Saat mengetik tulisan ini, saya sedang duduk di dalam gerbong kereta menuju Yogyakarta untuk suatu keperluan penting. Karena mendadak, saya jadi tidak cukup bersiap untuk perjalanan ini. Tidak bawa buku, laptop, dan charger. Thank Gosh saya masih punya HP ini, yang ada aplikasi Think Free Office-nya, jadi saya masih bisa menulis, setidaknya sampai daya baterai tersisa sedikit untuk menghubungi orang rumah saat sudah tiba di stasiun Toegoe nanti.

Tentang kereta api, saya beberapa kali mengalami kejadian unik saat menjadi penumpang. Dulu, waktu naik kereta ekonomi Jogja – Jakarta, pernah saya terbangun sekitar 30 menit sebelum Stasiun Bekasi. Wajar dong, kan memang sudah pagi sampai sana? Iya sih, wajar, sampai tahu apa penyebabnya. Jadi, pagi itu saya tak asal bangun. Saya terbangun karena mendengar suara ayam berkokok tepat di atas belakang tempat duduk saya. Wadafuk! Ada yang bawa ayam di dalam gerbong! Gelinya lagi, setelah itu ada ayam lain yang ikutan berkokok di gerbong depannya. Kalau saya Menteri BUMN, saya akan buru-buru meminta Dirut KAI untuk membuat tagline khusus kereta ekonomi, “Train for All.. Species!” Jadi siapapun nanti boleh-boleh saja kalau mau naik kereta bersama binatang kesayangannya, burung, anjing, kucing, iguana, trenggiling, armadillo, sapi, lobster…

Ada lagi yang menurut saya memorable dari kereta ekonomi Jakarta-Jogja, yaitu pengamen waria di stasiun Purwokerto. Kalau naik kereta ekonomi malam dari Jakarta, saat-saat yang paling enak untuk tidur adalah saat memasuki daerah antara Cirebon – Purwokerto. Nikmat sekali. Namun, di dunia ini memang tidak ada kenikmatan yang selamanya. Sesampainya di Purwokerto, kita akan dibangunkan nyanyian banci ewer-ewer. Kenapa ewer-ewer? Karena apapun lagunya, mereka akan menambahkan kata  “ewer-ewer” di akhir baris. Misalnya, “manuke manuke cucakrowo, ewer ewer, cucakrowo dowo buntute, ewer ewer..”. Yang paling menyebalkan adalah, mending kalau tidur pulas sekalian gak akan diganggu, nah kalau kelihatan masih kriyip-kriyip karena sedang di perbatasan tidur dan sadar itu yang bisa tertimpa celaka, bakalan digoda tuh sama warianya. “ihh ganteng, gak usah pura-pura bobo’ deh..” Fu*kin hell! “heh sori ya mas, eh mbak, saya bukannya pura-pura tidur ya, saya emang gak bisa tidur, I’m thinking about her..” (asu, curcol). Dan yang gak kalah gawat, ini kok saya tiba-tiba punya ide buat bikin band indie namanya “The Ewers” yak?

Di sisi lain, kereta juga membuka mata saya bahwa di negeri kita tercinta ini, banyak orang yang tidak mendapat tempat yang tepat untuk menyalurkan bakat. Saya pernah melihat seorang penjambret yang berhasil menarik sebuah kalung emas kecil, sangat kecil, dari leher ibu-ibu yang kebetulan ada pas di depan saya. Si penjambret itu hanya butuh, mungkin, sekitar 2-3 detik untuk menarik kalung lalu melompat keluar kereta yang baru mulai bergerak keluar stasiun Depok Baru menuju Bogor. Cepat sekali. Saya juga pernah tahu ada pengamen kecil di Stasiun Bogor yang pitch control dan tempo bernyanyinya nyaris sempurna walaupun tanpa iringan alat musik. What a wasted talent. Andai dia anak Ahmad Dhani atau Anang Hermansyah.. Bayangkan saja kalau negeri ini punya sistem penyaluran bakat yang lebih baik. Mungkin si penjambret itu, dengan kecepatan dan akurasi tangannya, bisa jadi pesulap terkenal atau atlet tenis meja internasional. Mungkin juga si kecil born-singer itu bisa mendepak pantat selebriti bermodal besar yang cara bernyanyinya kacau balau tapi terkenal karena menyuap produser, operasi anatomi wajah, atau membuat sensasi murahan.

Ah, baterai HP saya rupanya sudah hampir tamat..

Kali ini, saya jadi yakin satu hal, bahwa perjalanan panjang, ke manapun naik apapun, bagi saya tidak sekedar perpindahan badan dari satu tempat ke tempat lain, tetapi ternyata juga penjelajahan rasa dan pikir dari memori masa lalu hingga impian masa depan. Dan kereta, tak cuma soal sepi yang menghinggapi batin saat orang-orang di gerbong ini pada pejam dalam pulas, tapi juga tentang laju. Seperti hidup kita juga, barangkali, yang terus melaju.

Awal. Pencapaian. Persinggahan. Tujuan. Semua terangkum dalam laju.

KA Gajayana Malam, 23 April 2012.