Pada suatu ketika di dunia paralel, tersebutlah sebuah negeri yang permai, damai, aman, dan sentosa. Rakyat yang tinggal di dalamnya hidup tenteram. Tidak seperti di negeri-negeri lain, standar kesejahteraan di negeri itu diukur dari berapa banyak pohon Theobroma Cacao yang dimiliki tiap rumah tangga. Semakin banyak pohon itu tertancap, semakin kaya seseorang. Negeri itu dipimpin oleh seorang Presiden yang dipilih sekali setelah lima belas kali musim hujan, secara langsung oleh rakyatnya. Calon Presiden yang akan mengikuti pemilihan harus memenuhi syarat utama, yaitu bahagia dan bisa membagi kebahagiaannya.

Negeri itu bernama Republik Cokelat.

Alkisah, pada suatu hari di akhir musim hujan kelimabelas, Presiden Republik Cokelat nampak murung. Bukan karena ia akan kehilangan kekuasaan setelah pergantian musim. Bukan itu. Ia sedih karena merasa gagal. Produksi cokelat negerinya selama ia memimpin memang masih tertinggi di seluruh dunia. Negara lain pun tetap mengakui cokelat olahan negerinya sebagai yang terlezat di seluruh semesta. Bahkan, sesaat sebelumnya, Konferensi Internasional Untuk Kebahagiaan memberinya hibah uang dalam jumlah sangat besar untuk proyek-proyek penelitian dan pengembangan Theobroma Cacao.

Presiden Bapak, begitu ia biasa dipanggil, bersedih karena masih ada rakyatnya yang tidak makan cokelat tiap hari. Ia ingat janji-janjinya saat kampanye Presiden limabelas musim hujan sebelumnya, bahwa seluruh rakyat di Republik Cokelat bisa menikmati cokelat, minimal sebatang sehari. Saat menerima laporan dari Menteri Energi Positif dan Sumber Daya Kakao, ia sebenarnya berhak tersenyum lebar selebar-lebarnya karena konsumsi cokelat per kapita naik tinggi dan koefisien pengukur disparitas menunjukkan angka nol koma nol nol nol nol nol nol satu, atau hampir tidak ada ketimpangan. Dengan kata lain, janji-janji Presiden Bapak tercapai nyaris sempurna.

Namun demikian, ia tidak bisa tersenyum lega. Penyebabnya adalah, putrinya sendiri yang justru tidak mau lagi makan cokelat. Bagaimana mungkin? Bahkan rakyat termiskin di tempat paling terpencil di negerinya pun telah mampu makan cokelat tiap hari. Tetapi putrinya sendiri, yang ada di depan matanya hampir tiap pagi, justru tidak. Dan sang putri bukannya tidak suka cokelat, sejak kecil dia gila cokelat, bahkan kata teman-teman mainnya, konon dia bisa bicara dengan pohon Theobroma Cacao. Tetapi belakangan dia enggan menjamah cokelat. Presiden Bapak bingung, ada apa gerangan dengan sang putri.

Putri Tania namanya. Ia tak sunggingkan senyum sejak cukup lama. Orang-orang istana tak benar tahu alasannya. Sebenarnya keinginan Putri Tania sederhana, sesuatu yang bapaknya tak tahu, ia hanya ingin dilukis. Bukan, bukan berarti dia tak pernah dilukis. Pelukis-pelukis terbaik dari penjuru negeri pernah mengabadikan wajahnya yang luar biasa. Dari berbagai sudut, pelukis-pelukis itu selalu mampu menerjemahkan kecantikannya. Sebab dia memang cantik. Seimbang kadarnya dengan senja.

Kali ini dia ingin membingkai kesedihan di wajahnya. Sial, hampir semua pelukis di negerinya gagal mewujudkan keinginan itu. Wajar saja, di Republik Cokelat, Gross National Happiness benar-benar tinggi. Bagaimana mungkin menemukan pelukis yang bisa membayangkan kesedihan, sedangkan setiap saat, setiap tempat, di negeri itu semua tentang binar bahagia?

Didorong keinginan kuat untuk mengabadikan kesedihannya sendiri, pada suatu pagi, pergilah Putri Tania ke negeri seberang selat, The United States of Loneliness, USL. Negeri ini dibentuk oleh lima belas states yang sama-sama berideologi Sepisme. Konstitusi mereka adalah GBKN, Garis-garis Besar Kesunyian Negara, yang dirancang oleh Majelis Sepistik, sekumpulan pemimpin spiritual mereka. Konon, di negeri USL, semua rakyatnya terlahir alergi pada kegaduhan. Maka, Putri Tania berpikir bahwa di USL-lah akan dia temukan pelukis kesedihan.

Maka tibalah dia di SolitaryTown, ibukota USL. Negeri itu seharusnya asing baginya, tapi tidak saat itu. Mungkin karena dia sedang tak bahagia, dan telah lama tak makan cokelat. Lalu dia sebarkan pandangnya ke tiap sudut kota. Tatapnya terhenti di sebuah galeri. Dinding luar galeri itu berwarna kelabu. Pagarnya kelabu tua. Gentengnya kelabu tua sekali. Pintunya hitam, setengah terbuka.

Putri Tania lalu masuk ke dalamnya. Dilihatnya seorang pemuda duduk dengan sebuah kanvas kosong tepat di satu sudut dimana sorot matahari menyeruak serupa sinar senter raksasa. Putri Tania tak langsung menghampirinya. Dia lihat dulu satu persatu lukisan yang digantung di galeri. Semua bicara tentang kesedihan. Hingga takjublah Putri Tania. Dia belum pernah melihat kesedihan bisa jadi seindah itu.

“Maukah kau melukisku?”, tanya Putri Tania.

“Aku sudah sekian lama melukis kesedihan. Belum pernah kulihat kesedihan seperti yang ada di wajahmu itu.”, jawab si pemuda.

“Memang ada apa di wajahku?

“Ada yang aneh. Kau siapa? Dari mana?”

“Aku Putri Tania dari Republik Cokelat”

“Aku selalu melukis orang-orang dari negeriku. Orang-orang yang sejak lahir berkawan kesepian. Mudah bagiku melukis wajah mereka. Tapi kau, kau datang dari kumpulan orang-orang bahagia. Entah bagaimana kesedihan bisa terpancar kuat di wajahmu.”

“Kami percaya cokelat adalah sumber kebahagiaan. Maka aku berhenti makan cokelat agar tak bahagia lagi”

“Kenapa kau melakukannya?”

“Aku bosan memigura kebahagiaan. Aku ingin membingkai kesedihan. Aku belum punya itu.”

“Agar lukisan wajahmu lengkap?”

“Ya. Maka lukisan wajahku akan lengkap.”

“Baiklah. Aku cuma minta satu hal sebagai bayaran.”

“Apa itu?”

“Setelah selesai nanti, jelaskan padaku, sejelas-jelasnya, seterang-terangnya, sebanyak-banyaknya tentang kebahagiaan.”

Putri Tania terdiam. Dia tahu persis kebahagiaan itu bisa dirasa, bisa dibagi, bahkan bisa dibangun. Sama tahunya bahwa dia sangat mengenal kebahagiaan karena sejak lahir ia berkawan dengannya. Tapi, dia tak pernah mampu menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan kebahagiaan. Seperti saat makan cokelat, lidahnya bisa menafsirkan rasa manis, tekstur lembut, tapi  tentang munculnya kebahagiaan dari segigit cokelat, Putri Tania selalu kesulitan menjelaskannya. Dia berpikir, barangkali, barangkali saja, kebahagiaan memang hanya bisa, dan hanya perlu, dirasa.

“Putri?”

Ia masih terdiam.

——————————###———————————

*kesamaan nama hanya fiktif belaka, namanya juga dongeng.