6 Juli 2012. Pada Sabtu itu, saya bersama tiga orang kawan mengunjungi pesta pernikahan satu kawan lain di ibukota Provinsi Kalimantan Tengah, Palangka Raya. Bukan kawan saya yang menikah itu yang saya maksudkan di judul tulisan ini, ia 100% Homo Sapiens.

Singkat cerita, setelah sesi foto-foto, Soto Banjar dan makan-minum-enak-karena-gratis khas resepsi pernikahan, kami melanjutkan hari itu dengan jalan-jalan. Tujuan kami adalah sebuah tempat wisata cukup terkenal di sana yaitu Bukit Tangkiling. Dalam perjalanan menuju Tangkiling, kami sempatkan mampir ke sebuah tempat bernama Pusat Reintroduksi Orang Utan Nyaru Menteng yang berada di bawah pengelolaan Yayasan Borneo Orang Utan Survival (BOS).

Saya mencoba mengingat dialog kami dengan seorang penjaganya, mirip pencipta lagu Dewiq tapi dalam versi lebih berisi, yang waktu itu ditemani oleh seorang lagi, mirip Pay, hehehe, kebetulan yang unyu kan kakak? Dan memori saya masih cukup normal untuk tidak mengingat seluruh detail perbincangan kami. Namun demikian, ada hal-hal menarik yang rupanya masih menempel di kepala saya. Beberapa lalu saya cuplik dan saya taruh di bawah ini.

P (Penjaga): Selamat datang. Silahkan masuk.

A (aku), S, W, J (kawan-kawan saya): Sore Mbak.

A: sudah mau tutup ya mbak?

P: Iya nih mas

S: boleh ya mbak, ganggu sebentar

P: boleh mas, 10 menit aja ya..

P: habis feeding kita mas.

Kami: Ooooh..

S: Berapa tahun mbak umur rata-rata Orang Utan di sini?

P: Yaa, masih sekitar 6 sampai 7 tahun.

S: Woh, saya kira sudah pada dewasa mbak?

P: gak mas, kalau yang sudah dewasa itu badannya besar. Beratnya lebih dari 75 kilo.

S: Sama kayak W dong.

W: aku 85 coy.

P: mereka memang besar Mas, kan masuk dalam golongan great apes, selain Gorilla dan Simpanse di Afrika sana. Satu-satunya anggota great apes di Asia ya Orang Utan ini.

A: Mereka didapat dari mana mbak?

P: Mereka hasil sitaan. Ada yang dari perorangan, karena kan memang ada larangan untuk memelihara Orang Utan. Sama dari perusahaan juga.

A: Oooh..

P: Waktu ditemukan itu kebanyakan stress Mas. Bahkan gak sedikit juga yang kondisinya memprihatinkan. Ada yang fisiknya hancur. Nah, di tempat ini mereka dipulihkan kondisinya di kandang karantina dulu. Kalau sekiranya sudah lebih baik, kami masukkan mereka ke kandang sosialisasi agar mengenal teman-temannya. Setelah terlihat siap bertahan hidup di hutan, mereka kami latih hidup liar di semacam pulau singgah, kalau di Kalteng di Pulau (?), Sungai Rungan. Jadi di sana mereka mulai dilepas ke semacam hutan, tapi tetap masih kami beri feeding dua kali sehari, pagi dan sore.

S: Di sini gak ada yang sudah berpasangan ya Mbak?

P: belum ada kalau yang di sini. Kalau di Pulau ada. Ada yang punya bayi juga di sana.

S: hubungan pejantan-betinanya gimana mbak?

P: si pejantan gak cuma hidup sama satu betina. Dia bisa kawin sama banyak betina. Orang Utan kan bukan tipe hewan monogami. Kira-kira, satu jantan bisa mengawini 20-an betina.
*probably the hottest male in primate order! Faktanya sebagian pejantan manusia cari satu pasangan aja susaaaaah, trus gampang galau, malah sampai ada yang mau bunuh diri… coy, serius, malu sama orangutan!*

J: Orang Utan ada yang gay juga gak mbak?
*the hell! taruhan pasti gak ada yang nanya kayak gini sebelum kawan saya ini*

P: oh, ada mas. ada yang waktu di konservasi dikandangin sesama pejantan, trus jadi gay.

S: tempat ini di bawah NGO atau Pemerintah mbak?

P: kami NGO, tapi memang ada dukungan dari Pemerintah. Tapi kalau soal pendanaan, dari Pemerintah nol. Hahaha. Pembiayaannya itu terutama dari pihak luar negeri seperti  Denmark dan Australia. Kalau mau ikut menyumbang bisa Mas, kunjungi saja website kami di www.orangutan.or.id. Di sana ada film tentang orang utan dan cara-cara donasi untuk membantu orang utan juga.

— —

Setelah kunjungan ke sana, saya mencari info lebih lanjut tentang Orang Utan, dan saya menemukan banyak fakta yang tak saya ketahui sebelumnya. Misalnya, Orang Utan Kalimantan (Pongo pygmaeus) itu berbeda spesies dengan Orang Utan Sumatera (Pongo abelii). Orang Utan Kalimantan pun terbagi lagi menjadi 3 sub-spesies berbeda. Selain itu, ternyata kekerabatan kita dan Orang Utan cukup dekat. Bahkan, beberapa sumber menyebutkan kalau 97% DNA Orang Utan sama dengan DNA manusia. DNA apaan sih Kak? Click here for the answer adek lucu.. Nah, kalau berdasarkan ilmu taksonomi, bila digambarkan dalam skema pohon keluarga, kedekatan kita dengan Orang Utan adalah seperti ini:

Belakangan ini, saya sering mendengar kabar buruk menyangkut Orang Utan. Sebagian media mengabarkan pembantaian keji terhadap mereka oleh pekerja perkebunan sawit di Kalimantan. Dalam berita itu, dikabarkan bahwa pemilik perkebunan sawit akan membayar sejumlah uang untuk tiap kepala Orang Utan sebagai imbalan ‘pemberantasan hama’. Hal itu diperparah oleh kenyataan bahwa mereka juga diburu untuk dijadikan hewan peliharaan. Jumlah Orang Utan saat ini kira-kira lebih kecil dari 30.000 jiwa yang tersebar di Sumatera dan Kalimantan. Di Sumatera sekitar 6.500 – 7.500 individu dan di Kalimantan sekitar 12.000 – 13.000 individu. Memang terdapat berbagai versi mengenai jumlah Orang Utan yang masih eksis, tetapi trendnya sama bahwa terjadi penurunan yang drastis sejak tahun 2004 dimana saat itu diperkirakan masih ada sekitar 57.000 Orang Utan bergelayutan di hutan-hutan Indonesia.

Saya jelas tak punya otoritas maupun legitimasi untuk menitahkan kawan-kawan sesama manusia agar lebih peduli kepada kerabat dekat kita itu. Saya, melalui tulisan ini, hanya bisa menyampaikan bahwa kita perlu, sedikiiit saja, care pada nasib mereka. Lalu kenapa kita harus peduli? Baiklah, berikut alasannya:

Agar terus hidup, kita tentu butuh tempat yang nyaman untuk ditinggali. Supaya tetap menjadi tempat yang nyaman bagi kehidupan, bumi perlu ekosistem dan ekosistem hanya ada jika elemen-elemennya ada. Salah satu elemen penting itu adalah hutan hujan tropis, yang 3 diantara 7 hutan utama itu terdapat di Indonesia. Nah, lalu di mana posisi Orang Utan?

1. Orang Utan dapat menjadi spesies payung untuk konservasi hutan hujan tropis. Hutan yang dihuni Orang Utan dengan kepadatan 1 hingga 5 ekor tiap kilometer persegi dapat menyediakan habitat bagi paling sedikit 5 jenis burung rangkong, 50 jenis pohon buah-buahan, 15 jenis liana, dan berbagai hewan lainnya.

2. Orang Utan dapat pula disebut sebagai penopang kelestarian hutan, ada beberapa alasan untuk itu, pertama karena Orang Utan adalah pemakan buah yang menjelajahi satu pohon ke pohon lainnya sehingga membantu proses regenerasi tumbuh-tumbuhan. Kedua, Orang Utan juga memakan biji. Biji yang dimakan lalu tercampur dalam kotoran mereka sehingga memungkinkan tumbuhnya tanaman baru dan dengan demikian membantu regenerasi hutan. Ketiga, Orang Utan terbiasa ‘makan dalam perjalanan’, yaitu dengan ‘bertarzan’ -bergelantungan pada pepohonan-. Nah, pada saat itu seringkali mereka membuang biji di tempat yang jauh dari pohon induknya sehingga merekapun telah membantu penyebaran area populasi pohon.

Menurut saya yang naif ini, kontribusi Orang Utan bagi kehidupan umat manusia seharusnya kita balas dengan kepedulian. Namun, jika pandangan seperti itu dianggap tidak relevan di era nan materialistis ini, bagaimana jika argumentasinya adalah demikian: bahwa kepedulian kepada mereka berarti kepedulian untuk kehidupan kita dan anak cucu di masa depan. Sebab keberadaan Orang Utan akan menjaga keseimbangan alam yang berarti menjaga kelangsungan kehidupan di bumi, yang berarti pula menjamin kehidupan anak cucu kita. Manusia, sebagai primata paling jenius, bisa saja mengemukakan jutaan pembenaran untuk membunuhi Orang Utan, tapi tidak ada pembenaran apapun untuk ‘membunuhi’ anak cucu sendiri. Apalagi cuma untuk kepentingan sesaat.

Mau ikut membantu orang utan. Silakan kunjungi http://www.orangutan.or.id atau http://www.wwf.or.id/cara_anda_membantu/bertindak_sekarang_juga/supporterwwf/about_supporter/sahabat_orangutan/.