Aku pernah mendefinisikan ruang sebagai sebuah dimensi abstrak yang kontekstual dan multiinterpretatif dimana di dalamnya manusia berproses, baik melalui pikiran, perasaan, naluri, maupun perilaku. Aku tentu tidak melakukannya tanpa sebab. Waktu itu aku sedang mengikuti  diklat tentang planning yang diselenggarakan kantor. Pada suatu sesi, pengajar perencanaan spasial menyuruh para peserta untuk menuliskan apa yang ada di pikirannya saat mendengar kata ruang. Jawaban di atas kemudian muncul di kepalaku. Dan saat pengajar memberi definisinya, jawaban itu ternyata cukup jauh berbeda.

Memaknai ruang itu tidak mudah sejujurnya. Ruang dalam perspektifku memang tak nyata. Teman-temanku peserta diklat yang mayoritas adalah alumni fakultas teknik melihat ruang sebagai sesuatu yang membingungkan dan oleh sebab itu harus dikonkretkan. Proses itu bukan tak mungkin. Dalam pendekatan spasial rupanya, ruang bisa menjadi konkret saat dipahami sebagai tempat, lokasi, wilayah, kawasan, dan bahkan jika hanya ditambah akhiran “-an” saja, ruangan, bisa jadi sangat jelas batasan-batasannya.

Namun tidak denganku. Aku masih tetap melihat ruang itu batasnya tak jelas.

Kalaupun ada batas, ia lebih longgar dari perbatasan Indonesia-Malaysia di pelosok hutan Kalimantan dimana orang bebas melintas, dan tapalnya bisa digeser-geser sedemikian rupa, seolah-olah tidak ada, atau tidak penting. Saat menulis ini misalnya, aku sedang berada di ruang imajinasi, yang tak tersentuh pancaindera. Namun, secara paralel aku juga tengah berkutat di ruang pengetikan, antara mata, tangan, dan program microsoft word di komputer. Pun ketika duduk di kursi penumpang dekat pintu darurat di dalam pesawat udara yang kepayahan menembus cuaca buruk, aku berada di ruang ketakutan sendiri, sambil sesekali mencoba masuk ke ruang kepasrahan, sekaligus juga berada di ruang sistemik penyelamatan diri dari kecelakaan, bersama penumpang-penumpang lain dan kru pesawat. Fleksibel.

Pada saat ini, aku sedang berada di sebuah ruang kecil, abstrak tentu saja. Aku menyebutnya ruang-kecil-yang-damai-dan-membahagiakan. Ruang kecil yang hanya ada dua orang di dalamnya. Dengan satu-dua-tiga-empat tetangga yang jinak dan baik. Namun, tanpa kuduga, ternyata ruang kecil itu secara tega melemparku masuk ke sebuah ruang lain, ruang ketakutan. Ruang yang memintaku untuk khawatir bahwa ruang-kecil-yang-damai-dan-membahagiakan itu akan berubah menjadi ruang-berantakan-yang-gaduh-dan-menekan. Bahkan pada dinding yang lain, ruang itu menebar teror, bagaimana kalau ruang-kecil-yang-damai-dan membahagiakan itu hilang dari hidupku?

Jadi, ruang-kecil-yang-damai-dan-membahagiakan itu menyuruhku masuk ke ruang lain yang di dalamnya aku dijejali pemahaman bahwa ruang-kecil-yang-damai-dan-membahagiakan itu akan binasa? Wow.

Barangkali, ruang-kecil-yang-damai-dan-membahagiakan itu memang hanya ingin aku tahu bahwa eksistensinya tak abadi. Bahwa ia bisa hilang sewaktu-waktu. Bahwa ia bisa menjadi begitu gaduh. Jadi, bersiaplah untuk itu semua. Atau jangan-jangan ruang-kecil-yang-damai-dan-membahagiakan itu justru ingin melenyapkan diri. Maka dimasukkannya aku ke ruang ketakutan, agar aku goyah, menyerah, dan bertahan di ruang ketakutan sampai lupa untuk kembali.

Ah. Aku menilai terlalu tinggi. Ruang ketakutan itu ternyata tak jahat-jahat amat. Seperti halnya ruang-kecil-yang-damai-dan-membahagiakan yang mendorongku ke ruang ketakutan, ia pun menyepakku ke ruang lain, ruang keberanian. Ruang yang membalik semua yang kudapat di ruang ketakutan. Ruang yang menyemangatiku untuk percaya bahwa kekhawatiran itu sama rapuhnya dengan tumpukan kartu remi setinggi Monas, cukup ditiup dan runtuh.

Pertanyaan lain muncul di kepalaku kemudian, apakah ruang keberanian akan mengirimku lagi ke ruang lain? Barangkali iya. Mungkin saja tidak. Kalau iya, apa itu? Ruang kerapuhan? Ruang bimbang? Entah. Atau di sini, di ruang keberanian ini, aku akan tinggal selamanya? Kupikir tidak juga.

Ruang-kecil-yang-damai-dan-membahagiakan itu semacam sebidang tanah, cukup luas. Aku senang menari-nari di atasnya. Saat senja maupun saat hujan. Segala jenis tarian. Lalu ruang ketakutan, diam-diam, menggali lubang. Aku yang tengah menari gila terperosok ke dalamnya. Kemudian muncul ruang keberanian dalam bentuk tangga dan cangkul. Aku lalu memanjat kembali ke ruang-kecil-yang-damai-dan-membahagiakan sambil menutup lubang. Aku menari-nari lagi. Terperosok lagi. Naik lagi. Menari-nari, terperosok, naik lagi. Menari, terperosok, naik. Berulang.