(Februari 2015)

 

Bagian lain yang juga luar biasa dari Praha adalah kota tua (Old Town). Di kawasan ini terdapat bangunan, benda, sudut dan jalan yang hampir semuanya memiliki keunikan dan narasi yang menarik untuk dibagi. Mulai dari Astronomical Clock yang melegenda, Old Town Square yang luas dan bersejarah, hingga wilayah permukiman Yahudi dengan sinagoga tua yang masih aktif dipakai hingga kini. Semua titik itu bisa dijangkau dengan hanya berjalan kaki.

  1. Astronomical Clock

Dibangun pada awal abad 15, Astronomical Clock di Praha adalah salah satu jam astronomi tertua di dunia. Jam kawakan ini terdiri dari tiga komponen berbeda, yang pertama adalah muka jam yang merepresentasikan posisi matahari dan bulan di langit. Yang kedua disebut “The Walk of the Apostles”, sebuah mesin jam yang pada setiap satu jam-nya menunjukkan sosok para Apostle (rasul dalam tradisi Kristiani) dan patung berbagai karakter. Yang ketiga adalah piringan kalender dengan medallion menggambarkan bulan-bulan. Menurut legenda lokal, kota Praha akan mengalami penderitaan apabila jam ini diabaikan dan sosok hantu yang dipasang pada jam menganggukkan kepalanya sebagai simbol konfirmasi datangnya bencana.

Astronomical Clock saat ini menjadi semacam landmark kota Praha. Sebagai jam yang sudah terpasang lebih dari 700 tahun, saya pikir jam ini menakjubkan. Pertama, karena masih beroperasi. Kedua, karena cerita yang mengiringinya. Dengan adanya makna di tiap komponen utamanya, juga legenda lokal yang terus diwariskan secara lintas generasi, Astronomical Clock menjadi menarik bukan hanya karena tua usianya, tapi juga karena memiliki makna atau cerita yang bisa dibagi. Mungkin, banyak orang di dunia ini yang mampu merawat benda warisan selama berabad lamanya. Namun, tak banyak yang mampu memberi makna dan menceritakan sesuatu.

DSC_0030

2. Old Town Square

Tempat ini, sebagaimana square-square di banyak negara lain di Eropa, berwujud lapangan luas dengan bangunan-bangunan penting di sekitarnya. Ada Old Town Hall, ada gereja tua (bukan lagu Panbers). Old Town Hall di sini merupakan serangkaian bangunan tua yang dulu dipakai sebagai kantor pemerintahan. Sedangkan gereja tua (yang bukan lagu Panbers) itu bernama Kostel Matky Boží před Týnem, yang dalam Bahasa Inggris berarti Church of Our Lady before Týn, atau Church of Mother of God before Týn.

Kabarnya, di square ini pernah terjadi berbagai peristiwa bersejarah dan juga berdarah-darah. Adalah darah 27 orang pemimpin revolusi Bohemia yang pernah tumpah di di sini. Revolusi Bohemia (Bohemian Revolt) tercatat sejarah sebagai perlawanan kelompok Bohemian, yang menganut Protestan, kepada Dinasti Habsburgs yang Katolik, pada awal abad 17. Singkat cerita, kelompok Bohemian takluk pada sebuah pertempuran yang dikenal dengan nama Battle of White Mountain. Pertempuran itu mengakhiri kontestasi power antara kedua pihak selama puluhan tahun, dan tentu saja menyeret para pemimpin pihak yang kalah untuk dieksekusi mati, di Old Tow Square.

DSC_0039

Old Town Square di sore hari, abaikan kelakukan teman-teman saya itu

3. Jews Quarter

Komunitas Yahudi memiliki sejarah yang panjang di Praha. Kehadiran mereka telah diperhitungkan sejak abad ke-16. Bahkan pada abad ke-18, jumlah warga Yahudi  di Praha pernah mencapai seperempat dari keseluruhan penduduk Praha. Dapat dimaklumi jika kemudian saat ini terdapat sejumlah peninggalan penting. Misalnya, sebuah sinagog dari abad 14. Disebut sebagai Old-New Synagogue, sinagog ini masih digunakan untuk beribadah jemaat Judaisme Ortodoks. Selain itu, terdapat juga pemakaman Yahudi kuno yang mulai dipakai pada abad ke-14 dan ditutup pada abad ke-17. Pemakaman yang kabarnya merupakan salah satu situs kuno Yahudi yang selamat dari penghancuran massal di era Nazi.

DSC_0050

Old-New Synagogue

DSC_0060

Bagian depan Jewish Cemetery

 

Mengunjungi Old Town di Praha, saya sempat teringat Old Town di Jakarta: Kawasan Kota Tua. Sebenarnya tidak fair membandingkan keduanya. Konteks sejarahnya sangat jauh berbeda. Tetapi, di sisi lain, saya juga tak bisa memungkiri bahwa sedih juga Kota Tua di Jakarta tidak bisa menyampaikan banyak cerita, sebagaimana Old Town di Praha. Tak banyak yang tahu, misalnya gedung-gedung di sekitar museum Wayang dahulu digunakan sebagai apa. Juga di Kota Tua “Square”, apa tanah lapang luas di sana selama ratusan tahun hanya berarti tanah lapang yang tak memiiki kisah apa-apa?

Mungkin, kita terlalu menganggap remeh masa lalu. Adagium “yang berlalu, biarlah berlalu” seringkali diangkat sebagai pembenaran atas penepian sejarah. Saya rasa itu kejam, karena cerita dari masa lalu tak melulu harus diabaikan. Kisah dari masa silam, dan juga peninggalan lainnya, tak sekedar pengingat dari mana kita dan peradaban kita beranjak. Namun juga penghargaan kita sebagai manusia atas karya peradaban lampau. Pun untuk memelihara kekaguman atas keindahan karya seni, arsitektur, tulisan, ritus, bahkan kisah, yang rasa-rasanya teramat sayang untuk hilang begitu saja ditelan jaman.

Rasa-rasanya apaan, ah, perasaan loe aja kali Mas?