Saat itu sekitar sepuluh tahun lalu. Pada suatu malam, kami mendapat kabar bahwa adik dari nenek meninggal dunia. Ia bukan sekedar kerabat jauh. Oleh sebab itu, pagi harinya aku dan Ibu berangkat ke sebuah kota kecil di pesisir utara Jawa, Pemalang. Kami belum punya mobil. Pun mustahil naik motor ke sana. Maka kami naik bus umum.

Berangkat sesaat setelah adzan Shubuh, kami menyentuh Semarang tak lama setelah cahaya matahari menyentuh kota tua itu. Bus Jogja-Semarang yang kami naiki masih cukup baik untuk ukuran bus ekonomi. Walaupun berhenti cukup lama di Magelang dan Ambarawa, namun perjalanan tak terasa melelahkan. Lalu kami berpindah bus ke jurusan Tegal. Tipikal bus ekonomi kala itu, penuh sesak. Dengan kulit jeruk (kadang salak) yang mulai mengering, sisa kulit kacang, dan remah-remah roti bertebaran di bawah dan sela-sela kursi. Kondisi jalan raya yang buruk pun menambah penat. Setelah ngetem cukup lama di Pekalongan dan beberapa kota kecil lain, akhirnya pada tengah siang yang terik khas kawasan Pantai Utara Jawa kami pun tiba.

Namun kami datang terlambat. Pak tua itu telah terkubur damai.

Sejam saja kami di sana dan langsung beranjak pulang ke Jogja. Beberapa hari setelahnya, aku menyesal mengorbankan pertemuan yang jarang dengan kerabat-kerabat itu hanya karena esoknya ada Makrab jurusan di kampus untuk anak baru, dimana aku adalah anak baru. Sejujurnya, Makrab itu tak cukup berkesan.

Perjalanan pulang dari Pemalang ke Jogja ditempuh dalam waktu yang hampir sama, sekitar 7 jam. Tetap dengan bus yang serupa, yang kumuh penuh sesak dengan kulit jeruk kering dan bekas kulit kacang yang bertebaran di sana-sini, plus remah-remah roti.

Memasuki Magelang, Ibu bertutur kepadaku, “Tak ada lelah yang tak terbayar.”

Aku tak menimpali.

“Suatu saat kamu akan tahu makna perjalanan”, tambahnya.

 

Saat ini, aku terduduk di bangku sebuah pesawat yang telah memasuki jam ke-16 dari total perjalanan. Aku tak tahu aku di mana. Di bawah sana, lampu-lampu kota kecil menghiasi malam yang hampir pagi. Mungkin aku sudah di atas Eropa. Seharusnya tidak lama lagi aku mendarat untuk singgah sejenak di Amsterdam.

Dan aku teringat perjalanan yang itu, perjalanan sepuluh tahun lalu. Perjalanan yang membuatku selalu memaknai perjalanan.

 

Otw Jakarta-Jenewa, 25 Maret 2014