Setiap hari, Birdi terbang mengelilingi taman Monas. Dia senang di situ. Banyak pepohonan tinggi dan berwarna dominan hijau, warna favoritnya. Pun masih lumayan segar untuk bernafas, dibanding sebagian besar tempat di kota raksasa itu.

Birdi belum pernah merasakan bernafas di taman kota lain. Sejak kecil dia lahir dan tinggal di taman Monas. Ibunya dulu sering bercerita tentang taman kota lain untuk menidurkannya. Birdi selalu menyimak dengan antusias. Dia ingin, sesekali, suatu waktu, terbang ke sana, dan merasakan udara yang berbeda, yang konon lebih segar, sambil berbincang dengan penghuninya.

Maka tibalah malam itu, malam dimana bulan sedang bulat penuh. Birdi merasa familiar dengan bentuknya yang seperti sesuatu kuning bulat di wajan penjual kerak telor di sebuah festival yang belum lama sebelumnya diadakan di dekat pohonnya. Dia jadi membayangkan bagaimana jika bulan itu dibolak-balik, dihancurkan, dan ditutup oleh manusia berotot kuat seperti halnya kerak telor. Birdi ketakutan sendiri.

Bulan memang istimewa. Ia bercahaya. Sungguhpun bukan cahayanya sendiri. Bulan hanya meminjam. Birdi heran bagaimana mungkin bulan yang hanya meminjam cahaya dari salah satu bintang bernama matahari justru bersinar lebih benderang daripada semua bintang-bintang yang nampak di langit. Ibunya pernah menjelaskan bahwa itu bisa terjadi karena bulan berjarak lebih dekat dari matahari dan bintang-bintang lainnya. Birdi percaya saja karena cuma ada dua aturan di pohonnya, satu: ibu selalu benar, dua: kalau ibu salah kembali ke aturan pertama.

Birdi sesungguhnya tidak benar-benar percaya. Dia tahu ibunya tak pernah terbang ke sana, ke bulan. Sehari-hari, Ibunya hanya berputar-putar taman Monas mencari biji-bijian pengisi perut mereka. Sejauh ingatannya, jarak terjauh yang pernah ditunjukkan Ibu padanya hanya saat dia diajak bersafari ke gedung-gedung di sekitar taman Monas. Waktu dulu masih belajar terbang, Birdi dilatih ibunya hinggap di atap gedung-gedung itu. Dimulai dari yang tak terlalu tinggi seperti  Kantor Wapres, lalu ESDM, hingga akhirnya dia mampu bertengger di puncak antena gedung Indosat dan BI, beberapa yang tertinggi di daerah sana. Birdi sangat bangga waktu itu.

Namun, itu belum cukup. Dia ingin terbang jauh dari taman Monas. Ke taman kota lain, atau bahkan mendarat di bulan yang temaram, yang sederhana, yang tak seangkuh lampu-lampu kota ini.

Maka malam itu ia pacu kedua sayapnya. Sekencang-kencangnya. Sekuat-kuatnya. Dilawannya gravitasi. Matanya tajam menantang langit. Hitam malam tak berarti apa-apa selain paparan kelam tak berbatas yang musti dia tembus. Temaram rembulan bukan apa-apa melainkan hamparan cahaya yang harus dia taklukkan.

Sesekali dia melihat bintang jatuh mengiris langit luas. Indah, namun Birdi tak tertarik. Di kepalanya hanyalah mendarat di rembulan dan merasakan cahaya ramah yang mendamaikan. Makin lama, di matanya langit malam terlihat makin megah. Langit yang dari taman Monas hanya terlihat seperti bidang datar hitam menjadi sedemikian indahnya. Pun bintang-bintang yang dalam kebiasaan Birdi hanya muncul beberapa, jadi terlihat begitu banyak dengan warna yang beragam. Indah sekali.

Birdi mengayuh begitu jauh. Maka tibalah dia di dataran luas berbatu, berpasir, kering, dan tidak enak untuk bernafas. Birdi bahkan baru sekarang tahu bahwa ada tanah yang begitu luas tanpa satu pohon pun.

Birdi tak percaya bahwa dia telah mendarat di rembulan. Benda langit yang di matanya berbentuk bulat kecil yang sederhana namun indah. Rembulan  penghias malam-malamnya dengan kilau kekuningan yang cemerlang dan cahaya ramah yang mendamaikan.

“Tak ada, tak ada semua itu. tak ada semua itu di tempat ini.”.

“Bukan, ini pasti bukan rembulan. Rembulan itu indah. Aku pasti sedang tersesat dan mendarat di tempat aneh ini.”, kata Birdi.

Birdi yang kelelahan ingin pulang saja ke taman Monas. Dia merasa tak cukup kuat lagi mencari rembulannya. Tetiba dia rindu ibunya dan cerita-cerita malam. Dia rindu penjual kerak telor membolak-balik rembulan palsu di wajannya. Dia rindu deru kendaraan di sekitar taman Monas.

Tapi dia sekarang di sini. Di tempat yang kerontang dan membosankan.

Birdi sadar dia tak lagi punya cukup tenaga untuk kembali. Maka, diambilnya bekal perjalanannya berupa biji-biji tanaman taman Monas dari kantongnya. Lalu dia tebar semuanya di permukaan tanah yang sungguh kering. Birdi percaya suatu saat akan tumbuh pepohonan dari biji-biji itu. Dengan demikian, jika suatu saat ada burung yang mendarat lagi di sana, burung itu tak akan kebingungan.

Birdi makin lemas karena tak lagi punya energi. Dia pun tergeletak di muka rembulan sambil terus menyaksikan tempat dimana dia menebar bebijian, berharap di sana akan tumbuh sesuatu.

Birdi makin lemah. Tapi dia tak ingin menyerah. Birdi mati-matian mempertahankan nyala matanya. Dia bertekad untuk hanya menutup mata jika benih-benih yang ditebarnya tumbuh menjadi pohon kecil. Dengan sisa tenaga dia terus berupaya terjaga.

Namun pohon masih juga enggan tumbuh. Birdi tenggelam dalam nelangsa. Dia merasa gagal dua kali. Tak mencapai rembulan dan tak kuasa melihat benih yang ditebarkannya tumbuh.

Sesaat kemudian, Birdi menutup mata selamanya di hamparan rembulan, tanpa tahu bahwa dia telah berhasil mencapai tempat idamannya itu.

———-