Bagi saya, tahun ini adalah pertama kalinya dalam hidup merayakan lebaran (Idul Fitri, bukan termasuk Idul Adha) tidak bersama keluarga. Sebelumnya, lebaran berarti berkumpul bersama keluarga besar, baik dari garis Ibu maupun Bapak. Pun berarti pertemuan dengan kerabat jauh, yang banyak diantaranya hanya bertatap-muka pada waktu itu saja. Lebaran juga menghadirkan momen pertemuan dengan tetangga dan sahabat lama kakek-nenek yang bahkan setiap tahun perlu diingatkan siapa nama saya dan apa hubungan saya dengan kakek dan/atau nenek.

Setiap tahun, sebagai anggota keluarga Jawa, saya musti melakukan sungkeman ke kedua orang tua, kakek-nenek, saudara kakek-nenek, tetangga sepuh, juga sahabat kental mereka. Pada saat sungkem, saya wajib mengucapkan selamat, menghaturkan bakti, memohon maaf dan meminta doa restu, dalam bahasa Jawa tentunya. Uniknya, beberapa dari mereka tidak sekalipun saya jumpai selama setahun sebelumnya, sehingga besar kemungkinan saya juga tidak punya salah kepada mereka. Tapi, saya harus tetap meminta maaf, dan beliau-beliau pun memberikannya secara otomatis.

Seiring berjalannya waktu, tiga dari empat kakek-nenek saya meninggal dunia. Menziarahi makam mereka pun menjadi ritual yang tak boleh tertinggal. Momen yang selalu terasa mengharukan. Di sebelah makam kakek-dari-ibu, yang dulu sering mendongengkan kisah-kisah pewayangan dan Abu Nawas, saya selalu menyempatkan diri melaporkan situasi saya kini. Banyak sekali hal yang ingin saya bicarakan dengannya. Namun, siapa mampu melawan takdir?

Setiap tahun pula, lebaran selalu menjadi momen untuk bertukar cerita, canda, dan pertanyaan tentang segala hal dengan anggota keluarga besar yang lain. Saat masih SD, masalah persekolahan, pertemanan, juga sepakbola, sering muncul sebagai topik. Beranjak SMP dan SMA, tema-tema baru mengenai hobi, seperti musik misalnya, mulai dibahas. Ketika kuliah tingkat Sarjana, saya mulai diajak mendiskusikan permasalahan serius: dari persoalan keluarga, pertetanggaan, hingga politik. Masa post-sarjana saya bisa dibagi ke dalam dua periode: saat menganggur, dimana tak banyak hal baru yang ditanyakan; dan saat sudah bekerja, dimana pertanyaan soal pasangan dan pernikahan mulai menyapa telinga saya secara lebih intensif.

Hal mutlak lain tentang lebaran, adalah tentang perut yang kekenyangan pada sekitar pukul 10.00 pagi dan kepala yang mengantuk berat dua jam kemudian. Muasal perut kepenuhan itu sangat jelas: kombinasi lontong legit dengan opor ayam gurih, sambel goreng krecek pedas, kerupuk renyah dan gudheg bermanis pas. Ditutup teh Jawa yang manisnya sungguh. Disokong pula oleh nafsu makan yang tak terkendali, yang seakan seperti terlepas dari belenggu. Sedangkan perkara kantuk yang hadir dua jam setelahnya, saya tak pernah tahu persis kenapa. Tebakan saya, hal itu muncul merespon minimnya waktu tidur pada malam sebelumnya dan perut yang sedang padat. Namun demikian, meletakkan punggung pada saat-saat itu benar-benar tak mudah, karena bagaimanapun saya harus tetap sadar untuk menemui banyak kerabat yang bertamu.

Tahun ini, saya memilih untuk tidak pulang, meskipun sebenarnya ada kesempatan. Berada di tempat yang jauh dari itu semua, saya jadi menyadari bahwa momen lebaran memang sungguh bernilai. Saya menjadi paham sekarang kenapa orang-orang di Jakarta rela mengantri tiket kereta di Stasiun Pasar Senen sejak tiga bulan sebelum lebaran; pun bertahan dalam perjalanan darat Pantura yang panas dan kering selama lebih dari 30 jam; hingga membayar mahal untuk sebangku pesawat. Sebab, berlebaran di kampung halaman bersama keluarga memang momen tak tergantikan.

Saya merindukan hal-hal di atas, sejujurnya. Di sini, di tempat saya sekarang berpijak, saya bukannya tak mendapatkan hal sejenis. Saya punya teman-teman becanda yang menyenangkan. Saya tetap bisa makan opor ayam yang gurih buatan kawan-kawan saya yang sangat jago masak. Pun menjalani ritual seperti bermaaf-maafan. Bahkan juga ikut mengenalkan ritual halal-bi-halal khas muslim nusantara ke teman beragama lain/tak beragama dari berbagai negara. Tetapi, bagaimanapun, tetap ada yang berbeda. Sebab lebaran tak cuma tentang hal-hal itu.

Sejatinya, lebaran adalah pulang.

Bahwa pengembaraan ke manapun, ialah “rumah” yang akan selalu saya rindukan. “Rumah”, yang dihuni orang-orang paling tulus dalam hidup saya. “Rumah”, yang menjadi tempat paling nyaman untuk menyandarkan kepala yang berat, meluruskan kaki yang penat, dan melaraskan batin yang goyah. “Rumah”, yang selalu membiarkan pintunya terbuka untuk saya masuki, baik dengan bendera kemenangan ataupun sayat kekalahan. “Rumah”, yang tak terganti. “Rumah”, untuk pulang.

Den Haag, 19 Juli 2015