(28 Mei 2014)

Pak Tua itu menjelaskan secara bersemangat tentang desanya. Dengan imbalan yang tak terlampau besar, gairahnya dalam berkisah patut dipuji. Mungkin memang berbagi cerita adalah kesenangannya. Seseorang Bapak yang lain, yang lebih muda, menyampaikan pada kami bahwa Pak Tua itu sudah sangat berkurang kemampuan mendengarnya. Maka, “jangan tersinggung, kalau ia tak merespon pertanyaan-pertanyaan kalian”, katanya. Mungkin karena gangguan itu juga, lantas berpengaruh pada volume suaranya yang terdengar sungguh lirih. Apapun, kami tentu bisa memaklumi dan tak jadi soal.

Saya tak bisa mengingat banyak hal dari cerita Pak Tua itu. Salahsatunya adalah tentang Kampung Bena yang berbentuk menyerupai kapal, yang mana menurut tutur Pak Tua itu, memang dulunya kapal. Sebuah kapal besar dari Jawa yang konon tersuruk di Pulau Bunga* ini, tepat di kaki Gunung Inerie, sekitar 1200 tahun yang lalu.

DSC_0853

Bekas Kapal Raksasa

Rumah adat yang ada di desa itu sebagian nampak masih ditinggali. Rumah-rumah itu masih terawat baik, dengan bermacam ornamen terukir pada kayu-kayunya. Selain itu, terdapat pula makam kuno dari batu sebagai pengingat bahwa di bawahnya para leluhur mereka berbaring damai. Juga dolmen, sebuah tempat dari  batu datar yang dipakai untuk memasrahkan seserahan bagi arwah leluhur.

DSC_0847

Makam Leluhur dan Pondok Kecil ‘Ngadhu’ yang Tak Berpenghuni

DSC_0850

Rumah Adat Bena

Dolmen

Pada akhirnya, desa adat ini seperti berkisah tentang  perjalanan waktu dan perubahan yang barangkali tak pernah terpikirkan sebelumnya. Jika dulu, leluhur penduduk Bena menetap dan bertahan hidup dengan merawat ladang. Kini, mereka mengandalkan cerita, rumah adat, juga penjagaan atas adat-istiadat sebagai sumber nafkah. Dalam ratusan tahun, desa ini telah bertransformasi dari desa para pendatang dengan kapal raksasa mereka, menjadi desa yang menyambut para pendatang lain yang membawa mobil-mobil sewaan dan tentu saja, uang untuk dibagi. Pada akhirnya, mungkin memang jaman tak perlu dilawan.

Di penghujung siang, senyum Pak Tua itu mengembang saat kami ucapkan terima kasih dan lalu berpamitan. Sepertinya ia senang dengan kedatangan singkat kami, dan mungkin turis-turis lain. Tapi begitulah pariwisata. Pelancong puas, tuan rumah mendapatkan haknya, dan roda industri turisme akan terus menggelinding.

Semoga memang baik dan semua senang.

*Pulau Bunga adalah sebutan lain untuk Flores.