Malam itu (14/09/2012) di ruangan yang juga saya masuki sekitar dua tahun lalu bersama map berisi berkas lamaran kerja di kantor ini, dibangun sebuah panggung yang tak terlalu tinggi pun luas. Panggung itu adalah tempat untuk semacam lomba menyanyi dimana babak finalnya akan ditutup oleh live performance salah satu band senior Indonesia, KLa Project.

KLa Project adalah salah satu band yang ingin saya tonton penampilan live-nya, merujuk pada reputasi besar mereka dalam melakukan konser. Faktanya, merekalah salah satu band dengan album live tersukses sepanjang sejarah musik Indonesia yang mereka dapat dari penjualan album ganda Klakustik (1996). Klakustik adalah album monumental yang direkam secara langsung dari konser akustik mereka di Gedung Kesenian Jakarta, 11 Maret 1996. Bagi saya, kesempatan menonton live performance mereka adalah sebuah keberuntungan yang tentu tak mungkin saya lewatkan.

Gig KLa Project malam itu dibuka dengan lagu “Gerimis”, sebuah lagu dari album Klakustik. Setelah “Gerimis” membuat penonton sedikit ‘basah’, menyusul kemudian berturut-turut tanpa jeda selama sekitar sejam adalah hits-hits dari jaman keemasan KLa dahulu, seperti “Menjemput Impian”, “Terkenang” dan “Lagu Baru”. Permainan solo-sax yang menyayat oleh additional musician mereka menjadi mukadimah yang tepat untuk lagu “Terpurukku Di Sini”. Lalu Lilo, yang malam itu kerap melawak bak comic walaupun garing, bernyanyi full satu lagu pada “Meski Tlah Jauh”. Adi Adrian tak ketinggalan menunjukkan skill-nya bermain keyboard pada lagu “Semoga”. Menjelang akhir pertunjukan, “Tak Bisa Ke Lain Hati” disuguhkan dalam aransemen yang lebih rancak dari versi aslinya maupun versi Klakustik. Dan seperti telah diduga, “Yogyakarta” menjadi penutup yang manis untuk gig malam itu.

Performa Kla malam itu memuaskan. Katon Bagaskara sebagai frontman tampil enerjik dan ekspresif, sama sekali tidak menunjukkan usianya yang sudah lebih dari 45 tahun. Ia secara cerdik selalu berhasil mengajak penonton untuk singalong di bagian-bagian lagu yang memang catchy. Format panggung yang tak terlalu tinggi dan ruangan yang relatif kecil membuatnya dapat turun dari panggung untuk bergabung dengan crowd di lagu “Tak Bisa Ke Lain Hati” dan memberi kesan tersendiri bagi para penonton yang bernyanyi bersama, bersalaman atau memfotonya dari dekat. Lilo, yang sekarang telah menjadi gitaris senior negeri ini, membawakan permainan gitarnya secara nyaman dengan teknik yang sangat baik. Pada beberapa lagu, distorsi gitarnya menyempurnakan lagu yang bernuansa melankolik dengan apik. Pekerjaan yang tidak mudah. Pun demikian Adi Adrian, improvisasinya dalam memainkan tuts selalu mengundang tepuk tangan dari penonton.

Bagi saya, penampilan Kla malam itu merupakan pertunjukan musik yang sebagaimana mestinya.  Tidak lipsync atau minus-one. Memainkan musik secara bertanggungjawab yang ditunjukkan dengan cara bernyanyi dan memainkan instrumen yang nyaris tanpa cacat. Penuh improvisasi tanpa mengubah ciri khas lagu yang membuat lagu-lagu lama terasa segar kembali. Pun punya plot yang tidak flat karena dibuka dengan beat sedang lalu naik dan turun di beberapa part setelahnya hingga kemudian mencapai klimaks di dua lagu terakhir.

Tepat sesaat setelah lagu pamungkas usai, Katon berkata “Matur nuwun semuanya. Gusti Pengeran sing mbales”. Dan saya cuma bisa berteriak membalas, “sami-sami”. Sebab saya juga berterimakasih untuk pertunjukan kesenian mereka yang sederhana namun jujur, sebagai KLa Project yang mempresentasikan musik KLa Project, tanpa perlu menjadi yang lain. Saya jadi berpikir, barangkali orisinalitas yang kini makin langka itu akan muncul menyeruak saat jauh dari highlight yang berlebihan.