(29 Mei 2014)

Kami datang ke Saga tepat saat desa adat ini bergotong-royong merenovasi makam leluhur. Lebih menyenangkan lagi sebab kami datang sewaktu menjelang jam makan siang.

Desa ini memang memiliki model makam tua, sebut juga tradisional, yang terjaga dengan baik, dari batu rata pada bagian atasnya. Makam duduk namanya.

Makam duduk desa Saga

 Ini makam

Desa adat Saga tidak, atau belum, seramai desa adat lain di Flores, seperti Desa Adat Bena atau Wae Rebo misalnya. Secara konsep, desa adat ini sebenarnya memiliki kemiripan dengan desa adat lain di Pulau Flores, yaitu menawarkan arsitektur rumah adat yang tidak berganti sejak lama dengan masing-masing fungsinya, narasi mengenai leluhur, dan ritual-ritual budaya yang khas. Tentu saja kemiripan ini hanya pada tingkat makro, saat difokuskan ke ciri-ciri yang lebih mendetail, berbagai perbedaan akan mudah ditemukan.

Bagi saya, sambutan penduduk desa adat Saga termasuk yang terasa paling hangat dan tak berjarak. Plus fakta bahwa begitu datang, kami langsung ditawari ikut makan siang bersama penduduk. Gulai sapi yang saya santap sungguh bukan main. Dan sebagaimana pola interaksi di banyak desa di Nusantara, semua itu menjadi pengiring bagi obrolan santai tentang segala hal.

DSC_0987

Ada yang sapi beneran, ada yang ‘sapi’ pendek

Putra Kepala Suku, namanya Maxi, yang pernah sekolah dan bekerja di Jakarta menceritakan secara bersemangat tentang pengalamannya saat tinggal di ibukota Endonesa. Pun aksi heroiknya saat menjadi pemandu wisata bawah laut di seputaran Kepulauan Seribu, cerita yang menurut seorang penduduk lainnya selalu dikisahkan ulang kepada tiap tamu yang datang dari Jawa.

Seorang tetua yang lain menceritakan mengenai desa adatnya: tentang ritual-ritual, rumah adat dan leluhurnya. Upacara adat di Saga bernama Gawi. Tari-tarian yang dilaksanakan sekali waktu dalam satu tahun. Dari yang saya ingat, tujuannya adalah untuk bersyukur atas panenan yang memuaskan. Sedangkan rumah adat Saga bernama Sao. Bentuk atapnya yang menurut saya khas, dibanding rumah adat lain di Flores. Penduduk Saga sendiri adalah bagian dari subsuku Lio, suku yang juga menghuni desa Moni, dekat Kelimutu.

Rumah adat desa Saga Sao

Saya duduk mendengarkan secara seksama kisah mereka, karena hanya itu yang saya mampu saat itu. Keingintahuan atas sejumlah hal baru dan lama yang selalu menarik, seperti hubungan mereka dengan otoritas lokal dan para turis, sering pula membuat saya melontarkan pertanyaan-pertanyaan sederhana kepada mereka.

Setelah berbincang cukup lama, kami pamit. Dengan harapan semoga warga Saga mendapatkan apa yang mereka harapkan, apapun itu.