Pada tahun 1509, seorang Portugis bernama Alfonso De Albuquerque mendaratkan kapal beserta armadanya yang tangguh di Pelabuhan Malaka, bagian utara pulau Sumatera, hingga kemudian menguasai wilayah strategis itu dalam waktu dua tahun. Perjalanan Alfonso, serupa dengan bangsa-bangsa Eropa lain di jaman itu, adalah untuk sebuah misi yang dalam buku sejarah ditulis sebagai gold-gospel-glory.

Sekitar lima abad kemudian, seorang Portugis lain bernama Christiano Ronaldo mengulang kehadiran Alfonso di ujung utara Sumatera. Tentu dengan cara yang sangat berbeda. Ronaldo tidak butuh waktu berbulan-bulan, tidak perlu menghadapi ombak besar dan makhluk semacam Jack Sparrow atau Davy Jones. Ia cuma perlu waktu kurang dari satu harmal dengan duduk manis di kursi pesawat terbang dan dilayani pramugari-pramugari cantik.

Tujuannya pun lain. Ronaldo hadir atas nama kemanusiaan. Ia akan menemui sahabat barunya, Martunis. Siapakah Martunis? Fujiko Fujio adalah seorang martunis. Itu kartunis bang, gariiing. Oke, fokus ke topik.

Martunis adalah seorang anak Aceh yang selamat dari tsunami besar tahun 2004. Ia ditemukan oleh seorang wartawan sebuah media Inggris setelah selama 19 hari surviving di tempat yang jauh dari rumahnya. Saat ditemukan, ia sedang memakai kaos tim nasional Portugal. Media Inggris membawa kabar itu ke Eropa. Simpati bangsa Portugis, juga beberapa selebriti dunia seperti Celine Dion dan Madonna, segera mengalir. Salah satu perhatian yang ia dapat, selain bantuan uang dan undangan menonton langsung pertandingan tim nasional Portugal, adalah kunjungan Ronaldo ke tanah kelahirannya. Kostum tim nasional Portugal, bajakan, telah membawa keberuntungan bagi Martunis yang habis ditimpa musibah.

Pertanyaannya kemudian adalah kenapa seorang Martunis, yang lahir dan tumbuh  di Aceh, yang tak pernah ke Portugal, dan bukan keturunan Portugis, bisa memakai kostum tim nasional Portugal? Bukankah semestinya Martunis memakai kostum tim nasional Indonesia atau Persiraja Banda Aceh, atau PSAP Sigli, alih-alih tim Portugal.

Martunis memakai kaos timnas Portugal karena ia memang mengidolai tim nasional Portugal. Sama seperti sejumlah teman kantor saya yang mengidolai klub-klub dari Eropa dan memakai kostumnya di lapangan futsal. Sama juga dengan orang Pasuruan yang mengibarkan bendera Belanda di depan rumahnya pada saat Euro 2012 berlangsung dan baru menurunkannya setelah striker Jerman Mario Gomez dua kali menjebol gawang Marten Stekelenburg (orang ini seharusnya ingat kalau pada tahun 1945 arek-arek Suroboyo nekat memanjat tiang di atas gedung bertingkat untuk merobek warna biru pada bendera Belanda, come on dude, jasmerah!).

Sebenarnya apa yang terjadi sehingga tim itu-itu bisa diidolai orang-orang yang berjarak ribuan kilometer dari stadion mereka? Mari sejenak menilik ke belakang. Dahulu, pada awal hingga pertengahan abad 20, Manchester City adalah identitas dan kebanggaan bagi penggemar sepakbola di tengah kota Manchester. Saat ini klub itu jadi kebanggaan bagi ‘anggota’ baru mereka yang berasal dari seluruh belahan dunia, dari Abidjan di Pantai Gading sampai Semarang di Jawa Tengah, sesuatu yang pasti tak terbayangkan oleh pendiri klub itu. Kalau dulu timnas Italia di era Mussolini adalah cuma milik rakyat Italia, maka sekarang pemuda Bogor pun berhak ikut tertawa saat Andrea Pirlo menipu Joe Hart di perempatfinal Euro 2012 dan bisa turut menangis kala Italia disiksa Spanyol di babak final. Orang Abidjan dan pemuda Bogor itu tak perlu pernah singgah di Manchester atau Turin, atau memiliki ikatan lainnya dengan kota-kota itu, mereka hanya perlu menonton siaran langsung pertandingan sepakbola di televisi untuk menggilai sebuah tim. Dapat disebut bahwa distribusi emosi dalam sepakbola saat ini batasnya tak lagi jelas. Dimanapun berada, betapa jauhpun dari muasal tim idolanya, setiap anak manusia bisa mengikatkan emosinya pada tim-tim itu, yang lalu dimanifestasikan dengan dukungan dan pembelaan.

Secara demikian, bisakah disebut bahwa sepakbola telah membawa sebuah identitas baru? Bayangkan jika Martunis dilahirkan di jaman sebelum ada siaran langsung sepakbola, identitas yang mungkin melekat padanya adalah: orang Indonesia, orang Aceh (secara primordial), orang Banda Aceh (secara geografis), orang Islam (secara keagamaan), anak SD (secara strata pendidikan), dan lain lain. Namun karena ia dilahirkan di sebuah era dimana siaran langsung Liga Inggris dapat dinikmati secara gratis setiap akhir pekan, maka ia bisa memiliki identitas lain yang sifatnya tidak melekat sejak lahir, yaitu sebagai suporter Manchester United. Identitas itu terutama menjadi jelas, misalnya saat ia membela tim tertentu dari serangan verbal kawan-kawannya, saat memakai kostum tim itu dengan rasa bangga, atau saat rela tidak tidur/bangun tengah malam demi menonton pertandingan tim tersebut dan tidak melakukannya untuk tim lain.

Lalu bagaimana sepakbola bisa melahirkan identitas baru? Saya ingat sebuah kalimat berikut, popularitas dapat dicapai dengan dua jalan, prestasi atau sensasi. Sepakbola memiliki keduanya. Sepakbola adalah dunia prestatif. Seseorang akan dibilang sukses sebagai pesepakbola jika ia berprestasi. Fernando Torres mendapat hadiah Sepatu Emas Euro 2012 karena prestasinya membuat tiga gol dalam 5 pertandingan. Messi, Ronaldo, dihargai karena prestasinya sebagai pencetak gol terbanyak di liga Spanyol. Di sisi lain, sepakbola juga bisa lebih sensasional dari Dewi Perssik, digabung sama Jupe Perez sekalipun. Sepakbola selalu diiringi kontroversi. Misalnya saat Maradona mencetak gol menggunakan tangan di Piala Dunia ’86 yang disahkan wasit dan menyingkirkan Inggris dari turnamen. Atau tentang Andeas Escobar yang dibunuh penjudi yang kalah taruhan akibat gol bunuh dirinya di Piala Dunia ’94 menggagalkan kemenangan Kolombia sekaligus si penjudi itu. Semua hal tersebut menyebabkan sepakbola menjadi headline. Kenapa? Karena media suka sensasi. Makin kontroversial, makin membuat penonton atau pembacanya terlibat secara emosional, maka makin besarlah potensi keuntungan secara finansial yang bisa diraup. Simbiosis mutualisme? Mungkin.

Jadi menurut saya, media mempunyai kontribusi tertinggi dalam mengglobalkan sepakbola hingga  bisa melahirkan identitas baru.  Sepakbola sendiri kini telah berkembang menjadi industi raksasa dengan perputaran kapital yang luar biasa. Apakah kemudian identitas baru itu terbentuk dengan sendirinya, atau dikonstruksikan oleh orang-orang yang menikmati keuntungan dari perputaran kapital itu, masih perlu kajian yang lebih komprehensif. Yang jelas, sepakbola telah menghadiahi peradaban manusia hiburan, gairah, hingga identitas baru.