Saya tumbuh besar bersama musik era 90-an. Maka harap maklum kalau saya suka band-band britpop yang eksis pada era itu, seperti Blur, Oasis, Suede dan Pulp. Sebagai fan, tentu saja salah satu harapan saya adalah menonton secara live konser mereka. Saya dulu tak pernah berpikir akan ada promotor yang mau menghadirkan band-band itu ke Jakarta, karena tentu lebih menguntungkan bagi promotor jika mereka mendatangkan Justin Beaver, Pitybull, dan sejenisnya.

Dua tahun lalu, tanpa saya duga, ada promotor yang membawa Suede ke Jakarta. Sialnya, saya tidak bisa menonton dan, tentu saja, saya kecewa. Awal tahun ini saya mendengar berita bahwa Blur, band yang paling saya idolai dari semua band british 90-an, akan manggung di Jakarta. Maka, sejak itu setiap saat saya menanti kapan penjualan tiket dibuka. Hingga saat akhirnya dibuka, di luar dugaan saya, tiket presale yang dijual secara online ludes dalam waktu 4 menit. Jadilah saya membeli dengan harga reguler.

Maka tibalah saat-saat yang saya tunggu, 15 Mei 2013, Blur on stage in Jakarta for the Big Sound Festival!

Oleh sebab formatnya festival, tentu saja ada band-band lain. Hari itu, Blur akan ditemani band Australia, The Temper Trap, dan duo penyanyi wanita dari Kanada yaitu Duo Maia, halah, T2, bukan, maksud saya Tegan and Sara. Ada juga Van She dan musisi nasional The Brandals.

Saya datang tepat saat Tegan and Sara memainkan lagu penutupnya, kalau tidak salah berjudul Closer. *Saya sebenarnya tidak tahu judulnya apa, tapi karena reffrain-nya mengulang-ulang kata itu, maka anggap saja judulnya Closer. Setelah itu mereka berdua teriak, “thank you Jakarta..” which means they will disappear soon.

Kemudian, di panggung utama muncul Dougy Mandagi dan teman-temannya, The Temper Trap! Mereka tampil membawakan hits-hitsnya dengan musikalitas yang sangat baik dan aksi panggung yang atraktif. Dougy, yang keturunan Manado, tampil sebagai penguasa panggung. Performanya optimal malam itu. Pada satu lagu, ia memainkan perkusi menggunakan tomb yang terlebih dahulu ia siram permukaannya dengan air mineral, sehingga saat digebugi kemudian muncul efek air bermuncratan ke atas. Menarik. Dougy juga jago berhumor. Sekali ia menyapa penonton dengan gaya penyanyi dangdut, “hai penonton..” dan membuat para penonton tertawa. Setelah sekitar satu jam, akhirnya Dougy mengucap, “terima kasih Jakarta..”.

Sesaat setelah the Temper Trap pamit, para penonton langsung singalong untuk memanggil Blur, tentu saja dengan “jaelangkung jaelangsang di sini ada pesta..”, halah, chorus Tender, “o my baby, o my baby, o why, o my..”.

Kami harus menunggu setting panggung cukup lama sebelum Blur tiba. Rasanya mirip dengan anak SD (baca: saya waktu SD) menanti adzan Maghrib untuk berbuka di bulan puasa. Waktu terasa lebih lama.

Setelah semua peralatan siap, dan para crew kembali ke gua mereka, maka diputarlah lagu Blur dari album selftitled mereka tahun 1997, “Theme From Retro”. Lalu muncullah Damon Albarn, disusul Alex James, David Rowntree, dan Graham Coxon. Penampakan itu diiringi teriakan para fans di Jakarta yang sudah menunggu lebih dari 20 tahun untuk menonton konser mereka.

Mbak-mbak di belakang saya berteriak memanggil-manggil Damon, dan bahkan kemudian di setiap pergantian lagu dia langsung automatically berteriak “Daaamoooooon..”. Untung gak salah jadi Daaanaaamooooon. “Mbak, permisi, mbak mau nawarin KPR?”. Halah. Sedangkan mas-mas di depan saya, agak ke samping sedikit, tidak berhenti teriak “Anjing! anjing!” dari awal hingga akhir, yang mungkin baginya itu semacam ungkapan “subhanallah akhii..”.

Tanpa banyak basa-basi, the four lads from Essex, suburb of London, langsung menghentak lapangan D Senayan dengan “Girls and Boys”. Penonton pun berjingkrak kegirangan sambil ikut bernyanyi.

“It’s taken us 23 or 24 years to be here”, kata Damon semacam membuka konser.

“Good evening, it’s nice to be here.”, tambahnya kemudian.

Mereka lalu memainkan Popscene, There’s No Other Way, Badhead, dan Beetlebum.

Damon mungkin tidak menyangka crowd di Jakarta akan terus-terusan ikut bernyanyi, mungkin lebih tepatnya berteriak-teriak, di tiap lagu yang mereka mainkan. “You’ve got a strong voice there”, katanya.

Lima lagu jelas belum apa-apa, setelah itu Damon diambilkan crew sebuah gitar akustik, maka penonton langsung menebak-nebak, “pasti Out of time nih”. Benar saja, Out of Time lalu dimainkan. Menyusul kemudian Trimm Trabb dan Caramel, lagu dari album 13, yang dirilis tahun 1999. Dua lagu yang menurut saya bisa menunjukkan kejeniusan Damon Albarn dalam bermusik. Setelah itu, Graham menjadi lead vocal dalam Coffee and TV, lagu yang semua fans Blur pasti hafal videoclip-nya. Apalagi kalau bukan karena kotak susu imut yang mencari Graham yang kabur dari rumah.

Singalong kembali membahana di ibukota Indonesia pada Tender. Disusul kemudian Country House, single yang mengalahkan Roll With It-nya Oasis pada The Battle of Britpop tahun 1995, salahsatu momen paling memorable di dunia musik Inggris, dimana kedua band yang sedang emerging saat itu merilis single pada hari yang sama.

Parklife, End of a Century, dan Death of a Party dimainkan setelahnya. Kalau dalam video konser-konser mereka di Inggris yang saya lihat di Youtube, lagu Parklife selalu menghadirkan Phil Daniels di panggung, sayangnya kali ini tidak. Phil Daniels adalah komedian yang menyanyikan verses lagu ini dengan aksen british cockney yang khas.

Graham lalu mengganti gitar fender telecaster-nya dengan Gibson ES. Itu tanda bahwa This Is a Low  akan segera dimainkan. Dan memang begitu. Banyak fans Blur yang beranggapan bahwa lagu ini seharusnya jadi hits single waktu itu, instead of End of Century. This is a Low adalah lagu ballads dengan nada yang cathcy dipadu dengan permainan solo gitar Graham yang liar, mungkin salahsatu yang paling liar diantara lagu-lagu mereka. Bagi saya, yang paling menarik dari lagu ini adalah liriknya, karena Damon sedang bercerita tentang shipping forecast.

Setelah This is a Low, Blur lalu pura-pura mengundurkan diri. Para penonton yang tahu bahwa mereka cuma pura-pura, tak beranjak. Maka, dipanggil-panggillah lagi empat orang itu. “jaelangkung, jae..” Bukan!! “We want more.. We want more..”.

Akhirnya mereka muncul lagi. Damon langsung duduk di belakang piano dan memainkan lagu terbaru mereka, Under the Westway. Disusul kemudian For Tomorrow dan The Universal. Pada The Universal, beberapa penonton di sekeliling saya meneriakkan reffrainnya dengan penuh penjiwaan, “it really really really could happen..”, yang bagi saya lebih terdengar seperti “it really really really does happen..”, semacam ekspresi ‘ketidakpercayaan’ bahwa konser Blur benar-benar terjadi di Jakarta.

Lagu penutup konser malam itu, seperti telah diduga, Song 2. Lagu yang berhasil membuat semua penonton singalong dan woohoo-ing together.

“Thank you Jakarta, you are my inspiration, fantastic”, Damon Albarn said.

Malam itu, Damon menampilkan performa luar biasa. Sebenarnya, performa standar yang biasa ia mainkan di sebagian besar konsernya. Tapi standarnya memang tinggi. Atau unik. Ia bertingkah liar seperti monyet, kadang tampak meratap, hingga turun dari panggung berbaur langsung dengan penonton. Penampilannya sama sekali tak terganggu meski ia sempat mengeluhkan cuaca yang panas, “maybe I should take this jacket off.” Statement yang langsung memancing mbak-mbak di belakang saya berteriak histeris, sangat kencang.

Alex banyak tersenyum, terlihat antusias dan sangat menikmati penampilan perdananya di Jakarta. Dave tampil sempurna. Graham bergulingan di atas panggung di lagu Popscene, memainkan noise gitar dengan gila di Caramel, dan seperti biasa, bernyanyi dengan suara cempreng di Coffee and TV.

Kalau ada keluhan, itu adalah sound system yang tidak optimal. Permainan gitar Graham beberapa kali bocor, bahkan sempat tidak terdengar. Untuk konser band legendaris sekelas Blur, seharusnya sound system jauh lebih baik.

Namun, karena ini konser Blur, ketidaksempurnaan itu seperti termaafkan. Semua pulang dengan wajah puas. Saya sendiri lemas karena kehabisan air minum sejak lagu ketiga. Bodohnya saya adalah tetap bernyanyi keras-keras sampai lagu terakhir, lagu ke-19. Tetapi saya fanboy. Maka biarlah saya berperilaku bodoh. Masa bodoh dengan kata orang.

blurjkt13photo courtesy: Majalah Detik Online