Aku tak pernah membenci hujan.

Meski hujan pernah kejam.

Aku masih ingat, sore itu, hujan sontak datang.

Kubilang itu pendirusan yang tak kenal adab.

Aku damai berjalan di tengah padang yang hangat oleh senja yang biasa, sampai hujan menyerang dengan rintik yang merajam, tanpa perjanjian apalagi tegur salam.

Kupandang langit, ke mana jingga yang sedari tadi?

Hanya kelabu mengepung!

Aku bingung mencari saung untuk bernaung.

Lalu kulari ke delapan arah mata angin.

Gila, makin jauh aku lari, makin jelas aku lara, disileti rintik.

Seharusnya aku mengutuk hujan!

Hujan yang mengirimiku dingin ini

Seharusnya aku mengutuk hujan!

Namun aku hanya berlari dan terus mencari.

Barangkali hingga ketemukan teduh, entah di mana.

Seharusnya aku mengutuk hujan!

Tetapi aku memilih terus berlari dan mencari

Menimbun sayat yang makin lama makin hebat

Entah, kurasa semua begitu khidmat

Barangkali, karena aku tak pernah mampu mengutuk hujan