00:00:00

“Iya, aku tahu”

Aku, tak tahu

00:00:01

“Aku tahu kau yang melukisnya. Aku tahu kau yang memberi corak. Matamu yang besar namun lembut itu, mampu menyerap cahaya di sekitarmu. Semuanya. Hingga matamu menjadi megah berwarna-warni. Iya, matamu. Aku terbelalak kagum. Mungkin, aku tampak tidak sedang terbelalak. Tentu aku terbelalak, tapi mataku memang kecil. Kau bahkan tak tahu aku terbelalak.”

Aku tak tahu pasti apa yang terjadi. Matamu yang kecil itu tak seperti biasa. Maksudku tentu matamu tetap kecil. Tapi, matamu seakan sedang membelalak. Ah, aku tak yakin. Matamu memang seperti itu. Kecil dan akan selalu kecil. Kecil yang aneh. Memaksaku melahirkan tanya-tanya yang mulai berjejal di kepalaku. Apakah kau membelalak karena menatap sesuatu? Apa kau benar-benar membelalak? Apa yang sebenarnya sedang kau belalaki?

00:00:35

“Aku tak yakin kau tahu aku sedang mengagumi kolaborasi cahaya-cahaya terindah di matamu. Lukisan yang menawan benar. Buatanmu. Aku ingin sampaikan pesan sebenarnya, terima kasih atas keindahan itu! Tapi aku jadi tak yakin. Maksudku, aku tak yakin kamu tahu kamu telah melukisnya. Bahkan, mungkin kamu tak tahu matamu telah memproduksi keindahan yang tak main-main.”

Aku tahu sekarang. Kau seperti mengagumi sesuatu yang indah. Tak terlalu yakin, sebenarnya. Tapi aku jadi sedikit lebih yakin. Bahwa memang ada yang berbeda dari matamu. Sayangnya aku tak tahu apa itu. Apa yang sedang kau kagumi? Kemana matamu tertuju? Matakukah? Bukankah mataku begini-begini saja? Kalau memang benar begitu, apa yang bisa kau kagumi dari kepolosan yang semacam itu?

00:01:08

“Aku tak tahu apa kau tahu bahwa matamu sungguh tak polos. Matamu bercorak. Warna-warni. Dan aku mengaguminya benar-benar. Haruskah aku memberitahumu bahwa matamu telah mengambil semua warna terbaik di kota ini dan menampilkannya secara luar biasa? Haruskah kau tahu bahwa tumpahan cahaya itu telah menjadi lukisan paling indah yang pernah aku lihat dan rasakan? Haruskah kau tahu bahwa mata kecilku sedang membelalak kagum? Haruskah kau mengerti semuanya?”

Aku tak tahu apa aku harus bertanya padamu tentang ketidaktahuanku. Sepertinya tak semuanya tentangku pun kau tahu. Kau pasti tak tahu bahwa aku tahu ada yang berbeda dari matamu. Iya, kan? Ah, aku terlalu yakin. Bukankah tak ada yang benar-benar tahu hingga semua terungkap? Hingga kau mengungkap, hingga aku mengungkap. Aku jadi bertanya lagi, apa kau memang tak ingin aku benar-benar tahu tentang semuanya? Apa kau membiarkan aku dan kau tetap dalam tanya masing-masing? Apakah kau berpikir bahwa yang harus tersimpan selamanya, biar tersimpan selamanya?

00:01:45

“Aku tahu kini harus bagaimana. Mungkin, yang harus tersimpan selamanya, biar tersimpan selamanya.”

Aku tahu maksudmu, sepertinya.

00:01:50

.