Cekoslowakia menjadikan tempat ini sebagai pusat kekuasaan. Saat ini pun, salah satu bangunan di kawasan ini masih menjadi tempat tinggal resmi untuk Presiden Republik Ceko.

Untuk mencapai Prague Castle, perlu menjalani tanjakan yang cukup curam. Anak-anak tangga harus ditaklukkan (baru anaknya lho, gimana emaknya, halah). Walaupun lumayan menguras bak keringat, tetapi karena di kanan-kiri jalan terdapat toko-toko yang menjual beraneka jenis barang, dari sandang, souvenir, hingga pangan, juga gedung-gedung unik, lelahnya menjadi tak terlalu terasa. WP_20150213_12_21_04_Pro

Bagian depan Gereja Katedral St. Vitus

WP_20150213_12_19_18_Pro.jpg

Sumur tua dan Pancuran Air di Tengah Castle

WP_20150213_16_37_35_Pro.jpg

St. Wenceslas Vineyard dan Pemandangan Kota

DSC_0492

Lanskap Kota Praha di malam hari dari Prague Castle

Mengunjungi Prague Castle, dan bangunan-bangunan kuno di Praha yang masih dipakai, membuat saya berpikir bahwa hal-hal kuno tak mesti semua harus disapu modernisasi. Masalahnya, sejak awal, secara konsep, kekunoan seringkali dipertentangkan dengan kekinian. Praha sebenarnya bisa menjadi contoh sahih dimana menjadi modern bisa dilakukan di tempat-tempat berlabel klasik. Namun demikian, tak bisa dipungkiri bahwa hal itu menjadi sangat kontekstual. St. Vitus misalnya, walaupun dibangun berabad lalu, namun secara teknis (dilihat dari kekuatan bangunannya misalnya) mungkin masih bisa dipakai, atau barangkali secara desain juga bisa disesuaikan dengan kebutuhan masa kini (bisa dipasangi heater/AC misalnya). Selain itu, sekilas memang tidak ada kerusakan serius yang terjadi dalam sekian abad. Yang tak kalah penting lagi, pergantian kekuasaan tak serta-merta berarti penghancuran.

Faktor-faktor tersebut yang mungkin menyebabkan bangunan-bangunan dari jaman kuno di belahan bumi lain tak bisa diperlakukan sama. Ada perubahan drastis dalam hal lingkungan, dan bahkan bentuk, yang terjadi. Perubahan drastis tersebut bisa disebabkan oleh bencana alam seperti yang jamak terjadi di wilayah rawan bencana macam Indonesia. Contohnya adalah bekas kerajaan Mataram Hindu yang hancur luluh oleh letusan Merapi semilenium lalu. Dapat pula disebabkan oleh faktor ketidaksesuaian bangunan dengan kebutuhan jaman. Seperti, rasa-rasanya tidak mungkin memasang AC di Kraton Ratu Boko. Bisa juga oleh pergantian kekuasaan yang kemudian menafikan, bahkan menghancurkan, bangunan masa silam yang entah kenapa dianggap mengancam. Misalnya seperti apa yang terjadi pada Palmyra di Syria yang dihancurkan ISIS dan peninggalan peradaban Timbuktu di Mali yang diratakan Ansar Dine.

Pada akhirnya, Praha seperti ingin menunjukkan bahwa keindahan masa lalu yang dirawat dengan sungguh-sungguh dapat membawa kebaikan bagi masa kini, dan masa depan. Bayangkan jika perawatan tak secara layak dilakukan, Praha mungkin tak lagi sama. Menurut saya, keindahan arsitektur dari masa lalu, beserta kisah yang mengiringinya, telah membentuk karakter kuat kota ini dan menciptakan suasana magis di banyak sudutnya.