Kering tak juga pergi

Petani Renta itu penuh harap menatap langit yang sedang biru gemilang

Ia lalu hanyut dalam hening munajat

Tak lama, muncullah Si Tuan Besar membawa sekantong harapan

Kemudian diguyurnya Petani Renta itu dengan jargon-jargon

“Hey kau Petani Renta, engkaulah sehebat-hebat makhluk. Kau sediakan kami makanan. Tapi kulihat kau kini bersedih. Maka junjunglah aku menjadi pemimpinmu, kau akan bahagia, karena aku sebaik-baik pemimpin”

Petani Renta tak beranjak dari tafakurnya

Si Tuan Besar mulai penasaran

Disiramnyalah Petani Renta dengan janji-janji

“Aku tahu kau sedang mendamba tirta. Maka junjunglah aku, dan akan kubuat tanahmu gembur”

Petani Tua itu tetap memendam kata-katanya dalam hening yang bening

Si Tuan Besar makin menjadi

Didekatkanlah congornya tepat di sebelah telinga Petani Renta

“Hey, dengarkah kau orang tua lemah yang tak berdaya? Jangan kau berlagak tak mendengarku. Tanpaku, kau hanya belulang yang berjalan ringkih menunggu mati”

Petani Renta tak menggubrisnya

Ia lalu bangkit beranjak dan berlalu

“Hey mau ke mana kau?? Dasar makhluk hina lancang. Berani-beraninya kau mengacuhkanku”

Petani Renta itu terus berlalu dan melaju

 

Perlahan, gerimis turun

Sesaat kemudian, hujan mendirus deras

Deras dan makin deras

Si Tuan Besar tetap berteriak-teriak lantang

Lantang dan makin lantang

Petani Renta tak lagi mendengarnya

Ia sedang menikmati rintik yang mengalun indah

Indah dan makin indah

Lenyaplah teriakan parau Si Tuan Besar oleh merdu yang mendayu

Lenyap dan makin lenyap

Hingga berujung senyap

 

Damri Bandara Jakarta, 7 Mei 2014