Perpisahan kerap menjadi momok yang menakutkan. Maka, pada suatu sore, aku pernah berbicara tentang perlunya merayakan perpisahan. Bahwa perpisahan tak harus selalu tentang air mata. Alih-alih, perpisahan bisa saja diiringi dengan keceriaan. Bukankah perpisahan hanya rangkaian dari pertemuan. Jika kita bisa menertawai pertemuan, kenapa kita tak mampu bersikap sama atas perpisahan? Bukankah keduanya sama-sama proses yang musti dijalani?

Mungkin memang perpisahan tak pernah sesederhana itu. Sebagai antonim dari pertemuan, perpisahan mau tak mau membawa sifat yang juga berlawanan dengan karakter pertemuan. Maksudnya, jika pertemuan dimaknai dengan kebahagiaan, maka sebagai antitesis, perpisahan harus dilabeli dengan kesedihan. Tentu posisinya tak mutlak seperti itu. Ada pertemuan yang tidak menyenangkan, dan ada pula perpisahan yang justru ditunggu-tunggu. Namun, yang jelas, keduanya seperti selalu berada di kutub berbeda terhadap satu hal yang sama.

Selain itu, perpisahan juga berkelindan dengan berbagai hal lain yang membuatnya tak bisa sederhana. Perpisahan bisa berhubungan erat dengan akhir. Ketika perpisahan mengakhiri suatu masa yang menyenangkan, wajar jika kemudian orang bersedih atasnya. Perpisahan juga bisa berarti perubahan atas harapan. Level ekspektasi yang muncul atas jalin hubungan antar manusia saat interaksi masih dimungkinkan, mau tak mau harus diubah setelah perpisahan terjadi, karena memang kemudian menjadi tak sama lagi.

Perpisahan bertautan pula dengan hal paling menyebalkan di dunia: waktu, beserta sahabat kentalnya bernama ruang.

Waktu memang sungguh angkuh. Dia yang menyeretku ke perpisahan. Sekeras apapun aku meneriakinya agar berhenti, ia hanya akan terus melenggang tanpa pedulikan aku yang meraung-raung kencang. Yang terjadi justru suaraku yang kemudian hilang. Selembut apapun aku berusaha merayunya untuk tak berlalu, dia tak tergoda dan terus melaju. Hingga aku sadar bahwa aku telah tak punya apa-apa lagi untuk ditawarkan. Secerdik apapun aku berusaha mengakalinya agar dia hanya akan jalan di tempat atau bahkan mundur, dia takkan peduli dan terus berjalan ke depan secara teratur. Sampai kemudian malah aku yang tak mampu lagi berpikir dan terlempar ke gigir yang terjal.

Ruang tak jauh berbeda. Pada perpisahan, ruang menghadirkan sekat. Sekat, yang kokoh bergeming sekuat apapun aku berusaha memindahkannya. Justru kemudian aku yang roboh sendiri, kelelahan. Ruang juga mendatangkan hantu yang tak kalah menakutkannya bernama jarak. Jika pada pertemuan, ruang membiarkan satu-dua atau banyak manusia berjalinan satu sama lain, maka pada perpisahan, ruang menciptakan sela. Sela yang jauh, yang menjadikan satu dan yang lain mustahil saling sentuh.

Waktu dan ruang telah membawakanku perpisahan. Waktu yang itu. Yang kejam, dingin, tak berperasaan. Sekaligus ruang yang membiarkan perpisahan tak bisa dihindari. Keduanya memaksaku menerima perpisahan.

Maka aku memutuskan untuk berdamai saja dengan waktu, dan ruang. Aku pasrah saja akan dibawakan apa lagi oleh mereka. Aku menurut saja akan dipertemukan dengan siapapun lagi. Aku bahkan tak akan protes jika mereka hadirkan perpisahan suatu hari nanti. Mungkin, karena mereka juga telah banyak sekali mendatangkan pertemuan padaku. Dan aku berterimakasih atasnya. Sebab banyak, banyak sekali, dari pertemuan itu yang membahagiakan. Bahkan yang sangat singkat, dapat tersimpan abadi.

                                                           Perjalanan udara Amsterdam-Kuala Lumpur,
                                                           20 Desember 2015