(26 Mei 2014)

Saya masih ingat bagaimana menenangkan dan menyenangkannya saat itu. Saya duduk di salah satu sudut menikmati sore. Ada angin yang sedang ramah, suara beburungan yang beragam, dan kabut yang berlalu lalang di ujung pandangan. Terasa makin lengkap oleh bebunyian lesung penumbuk yang menghantam biji-biji kopi dan tawa lepas anak-anak yang bermain berlarian. Semuanya terpadu secara harmonis di kampung adat ini, Wae Rebo.

Bukan perkara mudah mencapai Wae Rebo. Setidaknya, 5 km perjalanan yang sebagian besar tanjakan harus ditempuh. Bagi penghuni kota yang terbiasa menggunakan lift dan tak terbiasa berolahraga, hiking memang menjadi tantangan tersendiri. Tentu hal ini tidak berlaku bagi penduduk Wae Rebo dan sekitarnya yang bahkan bisa turun naik berkali-kali sehari dengan membawa beban cukup berat seperti kopi, yang akan dijual, atau bahan pokok, yang akan dikonsumsi.

Ketika tiba di gerbang kampung adat itu, para pelancong, termasuk kami, berkumpul terlebih dahulu di sebuah gubuk yang posisinya lebih tinggi. Lalu, pemandu kami, membunyikan semacam kentongan untuk menyampaikan pesan kepada warga kampung adat dan para tetua untuk bersiap menyambut tamu yang datang. Setibanya di Wae Rebo, kami langsung diarahkan masuk ke rumah adat terbesar yang memang biasa digunakan untuk menyambut tamu dan upacara adat. Lalu, di dalamnya, kami harus mengikuti ritual selamat datang dari para tetua adat.

wae rebo 1

Rumah adat Wae Rebo bernama Mbaru Niang. Rumah ini belakangan menjadi bahan kajian arsitektur yang menarik minat para pembelajar, baik arsitek maupun bukan. Popularitas Mbaru Niang menjadi mendunia setelah pada tahun 2012 lalu mendapatkan penghargaan dari UNESCO, yaitu UNESCO’s Top Award – The Award of Excellence.

Mbaru Niang memang memiliki bentuk bangunan yang unik dan fungsi yang tak sekedar sebagai tempat tinggal. Ada lima tingkat di dalam Mbaru Niang. Tingkat pertama digunakan sebagai tempat tinggal, beraktivitas dan berkumpul. Tingkat kedua berfungsi untuk menyimpan bahan makanan dan peralatan sehari-hari. Sedangkan tingkat ketiga digunakan untuk menyimpan benih-benih tanaman pangan. Adapun tingkat keempat dimanfaatkan sebagai tempat menyiman stok atau cadangan pangan apabila terjadi kekeringan. Terakhir, tingkat kelima difungsikan untuk menaruh sesajian persembahan kepada leluhur

Kami menginap di salah satu Mbaru Niang yang memang diperuntukkan untuk para tamu dan turis. Walaupun tak nampak besar, namun rumah tersebut ternyata mampu menampung banyak orang. Sedangkan untuk makan, kami semua membayar secara paket ke kelompok masak ibu-ibu Wae Rebo. Dengan bahan yang terbilang sederhana, hidangan yang disajikan sangatlah baik menurut saya.

Wae Rebo coffee farmer

Proses awal pengolahan biji kopi

biji kopi tumbuk wae rebo

Biji Kopi Setelah Ditumbuk

Bagi saya, perjalanan ke kampung tua itu bukan sekedar perjalanan, tapi juga proses pembelajaran yang tak main-main. Dari mama-mama penumbuk kopi misalnya, saya seperti diingatkan kembali untuk menghargai proses, setelah selama beberapa tahun terakhir menjadi makhluk urban yang serba instan. Dari anak-anak yang bermain bola seadanya dan bergulingan tanpa beban, saya jadi terpacu untuk lebih mensyukuri apa yang saya dapat. Entah, rasanya uang yang saya berikan kepada mereka seperti tak cukup membayar itu semua.

Namun, di sisi lain, saya juga khawatir. Jangan-jangan, saya dan para turis yang memenuhi Mbaru Niang malam itu justru membawa beberapa perubahan yang tak perlu bagi penduduk Wae Rebo. Arah ke sana sebenarnya mulai terlihat. Misalnya, anak-anak selalu meminta permen atau coklat setelah atau sebelum difoto. Kata salah seorang Mama, perilaku ini muncul setelah para turis mulai ramai berdatangan. Tanpa bermaksud menghakimi perbuatan yang mungkin ditujukan untuk berterimakasih, menurut saya, imbalan permen dan coklat itu bisa membawa dampak buruk di jangka pendek (sakit gigi, sedangkan tempat berobat jauh) dan jangka panjang (mentalitas mengemis dan/atau komersialisasi atas segala hal).

Tapi, barangkali itu cuma kekhawatiran saya saja. Kekhawatiran yang muncul karena Wae Rebo terlanjur saya kagumi. Dan saya tak ingin persepsi saya atas apa-apa yang saya kagumi berubah. Ah, saya.