Kurusetra hening. Padang raksasa nan luas itu seperti menciut menjadi noktah hampa. Senyap. Bima yang kokoh turunkan gadanya. Arjuna, sang lelaki pujaan langit dan bumi, hadapkan busurnya ke tanah. Satria kembar masukkan keris ke sarungnya. Raja santun yang terbuang, Yudistira, alias Puntadewa, alias Darmaputra, mematung di garis belakang dengan tetap memasang raut tenang.

Di sisi satunya, Prabu Duryudana, alias Suyudana, alias Kurupati, nampak gelisah. Ia bahkan panik. Mondar-mandir tak jelas. Patih Sangkuni tak tahu apa yang harus dilakukan, sambil menebak-nebak apa yang sedang terjadi di medan perang. Dursasana dan para Kurawa lain hanya terbengong-bengong bingung, seperti biasa.

Di tengah-tengah, seluruh prajurit Pandawa dan Hastina hentikan sejenak peperangan besar Baratayudha.

“Teruskan Amba, terus lepaskan anak panahmu”, suara Bisma menembus hening Kurusetra.

“Kau butakah Bisma, resi agung? Aku Srikandi, bukan Amba”, timpal Srikandi.

Dalam diam Bisma bergumam, “Kau titisan Amba, satu-satunya”. Lirih, Srikandi tak mampu mendengarnya. Dia terus hujani Bisma dengan anak-anak panahnya. Dia heran Bisma tak melawan.

“Kenapa denganmu pahlawan Hastina? Kau bahkan tak melawanku sedikitpun. Aku terhina”. Srikandi meneriaki Bisma.

“Kau terhina? Bagus. Maka teruskanlah”, jawab Bisma tenang.

Sebelumnya, tubuh Bisma kebal senjata. Tidak satupun anak panah Arjuna yang bisa menggores kulitnya. Tak pula gada Bima, pedang satria Pancala, bahkan kepal Gatotkaca, yang mampu melukainya. Namun tidak hari ini. Anak-anak panah Srikandi satu persatu menusuk tubuhnya. Satu. Lima. Sepuluh. Puluhan. Ratusan. Bisma pun roboh. Tak menyentuh tanah, tertahan anak-anak panah yang menancap di sekujur tubuhnya.

Srikandi mendekatinya.

“Kau puas sekarang Amba?”, ujar Bisma.

Srikandi diam dalam tanya. Dia tak tahu tentang Amba. Dia juga tak tahu tentang hasrat yang terus mendorongnya untuk melepas anak-anak panah ke tubuh Bisma yang bergeming tak melawan.

“Pun demikian diriku Amba. Begitu lama kutunggu saat-saat ini. Saat di mana rasa bersalahku padamu terbayar lunas, dengan nyawaku.”

“Maafkan aku Amba. Siapapun dari kita tak mampu melawan takdir. Juga diriku. Aku telah berusaha menjalankan dharmaku sebagai manusia sebaik-baiknya. Kini saatnya kujumpai takdirku, mati di tanganmu Amba.”

Srikandi berbalik. Ia berjalan tinggalkan Bisma. Gontai. Ia merasa dalam kepalanya bercokol gada berat Bima. Pikirannya dijejali tanya. Tentang Amba. Tentang anak-anak panahnya. Dan tentang detak jantungnya yang berdegup lebih kencang saat menatap Bisma.

Tak jauh dari sana, dua kubu yang berperang, baik para Pandawa maupun Kurawa sama-sama tertegun. Mereka seakan tak percaya bahwa guru yang mengajari mereka tentang kebijaksanaan hidup dan ilmu bela negara harus gugur dengan cara demikian kejam, dirajam anak-anak panah Srikandi.

Kresna, titisan Dewa Wisnu, yang tahu segalanya, menghampiri Arjuna.

“Tak perlu bersedih. Itu cara kematian yang ia idam-idamkan. Di medan perang, membela negara yang begitu ia cintai, dan oleh satu-satunya wanita yang ia rindukan sangat, Amba”.

Arjuna menoleh, “Siapa Amba?”.

—–