(Februari 2015)

 

Bayangan saya tentang Eropa Tengah, dulu, bersumbu pada potongan film Before Sunrise yang berlatar kota Vienna/Wina (Austria). Kota itu lalu mengendap di kepala saya sebagai contoh kota dengan keindahan visual Eropa Tengah. Uniknya, saat saya mendapat kesempatan untuk mendatangi Praha (Ceko), sebuah kota yang juga ada di Eropa Tengah, bayangan itu kemudian muncul.

Saya mungkin terlampau gegabah melakukan generalisasi atas kota-kota di Eropa Tengah, namun saya kesulitan untuk tidak demikian. Pengetahuan saya tentangnya terbatas. Juga soal Praha dan Republik Ceko. Sepertinya, saya pertama kali dengar nama negara ini dari sepakbola. Ceko adalah runner-up kejuaraan antar-negara Euro 1996 dengan permainan agresif yang atraktif.  Selain kaitannya dengan sepakbola, saya tidak familiar sama sekali.

Saya terbengong-bengong saat pertama kali memasuki Praha. Waktu itu awal malam di penghujung musim dingin. Dengan lampu kota di sana-sini, kota ini memang memikat sejak pandangan pertama. Secara umum, Praha itu seperti senja, indah dilihat, tapi lebih menyenangkan lagi kalau dikhidmati. Tentu itu gambaran yang absurd.

Saya tak bermaksud menuliskan Praha secara absurd. Tapi untuk tidak seperti itu, cukup berat rasanya. Sebab memang penghayatan seringkali terlalu absurd, tidak terukur, dan kadang susah dijelaskan. Maka dari itu, saya lebih memilih menjadi deskriptif saja untuk Praha. Lebih dari itu, saya tak mampu.

Pada akhirnya, bayangan awal saya tentang kota-kota di Eropa Tengah bisa dibilang salah dan benar. Salah karena tentu Praha berbeda dari Wina. Tetapi benar adanya dalam hal pesona. Bahkan tetap kurang tepat. Sebab daya tarik Praha itu beyond beauty. Lebih dari sekedar kecantikan.