Beberapa waktu lalu, digelar acara penghargaan bagi pesepakbola Italia bernama Gran Gala Del Calcio. Pada acara ini, pemain-pemain terbaik dari musim sebelumnya diberi penghargaan atas prestasi mereka. Tidak hanya bagi pemain yang masih aktif, acara ini juga memberi Lifetime Achievement Award bagi pemain yang sudah pensiun. Dan tahun 2013, yang menerimanya adalah Filippo “Pippo” Inzaghi.

Kalau melihat rekor gol yang Pippo cetak selama sekitar 20 tahun berkiprah di sepakbola profesional, penghargaan itu terasa wajar. Ia masih pemegang rekor pencetak gol terbanyak kedua di seluruh kompetisi Eropa dengan 70 gol, hanya kalah dari Raul Gonzalez, dan terbanyak kelima sepanjang sejarah liga domestik Italia dengan 316 gol. Belum kalau menghitung trofi yang ia raih bersama timnya. Dua trofi Liga Champions, tiga Scudetto Serie A Italia, satu Piala Dunia bersama tim nasional Italia, dan piala-piala bergengsi lainnya seperti Piala Dunia Antar Klub, Piala Super Eropa, Super Italia, hingga Coppa Italia.

Bagi saya, bukan pencapaian-pencapaian itu yang membuat Pippo pemain istimewa. Alasan-alasan berikut yang menjadikan dia penyerang berkarakter unik.

1. Oportunis Sejati

Vikash Dhorasoo, mantan pemain tengah Milan, dan rekan bermain Pippo, pernah mengatakan berikut tentang Pippo, “c’est le mec à qui le poteau fait une passe décisive”. Artinya kurang lebih, “dia adalah tipe penyerang yang bisa membuat tiang gawang memberi assist padanya”. Penggemar sepakbola hampir mustahil melihat ia mendribel bola melewati banyak pemain sebelum mencetak gol. Pun sangat jarang, bahkan mungkin tidak pernah, ia membikin gol-gol spektakuler dari tendangan jarak jauh atau tendangan bebas melengkung indah. Ia hanya memanfaatkan sekecil, sesempit, semudah, seperti apapun peluang yang ada di depannya. Seringkali bahkan tinggal menceploskan bola dengan mudah ke gawang kosong menganga. Kalau melihat Juventus di akhir 90-an, skenario berikut tak jarang terjadi: Zizou Zidane menari-nari membingungkan pemain bertahan lawan, Alex Del Piero meliuk-liuk melewati beberapa orang, dan Pippo cukup menyentuh bola sedikit saja untuk menaruh namanya di papan skor. Entah dari mana datangnya bola itu, tak peduli operan, pantulan, atau blunder pemain lawan. Yang penting bikin gol.

zizoualex

2. Bergerak dari garis offside

Sir Alex Ferguson pernah memberi komentar tentang Pippo, This lad must have been born offside. Saking seringnya ia terjebak offside. Dulu ada ledekan, atau pujian, populer untuk Pippo. Ia akan offside sebanyak 11 kali, dan 11 kali itu pula ia memprotes hakim garis seperti  kehilangan seluruh hartanya, sampai pada percobaan ke-12 ia akan lolos dari jebakan offside lalu mencetak gol, dan tak lupa menutupnya dengan selebrasi bak juara dunia.

pippo1

Mungkin ia berpikir bahwa kalau dicoba terus, lama-lama bek lawan akan lengah juga, karena strategi jebakan offside memang membutuhkan kekompakan, konsentrasi, dan presisi. Atau barangkali ia menganggap hakim garis hanya manusia biasa yang matanya tak bisa terus-terusan menatap tanpa berkedip. Apapun alasannya, menurut saya, Pippo satu-satunya penyerang di era sepakbola modern yang berhasil membuat jebakan offside menjebak penjebaknya sendiri.

*buat yang lagi nyari kerja, pedekate atau ngajak balikan, formula Pippo di atas barangkali bisa ditiru, ngeyel dan tak henti mencoba*

3. Positioning

Johan Cruyff, legenda dunia sepakbola, pernah berkata, “Look, the thing about Inzaghi is he can’t actually play football at all. He’s just always in the right position”. Dalam skema Cruyff, pemain macam Pippo hampir pasti tidak akan mendapat tempat utama. Cruyff adalah peletak pondasi sepakbola Tiki Taka yang membawa Barcelona meraih banyak trofi saat ini. Pep Guardiola sendiri mengklaim Cruyff adalah gurunya. Sepakbola versi Cruyff adalah semua pemain akan bertahan dan menyerang bersama-sama, menguasai bola selama mungkin dengan umpan pendek dan rotasi posisi. Pippo? Ia seperti bukan siapa-siapa di luar kotak penalti.  Tak mungkin berharap ia berputar-putar seperti Messi, Villa, atau Pedro di Barcelona yang seringkali ikut turun ke bawah menjemput bola. Namun demikian, saat di kotak penalti lawan ia bisa bergerak mencari tempat yang tak pernah diduga pemain bertahan. Cepat dan senyap. Sebutlah “tahu-tahu ada di situ”, di tempat dan waktu yang tepat, lalu membikin gol.

4. Diving 

Jaap Stam, mantan pemain belakang terbaik Belanda, dalam otobiografinya juga pernah menulis statement tentang kegemaran diving Pippo, “cheats his way through a game”. Sentuh sedikit saja tubuhnya, maka ia akan jatuh seperti tertembak. Yang membuat saya tak habis pikir adalah, sudah berkali-kali Pippo diving, namun wasit-wasit Italia dan Eropa masih saja memberikan penalti atau tendangan bebas untuk timnya. Telah berulangkali pula ia jatuh dengan kesakitan yang nampak jelas dilebih-lebihkan, dan wasit masih saja percaya bahwa ia benar-benar disakiti. Jadi kalau dalam istilah politik, bisa dibilang diving-nya legitimate. Barangkali memang ia ahli dramatisasi. Dan kalau tak dikasih tendangan bebas atau penalti oleh wasit, siap-siap melihat gaya protesnya yang epic.

pippo2

Kini, tipikal penyerang seperti Pippo sudah sangat langka. Barangkali karena cara bermain sepakbola yang sedang populer saat ini memang tidak membutuhkan tipe penyerang macam Pippo. Penyerang yang tak henti mencari ruang di kotak penalti, oportunis sejati, ahli bermain di batas offside, sekaligus pandai manipulasi. Menurut saya, peninggalan Pippo untuk dunia sepakbola sangat berharga, yaitu dirinya. Dunia sepakbola pernah punya penyerang berkarakter unik dan berprestasi yang belum tentu akan ditemukan pengganti sepadannya dalam waktu dekat.