(Perjalanan dilakukan pada 24 Mei 2014)

Perjalanan ke Pulau Komodo tidak mudah. Butuh 4 jam menggunakan perahu-mesin-bersuara-berisik dari Labuan Bajo, sebuah kota pelabuhan di Manggarai Barat, Pulau Flores, Provinsi NTT. Akan lain kejadiannya jika menggunakan speedboat, bisa dua kali lebih cepat. Tentu dengan harga yang juga berlipat lebih mahal.

senja labuan bajo                                Senja di Labuan Bajo

Namun, sebenarnya kita tak perlu ke Pulau Komodo untuk melihat kadal raksasa itu di habitatnya. Komodo juga hidup di Pulau Rinca, yang hanya satu jam dari Labuan Bajo menggunakan perahu-mesin-bersuara-berisik itu. Bahkan, katanya, di Rinca malah lebih mudah bertemu komodo dibanding di Pulau Komodo.

Walaupun demikian, bagi saya, menyaksikan komodo tentu lebih sahih di Pulau Komodo. Namanya saja sudah Pulau Komodo. Maka pagi itu saya menempuh perjalanan 4 jam di atas perahu-mesin-bersuara-berisik. Sama sekali tidak buruk sebenarnya, sebab pemandangan sepanjang perjalanan cukup menarik. Ada pulau-pulau kecil, ombak yang tak terlalu besar, perkampungan nelayan, bahkan sesaat sempat nampak pemandangan bawah laut. Disirami cahaya pagi, semuanya terangkai nyaris sempurna.

Sesampainya di Pulau Komodo, kita akan disambut oleh komodo menggunakan karangan bunga dan tari-tarian.
*garing*.

Sesampainya di Pulau Komodo, kita akan disambut ranger, tanpa power. Mereka adalah petugas yang bertanggung jawab atas keamanan pengunjung di pulau Komodo sekaligus menjadi guide selama perjalanan di sana. Para ranger ini sangat menguasai hal-hal perkomodoan. Mereka memahami perilaku komodo, kebiasaan-kebiasaanya, bahkan usia kotorannya. Mereka juga tahu cara menghadapi komodo. Jadi, bersama para ranger, kita aman. Terima kasih ranger!

Di sana, akan ditawari tiga macam trekking, yaitu short, medium dan long. Saya sarankan ambil yang long sekalian, supaya tidak ada kalimat penyesalan kalau tidak bertemu komodo, semacam ini, “Yah, aku gak lihat komodonya, coba aku ambil yang jalur long”. Lagipula yang long itu tidak long-long amat. Capeknya bahkan tidak secapek menemani pacar memutari mal Ambassador + ITC Kuningan mencari dress lucuk.

Ada beberapa hal yang perlu dicatat saat ada di sana, diantaranya adalah:

1. Jangan terlalu yakin bisa bertemu Komodo di perjalanan

Walaupun ganas, komodo pada dasarnya adalah hewan yang malu-malu kadal. Pak Ranger yang menemani saya bercerita, seringkali dia mengantar tamu yang ingin melihat komodo di habitatnya malah cuma mendapati jejaknya saja. Dan kotorannya. Dalam berbagai tipe, antara lain: kotoran sebulan (sudah putih hancur seperti kapur), kotoran seminggu (masih berbentuk kotoran pada umumnya, lebih seperti kotoran anjing dibanding sapi), sampai kotoran bayi (kecil-kecil, seperti kotoran kucing). *Ini kenapa malah bahas kotoran sih*.

Menurut pengetahuan Pak Ranger, pada umumnya Komodo akan beroperasi dari jam 8 pagi hingga jam 11 siang. Cuma untuk mencari brunch dan sedikit exercise, untuk kemudian tidur pulas. Melihat jam kerja yang lebih singkat dari pegawai kelurahan jaman orde baru seperti itu, masuk akal jika kemudian susah menemuinya. Namun, tidak selalu seperti itu juga. Pak Ranger ini tak jarang juga mendapati Komodo pada jam-jam yang lain. Intinya, semacam untung-untungan.

2. Jangan jauh-jauh dari ranger, komodo hewan berbahaya

Saya sempat bertanya apa pernah ada yang diserang Komodo dalam waktu dekat. Dia lalu bercerita bahwa sebulan sebelumnya ada ranger di Rinca yang terluka parah karenanya. Gigitan Komodo konon seperti hiu, sekali rahang mencengkeram tidak bisa dilepaskan kecuali sedaging-daging yang digigitnya. Maka demikianlah yang dialami ranger Rinca yang malang itu. Daging di betisnya habis disita seekor Komodo nakal dan hingga sebulan setelahnya  ia masih dirawat di  RSUD Sanglah Denpasar, Bali.

“Pengunjung tak akan terluka”, kata Pak Ranger.

“Karena kalau ada serangan Komodo, ranger akan melindungi. Biasanya, kami berhasil menghalaunya. Seperti saya, pernah memukul komodo yang melompat akan menerkam pengunjung. Waktu itu, sekelompok pengunjung sedang berfoto di dekat komodo. Lalu kemudian komodo itu tiba-tiba meloncat menerjang. Secara refleks, langsung saya pukul dari samping. Kami selamat. Namun, jika sedang sial, atau tidak siap, bisa saja bernasib seperti rekan saya di Rinca tadi”.

Gigitan Komodo, selain kuat, juga berbahaya karena ludahnya beracun. Maka, sebagai tamu dari hewan purba buas yang bahkan tega memakan anak sendiri, yang bisa bertahan sekian lama dari berbagai perubahan alam, kita harus selalu waspada dan dekat dengan ranger.

ranger                                                                  Ranger Hijau

3. Siapkan kondisi fisik sebelum trekking

Aturan paling klasik dari bertualang di alam adalah kondisi fisik yang musti prima. Apalagi berada di lingkungan yang tidak kita kenal sekaligus habitat alami dari salah satu hewan paling berbahaya di dunia. Pada waktu di sana, saya berbagi ranger dengan beberapa orang, diantaranya adalah pasangan Belanda yang kira-kira sudah berusia 50-an. Mereka tampak cukup fit. Namun di akhir perjalanan, saat kami sibuk memotret komodo yang sedang mencari nafkah di dekat rumah tempat makan para ranger, seorang bule Belanda itu terhuyung dan kemudian jatuh hampir pingsan. Tepat di dekat Komodo lapar. Seketika, sekelompok ranger turun mengamankannya dan mengantisipasi respon komodo.

Pak Ranger kami berkata, “Wah, bahaya sekali itu. Komodo geraknya sangat cepat jika mengetahui calon mangsa jatuh ke tanah.” Jadi, untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, penting untuk menyiapkan fisik sebelum berangkat, minimal makan dulu.

 4. Perhatikan saran dari Ranger

Misalnya untuk yang satu ini:

“Pak, kalau kita dikejar komodo, harus gimana?”

“Lari zig-zag. Atau panjat pohon dengan cepat. Komodo bisa lari lurus sampai 30 km/jam”

komodo

Pada umumnya, perjalanan di Pulau Komodo akan berakhir di tengah hari, jika dimulai di pagi hari. Setelahnya, pihak pemilik perahu akan memberikan makan siang di perahu, yang menurut saya, cukup baik. Namun, hal ini tergantung paket yang ditawarkan.

Bagi saya, perjalanan ke Pulau Komodo tak sekedar perjalanan melihat kadal buas raksasa di habitatnya. Lebih dari itu, saya jadi menyadari bahwa tak semua makhluk hidup punya survivability yang cukup memadai untuk bertahan hidup. Entah berapa banyak hewan yang muncul di jaman yang sama dengan Komodo telah punah, baik karena alam atau karena perilaku makhluk hidup lain, seperti manusia.

Bertahannya Komodo tentu bisa dijelaskan dalam berbagai sebab. Namun, yang perlu diperhatikan adalah saat ini alam tak lagi sama. Belakangan, manusia telah mengubah bumi dengan kegiatan ekonomi yang jauh lebih kompleks. Jika perubahan alam sebelumnya, yang berhasil dilalui Komodo, bersifat alamiah dan evolusioner, saat ini Komodo sedang menghadapi perubahan yang artifisial dan radikal. Entah apakah Komodo mampu merespon dengan baik perubahan iklim maupun intervensi manusia pada habitatnya. Apakah mereka akan mampu bertahan sendiri lagi? Atau justru intervensi manusialah yang akan memperpanjang keberadaan mereka? Atau mungkin saja sebaliknya?

Apapun, manusia telah menyebabkan keseimbangan alam ribuan tahun menjadi goyah. Maka, manusia juga harus bertanggungjawab atas kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Terutama menyangkut makhluk hidup lain, termasuk komodo si kadal purba. Mungkin terdengar naif, namun sebagai primata cerdas penguasa bumi saat ini, barangkali sebaiknya kita jangan jadi arogan dan tak peduli.