Hari ini 7 Desember. Saya, sebagai penggemar veteran lagu-lagu Sheila on 7, mengingat tanggal ini sebagai judul salahsatu album kelompok musik ini. Album 07 Des adalah salah satu album tersukses Sheila on 7, baik dilihat dari angka resmi penjualan fisik maupun dari berbagai awards yang dianugerahkan pada album ini. Penjualan kaset dan CD album 07 Des mencapai 1,5 juta copy, melengkapi kesuksesan dua album sebelumnya. Sedangkan award yang diterima Sheila on 7 atas album ini cukup bervariasi, mulai AMI Award hingga Anugerah Muzik Malaysia.

Saya mencoba memilih lima lagu favorit saya di album ini. Kenapa lima? Ya, tidak ada alasan pasti. Kebetulan saja pas ingin menulis, angka ini muncul. Dan nomor 1-5 bukan berarti urut dari paling favorit, semua kadarnya sama saja. Lima lagu itu adalah:

  1.  Terima Kasih Bijaksana

Lagu ini menurut saya adalah contoh lagu klasik Sheila on 7. Bahasa sederhananya: “Sheila banget”. Lagu ini punya karakteristik yang mirip dengan banyak lagu-lagu Sheila on 7 di album-album sebelumnya, semisal J.A.P dari album pertama dan Sahabat Sejati dari album kedua. Yang tidak kalah “Sheila banget” adalah liriknya. Lugas, sederhana, dan berbicara tentang keceriaan cinta. Satu ciri khas lain Eross sebagai penulis lirik yang juga nampak di lagu ini adalah pemilihan kata untuk mewakili kekaguman kepada perempuan, yang menurut saya cukup unik. Alih-alih memakai kata yang banyak dipakai penulis lirik lain seperti ‘cantik’, ‘baik’, ‘indah’ atau ‘manis’, Eross memilih memakai kata ‘bijaksana’, seperti pada bagian chorus lagu ini,

Aku tuliskan lagu sederhana, untuk dirimu yang sangat bijaksana”.

Di lagu-lagu lainnya, Eross juga sering memakai kata-kata ‘rayuan’ yang relatif tidak mainstream, seperti ‘hebat’ dan ‘megah’, misalnya pada lagu Yang Terlewatkan (album Menentukan Arah).

Karena faktor “Sheila banget” ini, kalau ditanya seperti apa musiknya Sheila on 7, Terima Kasih Bijaksana saya rasa bisa menjadi salah satu ambassador.

  1. Tunjukkan Padaku

Sebagai lagu pembuka album, saya rasa lagu ini bisa menjelaskan akan berada di jalur mana lagu-lagu selanjutnya. Lagu ini bercerita tentang lelaki yang, kira-kira, sedang jatuh cinta, sebagaimana sebagian besar lagu yang lain di album ini. Tetapi, alih-alih menampilkan citra laki-laki yang maskulin seperti lagu-lagu lain yang juga menjadi hits saat itu semacam Dua Sejoli (Dewa 19) atau semua lagu Jamrud, lagu ini menggambarkan secara gamblang bahwa laki-laki bisa menjadi begitu rapuh. Beberapa penggal lirik yang menunjukkan hal tersebut misalnya:

“… jadilah pelindung bagi sayapku”

“… karena dirimu satu-satunya yang kuandalkan, saat diriku tak mampu berdiri di sini…”

“… aku rapuh, saat kau tinggalkan”

Selain itu, melodinya bisa menginterpretasikan lirik secara tepat. Diawali dengan permainan gitar akustik yang minimal, ditengahi secara lebih ramai, dan diakhiri dengan bernyanyi beramai-ramai atau rapuh massal. Dibantu iringan string section, baris-baris cinta yang sebenarnya sederhana dalam pilihan kata, terdramatisasi secara gemilang oleh harmoni yang tidak berlebihan namun sangat menyenangkan.

07 des cover album

3.  Percayakan Padaku

Jika “Tunjukkan Padaku” melagukan kerapuhan, “Percayakan Padaku” lebih menceritakan kepercayaan diri. Eross sebagai penulis lirik, menampilkan seseorang yang sedang meyakinkan kekasihnya bahwa dirinya adalah pasangan terbaik untuk tumbuh bersama, secara lugas. Eross tidak perlu menjadi sepuitis Katon. Pun tidak juga menjadi se-macho Slank. Lagu ini bahkan terdengar seperti deklarasi yang agak nekat. Tapi, bukankah kepercayaan diri yang tidak sok gagah macam ini memang berpotensi disukai?

Bila kau ragu pada impianmu, percayakan padaku

“…jalan hidup yang akan engkau tempuh, percayakan padaku

kekasih percaya padaku, kau nyata tercipta tuk di sampingku

Selain lirik, permainan petikan gitar Eross di lagu ini juga mempesona. Sejak intro, petikan dan sound-nya walaupun terdengar tidak rumit tapi sungguh bukan teknik yang mudah dimainkan. Suara malas Duta di awal lagu pun menghadirkan nuansa intim dan personal, terdengar bukan seperti tipe suara yang dikeluarkan laki-laki di tengah kerumunan manusia. Ini tipe-tipe suara untuk berbincang berdua. Terakhir, bukan Sheila on 7 namanya jika lagu cintanya tak ceria. Pun pada lagu ini. Walaupun di awal tidak terdengar riang gembira, namun sejak pukulan perkusi masuk di tengah lagu dan lalu ditegaskan pada coda atau bagian penutup, keceriaan itu pun terasa.

4. Tentang Hidup

Diawali secara ciamik oleh bass line Adam yang tegas pada nada tinggi, lagu ini awalnya tak seperti lagu yang akan bercerita tentang pasangan yang sedang berantem. Setelah intro, lagu ini jelas menggambarkan suasana yang sedang tak menyenangkan. Lagu ini, menurut interpretasi saya, berada pada fase tengah-menjelang-akhir dari sebuah pertengkaran. Seperti ada harapan untuk berdamai meski masih terasa berat. Sebagai metafor dari harapan, Eross memilih benda yang paling umum dan mudah dipahami, yaitu lilin.

“…dan lilin ini, segalanya yang tersisa

Gaya bernyanyi Duta terdengar seperti sudah lelah, cocok dengan liriknya yang memang ingin menyudahi pertengkaran. Yang saya suka, lagu ini, dari liriknya, tidak bertujuan untuk meminta maaf, menuntut permohonan maaf atau bahkan mengakui kesalahan. Lagu ini lebih seperti ingin mengajak bernegosiasi. Simak penggalan lirik berikut:

coba berusaha untuk lebih mencintaiku, akupun mencoba hal yang sama”

bertahan sayang dengan doamu, aku kan bertanya pada tuhanku”

Tapi, bukankah memang begitulah seharusnya suatu hubungan? Kompromistis, win-win solution dan, pada akhirnya, saling memahami.

  1. Pria Kesepian

Menikmati pedihnya cinta, pria kesepian

Menikmati dinginnya hati, pria kesepian

Baiklah, tidak hanya pada cinta, Sheila on 7 juga melagukan kesepian secara ceria. Namun, semakin lagu ini mencoba mengajak menikmati kesepian, justru terdengar makin getir. Rasa-rasanya seperti tindak penyangkalan paling sejati. “Aku menikmati kok”. Menikmati, ndasmu! Saya mencoba berprasangka baik bahwa Eross menulis lagu ini untuk mengajak para pria yang sedang kesepian untuk menertawakan kegetiran itu. Pada titik tertentu, ia benar juga. Lagu ini saya rasa memang berpotensi menarik pria kesepian ke dua arah yang berbeda, terhibur dengan cara ikhlas menerima takdir, atau makin tenggelam dalam nelangsa tanpa perlu irama yang mendayu-dayu.

Selain itu, sound drum Anton di lagu ini bisa dibilang ‘Sheila banget’. Entah bagaimana mereka memutuskan memakai sound ini. Yang jelas, sound drum macam ini memang benar-benar punya Sheila on 7, dan cocok dengan pukulan Anton sebagai penggebuk drum mereka di album ini. Coba cari band lain dengan sound drum yang persis seperti ini! Mbok yakin, susah nemuin-nya.

—————–

Apa yang saya tulis di atas merupakan ekspresi saya sebagai penggemar Sheila on 7. Mereka tak sekedar local hero bagi saya. Lagu-lagu mereka sudah mengiringi hidup saya sejak masa puber di masa SMP sampai saat ini. Mengetahui bahwa mereka masih mengeluarkan full album tanpa takut tidak laku pada masa sekarang dimana industri musik sudah begitu mengecewakan, membuat saya makin kagum. Faktanya, volume off-air mereka masih sangat intens. Artinya, bisa dibilang mereka masih menjadi salah satu band-masih-aktif yang terbesar di Indonesia. Bagi saya, kebesaran mereka di genre band pop tak redup meski album terbaru mereka tak dibeli (dan dibajak) sebanyak 07 Des.