(29 Mei 2014)

Saya tak banyak ingat gambar-gambar yang ada di uang kertas kita jaman dulu. Tentu yang paling bisa saya ingat adalah uang kertas 500 rupiah. Apalagi kalau bukan karena ada gambar orang utan di situ. Saya yakin hampir semua dari kita pernah memakainya untuk meledek teman. Juga mungkin karena jumlahnya yang cuma 500, uang saku pas-pasan untuk berangkat-pulang sekolah naik angkot colt trayek Prambanan-Terban dan jajan seadanya waktu saya masih kecil dulu.

Sampai ketika kemudian saya tiba di puncak Kelimutu. Saya jadi memanggil ulang ingatan saya tentang uang 5000 rupiah dengan gambar kawah-tiga-warna. Kawah-tiga-warna itu berada di Gunung Kelimutu, Pulau Flores. Kawah Kelimutu, walaupun tidak selalu sewarna-warni sebagaimana yang ditampilkan pada uang kertas, ternyata memang megah.

Tentu tak semegah senyummu.

Halah.

Saya tiba di puncak Kelimutu pada pagi yang sudah tak buta lagi. Mungkin pagi sudah periksa ke dokter mata. Tapi masih kriyip-kriyip. Pagi, dan mata saya juga. Bagaimana tidak, saya sudah harus berangkat dari pondokan sederhana di desa Moni, desa terdekat, jam empat AM.

Moni adalah sebuah desa yang sudah cukup lama tersentuh industri pariwisata. Konon, Kelimutu sudah menjadi tempat tujuan piknik sejak jaman Hindia Belanda. Tidak mengherankan jika kemudian pondokan dan penginapan mudah ditemukan di sana. Dalam berbagai tingkatan harga dan kualitas. Ada pula ojek yang menawarkan jasa pengantaran pagi-pagi ke puncak Kelimutu, bahkan banyak. Persaingan antar pelaku bisnis cukup terasa sejak pertama tiba. Sampai pada pagi sebelum berangkat, ban belakang mobil teman saya digembosi, dua-duanya. Tanpa bermaksud menunjuk hidung secara sembarangan, entah kenapa saya merasa menjadi korban persaingan itu. Saya jadi berpikir bahwa industrialisasi, termasuk di bidang pariwisata, dalam derajat tertentu bisa mengancam relasi antar anggota masyakarat yang mungkin sudah terbangun harmonis sebelumnya. Entah apakah pikiran saya itu benar atau tidak, saya hanya bisa berharap agar Moni, dan Flores pada umumnya, tak menjadi hancur oleh industri pariwisata seperti apa yang sedang dialami Jogja, kota kelahiran saya, kini.

Tapi, sudahlah, barangkali saya yang salah.

Dari Moni, mobil kami tak sendiri. Nyatanya, banyak kendaraan roda empat, dan dua, yang lain yang juga naik ke atas di waktu yang sama. Saya sempat senang sebab sepertinya saya tak perlu mendaki. Ternyata harapan saya itu tak menjadi kenyataan. Ada anak-anak tangga yang harus saya taklukkan. Banyak atau tidaknya relatif. Bagi kaki kelas menengah urban nan manja seperti kaki saya, anaknya si tangga sungguh berlebihan banyaknya.

“Biar dapat sunrise”, jawab teman saya yang sekaligus berstatus pemandu, saat saya tanya kenapa harus berangkat begitu pagi dan naik tangga dengan langkah yang cukup rikat.

Sialnya, saya tidak dapat sunrise terbaik. Namun, sungguh, tanpa sunrise pun Kelimutu pagi itu sudah begitu megah dan magis.

Walaupun tak semagis matamu.

Halah halah.

Memang demikian adanya, Kelimutu menyajikan sesuatu yang tak main-main. Awalnya, para pembelah pagi disambut kabut yang melemahkan harapan. Kelimutu seakan malu-malu dan tak ingin keluar menyambut tamu yang sebenarnya datang tanpa pernah diundang. Tapi, kabut seolah memahami khasanah psikologis para pengagum. Saat sebagian manusia di sana terlihat mulai berpikir betapa sia-sianya bangun pagi mereka, kabut lalu berlaku menyerupa tirai pertunjukan seni. Menyibakkan diri. Perlahan dan pasti.

Dan Kelimutu pun memunculkan wajah aslinya yang tak terjamah jalma. Indah.

Namun tak seindah wajahmu, yang tersandar lelah pada jendela kereta.

Halah halah halah.

Saya lalu mengambil alat lukis cahaya yang sudah lama disebut sebagai kamera. Atau tustel, bagi generasi yang lebih senior macam mantan ibu negara Republik Indonesia. Lalu, atas izin Tuhan, sang pemilik Kelimutu, jadilah foto di bawah ini.

kawah kelimutu, Flores, NTT

Saya jeprat-jepret sana sini. Tak henti. Satu per satu sudut saya jelajahi. Pun meminta tolong teman untuk memotret saya. Sampai pada satu titik, saya menggugat diri sendiri: untuk apa ini semua?

Saya tiba-tiba merasa rugi. Entah berapa momen magis telah terlewatkan. Kemudian saya selinapkan kamera ke tempat semestinya. Duduk. Acuhkan sejenak para manusia lain di situ. Lalu menyelami waktu yang terasa bergerak menyiput. Hingga yang tersisa hanya saya dan wajah Kelimutu, serta dingin yang tak seberapa.