Sepasang mata tajam menatap hujan

Dengan sorot yang entah mengagumi atau tersakiti

Sangat menjerat  sampai tak setetespun terlewat

 

Sepasang telinga khusyuk menyimak rintik

Seakan gerimis jejalkan cerita

Begitu khidmat hingga tak satu bisingpun tega menyela

 

Sepasang bibir berbisik

Mungkin memang lirih

Mungkin juga karena kata-kata telah letih ditindih gemericik

 

Sepasang bibir itu lalu tersenyum, megah

“Berterimakasihlah pada hujan”, tuturnya kemudian

“Karena hanya hujan yang mampu menghargai kerinduan”.