Setiap ada kesempatan untuk mengunjungi Singapura, entah karena pekerjaan atau bukan, saya selalu bersedih kalau naik MRT. Well, saya memang pemalas, tapi bukan karena harus berjalan jauh saya jadi sedih. Penyebabnya tak lain adalah kenyamanan yang saya rasakan saat naik moda transportasi satu ini, bahkan pada jam-jam sibuk.

Nyaman kok malah sedih.

Saya sedih karena Jakarta tak punya transportasi publik yang senyaman itu. Bagaimana mungkin kota yang menampung sekitar 9,6 juta orang dan menjadi 12,5 juta jika ditambah dengan yang commuting tiap harinya bisa tidak punya transportasi massal yang layak??

MRT di Singapura datang rata-rata 2-5 menit sekali dengan kapasitas angkutan yang signifikan. Jaringannya pun luas, menyentuh hampir tiap sudut kota. Pun demikian sistem ticketingnya, praktis dan terhitung tak mahal dengan service yang sedemikian.

Saya sama sekali tak silau dengan hal itu. MRT ada di banyak negara lain. Di Jepang, Korea, China, dan lain-lain. Jadi sebenarnya tak ada yang istimewa dari MRT di Singapura.

Yang ‘istimewa’ adalah Jakarta tak mempunyainya.

Entah apa yang salah. Kabarnya prototipe MRT sudah ada di Taman Mini sejak tempat itu ada. Namun, tak pernah sampai detik ini diwujudkan sebagai angkutan komersial. Baru pada era Gubernur Joko Widodo groundbreaking pembangunan MRT akhirnya dilakukan. Puas? Tentu belum. Sangat belum. Sebab di Indonesia ini, kalau proyek belum terlihat hasil akhirnya maka sama sekali tidak bisa dipastikan ujungnya. Bisa saja berhenti di tengah pengerjaan.

Tapi berharap bolehlah Pak Cik.

So, kalaupun jadi sesuai jadwal maka kita akan punya MRT pada tahun 2017. Satu jalur. Satu. Baru satu. Untuk wilayah Jakarta yang begitu luas. Mengurangi macet? Barangkali memang bisa, tapi tentu hanya untuk jalanan yang penggunanya teralihkan pada jalur MRT. Jalanan yang lain yang belum dibantu jalur MRT, pastinya masih akan disesaki mobil pribadi.

Kata orang-orang tua waktu saya kecil dulu, tidak ada kata terlambat. Dalam konteks MRT Jakarta, saya rasa mereka salah. Kita terlambat! Kita tertinggal sangat jauh. Singapura baru merdeka tahun 1960-an. Tahun-tahun dimana sebenarnya kita sudah mampu membangun flyover Semanggi. Namun, lihat saja sekarang. Mereka punya bus yang nyaman, dan kita punya Metromini tanpa rem yang bisa saja mengopermu ke bus yang lain tanpa tahu sebabnya. Jepang di tahun 1945 kolaps oleh bom atom dan kekalahan perang, tahun yang sama dengan Indonesia merdeka. Saat ini, Tokyo punya MRT hingga empat tingkat ke bawah dengan keterlambatan sangat minimal sedangkan Jakarta memiliki Commuter Line Jabodetabek yang sering gangguan wesel dan AC mati sampai pembatalan jadwal.

“Jangan membanding-bandingkan begitu lah, setiap negara kan punya kelebihan dan kekurangan masing-masing”.

Terserah. Maka saya tegaskan sekalian bahwa kekurangan Jakarta adalah transportasi massal. Kita tidak punya yang layak sampai saat ini.  Jakarta tertinggal puluhan tahun dari Singapura yang sudah mulai membangun MRT dari tahun 1970-an. Jakarta malah seperti tertinggal ribuan tahun cahaya dari Tokyo.

Solusinya? Bangun sekarang juga! Sampai selesai. Pembiayaan bisa dicari. Kalau tidak, selamanya kita jadi pecundang di jalanan yang kita bangun dan rawat sendiri lewat pajak. Takluk tiap hari oleh kemacetan yang gila. Saya jadi curiga, jangan-jangan ada ‘tangan-tangan jahil’ namun punya kuasa yang memang menginginkan kita selamanya jadi pecundang. Bahkan kita tak sampai tak sadar lagi bahwa kita sedang dipecundangi.

Ah ah, jangan berprasangka buruk begitu. Siapa tahu memang benar.

SG, 11 Februari 2014