Sepi, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti a sunyi, lengang; tidak ramai, tidak ada orang kendaraan dan sebagainya; tidak banyak pekerjaan, tidak hebat di medan perang, tidak ada apa-apa, tidak ramai pasar perdagangan, tidak banyak pembeli, tamu dan sebagainya; pasar sepi: perdagangan sepi; dianggap sepi: tidak dihiraukan sama sekali; menyepi: bersepi-sepi ke tempat yang sunyi, mengasingkan diri.

Sepi, dalam Tesaurus Bahasa Indonesia, mempunyai padanan kata a 1 hening, lengang, mati, nyenyat (arkais), ranah (Minangkabau), senyap, sirep (Jawa), sunyi, tenang; adem ayem; diam; 2 hambar, hampa, kosong (tentang perasaan); 3 encer; enteng; kecil; rendah; daif, hina, remeh, sepele.

Sepi, dalam Bahasa Inggris bisa berarti lonely, dalam Bahasa Belanda eenzaam, Bahasa Catalan solitari, Bahasa Swedia ensamme, Bahasa Ibrani aku tidak tahu karena di Google Translate ditulis dalam huruf Ibrani,  Bahasa Korea aku juga tak paham dengan alasan yang sama.

Sepi, dalam pikiranku saat ini, adalah hal abstrak yang sangat brengsek. Lebih brengsek dari seorang pesulap Inggris pada Perang Dunia II yang aku lupa namanya. Orang ini, konon, secara brilian membangun Alexandria palsu untuk menipu angkatan udara Jerman agar Pelabuhan Alexandria asli tidak diserang sehingga perbekalan untuk tentara Sekutu yang berperang di Afrika Utara dapat didaratkan di sana, tidak hancur duluan karena dibom. Brengsek memang, pesulap itu berhasil menipu pasukan sang rubah gurun dari Jerman, Erwin Rommel, yang sebelumnya hampir tak pernah kalah dalam perang.

Tapi masih lebih brengsek sepi.

Sepi adalah saat aku semestinya tidur pulas setelah capek main bulutangkis dan besok harus bangun pagi untuk bekerja, tapi tidak bisa. Tiba-tiba memejamkan mata jadi begitu menyebalkan. Tiap aku tutup mata, tiap itu pula aku makin tak bisa tidur. Aku bosan buka-tutup mata. Kalau buka-tutup toko sih bisa dapat untung, buka-tutup lensa kamera bisa jadi foto, buka-tutup album lama bisa tersenyum sendiri, tapi ini tidak. Kucoba cara lain saja. Kumatikan lampu. Kunyalakan lagi. Kumatikan lagi. Nyalakan saja. Matikan dong. Nyalakan! Matikan! Kubuka laptop.

Sepi adalah saat aku sadar bahwa sekarang  sudah hampir jam dua pagi dan masih juga tidak jelas apa yang akan aku lakukan. Ada nyamuk-nyamuk yang menemaniku sebenarnya. Sayang mereka bersuara dengan buruk. Menguing secara disharmonis. Padahal aku mau saja menyumbang sedikit darahku untuk mereka. Tapi aku takut. Khawatir, jangan-jangan darahku nanti dibawa ke markas besar para nyamuk Rawamangun, lalu dipakai jadi bahan penelitian. Lalu mereka jadi mutan. Mosquitos akan menguasai dunia. Aku tidak rela. Jangan sampai dunia dikuasai makhluk yang tuli nada. Jadi sebaiknya kupasang obat nyamuk cair saja.

Sepi adalah saat aku tadi naik motor di jalanan Jakarta dan merasa seperti sedang naik kapal boat menuju Karimun Jawa. Menyelip di antara mobil-mobil plat B, menyelinap di sela terumbu karang di perairan Wakatobi. Menembus asap Metromini, menyeruak kabut di Semeru. Mengitari Tugu Tani, memutari Tugu Jogja. Tiba-tiba saja ada bajaj oranje menyerobot jalurku. Aku mengerem mendadak. Si sopir bajaj menatapku dengan ekspresi muka bersalah. Aku tak merespon apapun. Aku masih shock, terguncang oleh fakta bahwa aku memang sedang di Jakarta, bukan di Karimun Jawa, Wakatobi, Semeru, atau Negeri Jogja.

Sepi adalah saat dimana aku bisa tertawa habis-habisan di akhir pekan bersama teman-teman yang selalu menyenangkan tapi setelah usai itu semua, mukaku jadi zzzzzzzzz lagi. “Hei kaka, sa pu muka hilang ke mana?”, ucapkan dengan logat Papua kawan. Papua juga saudara kita. Papua punya cadangan migas dan emas yang besar. Papua punya Boaz Salossa. Papua tariannya selalu gembira. Bagus kan? Mereka suka berbagi kegembiraan. Kalau sedang menari sambil memukul-mukul tifa, sepertinya tak ada sepi di sana.

Sepi adalah saat aku membayangkan sedang berangkat kuliah di salah satu kampus di Eropa lalu tiba-tiba bertemu superhero Marvel bernama Thor membawa senjatanya dan entah apa salahku dia lempar godam itu ke perutku. Untung gak kena. Meleset ye..😛 Akurasinya memburuk. Dia sadar, dia tarik godamnya lagi lalu pergi. Aku tak tahu ke mana dia pergi. Lalu aku nonton tivi, kebetulan ada berita sport di Trans 7, karena aku suka sport ya kutonton saja. Dari berita itu aku jadi tahu kalau Thor sedang melatih lagi akurasinya dengan berguru kepada pemain Bayern Muenchen bernomor 31 yang tendangannya membentur tiang gawang pada final Liga Champions 2012. Kurang akurat gimana coba? Gawang selebar itu dan tendangannya mengenai tiang gawang di pojokan yang berdiameter kecil! Rupanya tak lama Thor menyerah, ia tak seheroik itu, lalu ia pakai heroin bersama gank-nya Mark Renton. Tiba-tiba Thor ada di film Trainspotting.

Sepi adalah saat aku tiba-tiba mengarang sebuah dongeng tentang ikan bernama Si Pisces yang terpuruk di sudut danau. Si Pisces melihat singa bernama Si Leo yang beberapa waktu sebelumnya kehausan dan menenggak air dari danau habitat Si Pisces. Si Leo tidak langsung pergi setelah minum. Dia bersantai di pinggir danau. Si Pisces kagum pada Si Leo yang nampak tangguh menghadapi hidup. Si Leo sesaat senang di tempat itu. Ia menjilati bulu-bulunya, mencari kutu, berguling-guling di rerumputan, sambil sesekali melihat Si Pisces berlalu lalang mendayung di air. Seiring waktu berputar, pesona Si Leo pun menyebar ke seantero danau. Hey bukan, bukan seantero danau, itu lebay. Pesona Si Leo membuat Si Pisces makin kagum saja. Si Pisces bahkan lupa kalau ia hanya makhluk bersisik yang punya kebiasaan mangap-mangap. Si Pisces pun ingin melompat keluar dari air dan teriak sekerasnya memanggil nama Si Leo. Sayang, Si Leo keburu beranjak pergi. Dan Si Pisces cuma bisa mangap-mangap di pojokan, digelitiki lumut-lumut.

Sepi adalah saat tik-tok-tik-tuk-tik-tuk-tik-tek-tik-tok-tik-tuk-tik-tuk-tik-tek-tik-tok-tik-tuk-tik-tuk-tik-tek-tik-tok-tik-tuk-tik-tuk-tik-tek-tik-tok-tik-tuk-tik-tuk-tik-tek-tik-tok-tik-tuk-tik-tuk-tik-tek-tik-tok-tik-tuk-tik-tuk-tik-tek-tik-tok-tik-tuk-tik-tuk-tik-tek-tik-tok-tik-tuk-tik-tuk-tik-tek-tik-tok-tik-tuk-tik-tuk-tik-tek-tik-tok-tik-tuk-tik-tuk-tik-tek-tik-tok-tik-tuk-tik-tuk-tik-tek, tak berhenti. Berulang dan terus berulang. Annoying sekali ‘kan jam dinding itu? Apa kubanting saja biar hancur berkeping-keping. Eh, tapi jangan, harganya agak mahal. Lagipula siapa yang akan membersihkan belingnya? Apa sumbangkan ke grup debus di Banten sana saja? Mereka ‘kan mampu makan beling.

Sepi adalah saat aku mengetik tulisan menye-menye semacam ini, bukannya tentang Faktor Geopolitik Dalam Perubahan Harga Minyak Dunia, atau Booming Hasil Bumi di Indonesia, atau Paradox of Plenty, atau Standar Kemiskinan di Indonesia yang Hanya Sekitar Rp 230.000/bulan, atau Konser Lady Gaga, atau Genjer-Genjer, atau Tips-Tips Bertahan Hidup Dari Serangan Nyamuk-Nyamuk, atau ini atau itu atau anu atau asu sekalian. Asu.

Sepi memang brengsek. Ingin kutantang berkelahi. Tapi tak jadi karena tulisan ini, sudah hampir 1000 kata.