(28 Mei 2014)

Di Ende, saya menyempatkan diri barang sejenak untuk melihat sebuah rumah pengasingan politik Bung Karno pada masa perjuangan post-kebangkitan nasional di jaman Hindia Belanda dulu. Bung Karno beserta keluarganya, dipindahkan ke Ende mulai tahun 1933 hingga Jepang datang menyepak Belanda lebih dari sewindu kemudian. Secara arsitektur, bentuk rumahnya tentu biasa saja. Tipikal rumah-rumah perkotaan di jaman itu. Yang membuatnya istimewa adalah rumah itu pernah ditinggali salah satu founding father Republik Indonesia.

Saya membayangkan bagaimana susahnya perjalanan ke Ende pada waktu itu. Dengan kapal laut, barangkali butuh berhari-hari (atau bahkan minggu?) untuk sekedar sampai ke sana. Namun sepertinya bagi Bung Karno, pembuangan ke Ende, barangkali tak seberat penahanan politik di akhir hayatnya oleh otoritas Orde Baru yang baru berdiri kala itu. Alasannya cukup jelas, diperlakukan sebagai tahanan rumah di Batutulis (Bogor) dan Wisma Yaso (Jakarta) membuatnya tak bisa menemui rakyat. Ia pernah menanggapi banyaknya usaha pembunuhan atas dirinya dengan tenang, bahwa peluru dan bom tidak pernah ditakutkannya. “Cara paling ampuh membunuhku”, kata Bung Karno, adalah “jauhkan aku dari rakyatku, maka aku akan mati perlahan-lahan”.

DSC_0884

Di Ende, Bung Karno melahirkan lima sila yang merupakan embrio Pancasila. Ide mengenai lima sila itu didapatnya dengan duduk merenung di sebuah taman, yang kini dinamai Taman Renungan dan dihiasi patung Bung Karno dengan pose menulis.

Saya lalu berpikir. Barangkali dengan laku penarikan diri dari hiruk pikuk perkotaan, ide-ide brilian akan lebih mudah muncul. Bayangkan jika Bung Karno tidak terpinggirkan ke Ende, mungkin Pancasila yang kita kenali saat ini tak akan pernah ada. Barangkali jika muncul dari tengah kesibukan kota, ide dasar negara kita bisa saja berbeda dari yang kita akrabi sekarang.

Ende dan Bung Karno seperti telah memberi saya pelajaran bahwasanya dalam keterasingan, mungkin imaji kita akan membuncah, perenungan kita menjadi lebih dalam, dan pikiran pun menajam. Pada akhirnya, barangkali, keterasingan tak selalu menakutkan.