Sudah beberapa kali thermostat heater kamar saya rusak. Sudah beberapa kali pula saya mengirim email ke facilities desk meminta perbaikan. Responsif memang. Tapi ya itu, setelah diperbaiki, hidup, mati lagi, hidup, mati lagi, berulang hingga tiga-empat kali. Frustasi, lama-lama saya pasrah saja. Toh, tanpa heater pun sebenarnya masih bisa bertahan.

Maka jadilah saya tidur dengan memakai baju berlapis sampai berbentuk seperti astronot. Dua selimut hangat yang ada terpaksa saya fungsikan sebagaimana sandwich, menjadi alas sekaligus cover. Cukup berhasil sepertinya, di tengah winter yang dingin, saya masih baik-baik saja secara fisik. Bagusnya lagi, saya jadi lebih peka dengan perubahan suhu di luar. Makin dingin di luar, makin terasa dingin juga di dalam.

Malam tadi, seperti biasa, suhu berkisar nol derajat. Saya menyelinap ke dalam selimut penjepit lebih awal dari biasa. Pada sekitar jam 4 pagi, saya terbangun oleh dingin yang tak biasa. Saya sadar, di luar sana cuaca mungkin sedang semakin mendingin. Menurut ramalan, minggu ini memang minggu terdingin selama musim dingin tahun ini. Jadi, tak mengherankan.

Entah kenapa, saya lalu tergerak untuk bangun dan menengok ke luar. Secara luar biasa, langit Belanda memberikan kejutan terindahnya. Titik-titik putih berjatuhan dari atas. Salju!

Pekarangan apartemen saya mulai memutih, pun demikian atap gedung sebelah dan depan. Melihat titik-titik putih turun ke bumi, saya terbengong sendiri. Takjub. Sebagai anak tropis sejati, saya tak pernah melihat peristiwa semacam ini sebelumnya, selain di televisi dan film-film tentunya, yang walaupun terlihat indah, tetap saja artifisial dan tak personal, jadi tidak bisa dimaknai.

Sialnya, momen-momen seperti ini adalah saat dimana kepala saya berpotensi mendatangkan ingatan tentang hal-hal di masa lalu atau lamunan tentang yang tak terjadi. Dan melihat rintik-rintik salju ini, tiba-tiba saya malah teringat saat disuruh Ibu menjemur dan menghalau debu-debu pada kasur kapuk! Pekerjaan rutin saya dulu setiap dua-tiga minggu sekali.

Waktu itu, sekitar 20 tahun lalu, kapuk-kapuk putih kecil serupa salju beterbangan dari permukaan kasur setengah baya yang terhantam alat penggebuk kasur dari rotan yang dibentuk seperti raket tenis. Kasur itu sudah lumayan terluka, oleh entah apa sehingga lubang menganga di beberapa tempat.

Tangan saya dengan bersemangat menggebuki kasur itu. Kadang saya merasa seperti atlet badminton Hariyanto Arbi menghunjamkan smash-smash tajamnya. Makin kencang pukulan saya, makin banyak kapuk-kapuk kecil melayang ke udara setelah memberontak keluar pada sempitnya sobekan kain kasur.

Beberapa saat kemudian, langit mulai berkurang teriknya. Maka sudah waktunya kasur itu diangkut ke dalam. Sebelum dipasang kembali ke tempat semestinya, Ibu sempatkan menjahit sobekan-sobekan.

Seiring dengan perekonomian keluarga yang membaik, kami mengganti kasur berbahan kapuk dengan yang berbahan busa. Lebih empuk, tidak repot membersihkannya, sekaligus menggagalkan serangga parasit kecil yang biasa disebut “Tinggi” (Cimex lectularius) untuk bersarang dan menyebabkan kami gatal-gatal.

Sejak saat itu, saya tak pernah lagi melihat salju-salju palsu keluar dari kasur kapuk.

Hingga pagi ini, saya menyaksikan kapuk-kapuk palsu turun dari langit.

Lalu hari makin terang. Saya berlari keluar. Kegirangan.

                                                                                   Den Haag, 27 Desember 2014

salju2