Saya, dengan beberapa alasan, sangat merindukan musik Indonesia era 90-an sampai awal 2000-an (ini konteksnya musik mainstream lho ya, bukan indie, tradisional, atau kontemporer). Tentu setiap orang berhak punya penilaian dan cara mengapresiasi masing-masing. Saya yakin banyak pula yang menyukai musik Indonesia saat ini, walaupun saya juga yakin bahwa tak sedikit yang merasakan apa yang saya rasakan. Setidaknya ada empat alasan untuk ini. Apa saja?

1. Album, bukan single

Di usia belasan, cara pertama saya menikmati musik adalah dengan membeli album, umumnya saat itu dalam bentuk kaset berisi 8-14 lagu, lalu disetel di tape recorder dengan bonus suara desisnya yang khas. Sesuatu yang kini sudah berubah. Bukan soal tape dan kasetnya, tapi soal lain. Industri musik jaman sekarang tidak lagi menyodorkan album, tapi hanya menawarkan satu single saja yang lalu dibikin videoklipnya dan kalau beruntung, seperti Mbak Ting Ting, penjualan RBT akan menggila dan jadi kaya mendadak. Saya sama sekali tak bermaksud menyalahkan musisi yang melakukan itu, memproduksi satu single, bukan album. Toh mereka juga butuh makan, yang mana akan lebih mudah didapat kalau mau menyesuaikan diri dengan laju industri.

Saya kecewa pada perkembangan industri. Bagi saya, yang tumbuh dan terbiasa mendengarkan satu album full, menyimak sekelumit nada melalui RBT sungguh kurang geregetnya. Tanggung. Rasanya seperti makan indomie rebus belum mateng. Beda dengan album, seperti makan bakmi jawa pakai cabe rawit tambah jeroan setelah seharian gak makan. Lagian, berapa detik sih nada dering yang bisa kita nikmati? Bisa menghayati? Gak, kalo saya sih.

Satu lagi yang membuat saya merindukan masa-masa di mana album masih jadi arus utama adalah sampul kaset. Di situ biasanya ada lirik lagu, nama-nama musisinya, lalu juga semacam salutation, belum lagi foto-foto, cover depannya, sampai seni desainnya. Menarik, bagi saya. Saya, hingga kini, masih suka meniru jenis coret-coretan aneh di sampul album Radiohead – The Bends saat bosan di tengah rapat yang bertele-tele. Di sampul album Dewa – Bintang Lima, saya masih ingat Ahmad Dhani pernah menaruh kritik asyik berikut: “Thanks to MTV for the good fashion, thanks to Fashion TV for the good music”. Saya juga jadi tahu ada pemain harpa (bagaimana menyebutnya, harpist? harper?) bernama Maya Hasan karena di sampul album Padi – Sesuatu yang Tertunda ditulis namanya sebagai pengisi suara harpa di salah satu masterpiece, Kasih Tak Sampai. Kini? Mari kita ucapkan selamat tinggal pada hal-hal menarik itu.

2. Konser

Saya dibesarkan dalam sebuah keluarga yang menggilai seni pertunjukan. Masih jelas dalam ingatan, ketika masih duduk di bangku TK, saya beberapa kali diajak kakek menonton wayang kulit. Di usia itu, tentu saja saya tidak paham dengan dialog-dialog politis dalam bahasa jawa halus yang dibawakan sang dalang. Namun, beda ceritanya saat tiba sesi Goro-Goro. Sebuah sesi yang full berisi hiburan. Biasanya diisi lawakan dan nyanyian. Lawakan di sini selalu diselipi pesan moral atau joke-joke sosial dengan tokoh utamanya Punakawan, Ki Semar – Kang Gareng – Petruk – Bagong. Lawakan yang ternyata membentuk selera humor saya, sampai-sampai sekarang saya sulit tertawa oleh joke model OVJ (“lawakan itu endemik bung”, kalau kata sahabat saya yang hidupnya lucu), hehehe. Sedangkan untuk nyanyian biasanya dibawakan oleh pesinden. Umumnya mereka menyanyikan lagu-lagu yang sedang populer. Bagian ini yang paling saya senangi dari sepaket pertunjukan wayang semalam suntuk. Dan dampak dari menonton live pertunjukan musik sejak umur 4 tahun adalah.. saya kemudian menjadi seorang gig lover, walaupun tidak sampai pada tahap gig freak.

Saat ini, sepengamatan saya yang suka nonton, kok rasanya konser tunggal musisi lokal jadi makin jarang ya? Apa saya saja yang salah duga? Dulu, seingat saya, banyak sekali event tour konser tunggal band/musisi keliling Indonesia, misalnya promo album band-band hebat seperti Dewa19, Padi, Gigi, Jamrud, Sheila on 7, konser amal kolaborasi dua raja fanbase Indonesia -Slank dan Bang Iwan Fals-, sampai salah satu konser akustik paling berpengaruh di Indonesia, Klakustik. Konser-konser itu biasanya diadakan di alun-alun, stadion besar, atau auditorium raksasa. Penonton membludak. Pasar dadakan muncul. Ekonomi berputar. Sekarang? Promo tour SM**H dan Ch*rry*e*le 25 kota di stadion-stadion? Wahahaha, geli sendiri membayangkannya.

Bagaimana dengan acara-acara musik di tivi yang menampilkan live pertunjukan musik? Sekarang memang makin gencar format acara semacam itu. Hampir tiap stasiun televisi menyiarkannya. Bukankah itu bagus? Debatable sih soal bagus atau tidaknya. Yang jelas acara musik favorit saya adalah Gebyar Keroncong TVRI dan Radio Show TVOne. Kenapa? Karena musisi yang tampil di sana tidak main secara lypsync! Sekali lagi, tidak lypsync! Saya, sejujurnya, sangat tidak puas melihat konser lypsync.

Kenapa dengan lypsinc? Bagi saya, jika cara pertama menikmati musik adalah membeli albumnya, maka cara keduanya adalah dengan menonton versi live-nya. Kalau cuma lypsync lalu apa bedanya dengan mendengarkan di kaset/CD? Kalau main live kan ada bagian dimana musisi berimprovisasi, kita pun jadi menanti-nanti kejutan apa yang akan ditampilkan sang penampil. Penasaran, tidak kepada muka musisi yang berakting memainkan alat, tapi lebih kepada variasi-variasi lain yang tidak ada di kaset/CD dan mungkin muncul pada versi live-nya. Lebih liar, lebih mantap.

3. Lirik

Saya memaklumi, dan menyetujui, statement bahwa seni dan sastra itu produk zaman. Dalam konteks musik, lirik lagu pun barangkali juga demikian. Saat ini, kalau boleh saya sotoy sedikit, kita hidup di era yang serba instan, cepat, nir-batasan-informasi, abai akan proses, sampai tak menyisakan banyak waktu untuk merenung dan menyelami makna, namun di sisi lain juga membuat orang jadi lebih mudah putus asa.

Pengaruhnya pada lirik lagu? Bila remaja (laki-laki, kalau perempuan remaji, #halah #abaikan) 90-an patah hati: “Kuambil gitar dan mulai memainkan, lagu lama yang biasa kita nyanyikan.. Terlalu manis untuk dilupakan, kenangan yang indah bersamamu, tinggallah mimpi..” (Slank-Terlalu Manis). Kalau remaja sekarang putus cinta: “luka-luka-luka yang kurasakan, bertubi-tubi-tubi engkau berikan.. Bertahan satu cinta, bertahan satu c-i-n-t-a.” Ini bukan soal genre yang membedakan keduanya. Bagi saya, pembeda terbesarnya adalah, pada lirik lagu pertama masih menyisakan harapan untuk bangkit yang bisa disimak pada bagian “tinggallah mimpi..”. Sedangkan yang kedua terdengar lebih lembek, kalau kata anak sekarang kayak gak mau move on gitu kakak, lihat saja bagian “bertahan satu cinta.. ”. Ini opini saya lho ya, interpretasi tiap orang bisa beda-beda.

Lirik lagu tahun 90-an/2000-an awal itu juga lebih puitis, jadi ya bikinnya pun pasti lebih butuh perenungan dan proses panjang. Contohnya dua lagu yang sama-sama dibuat untuk orang yang lagi jatuh cinta berikut: lagu Kla Project: “..ingin selami samudera hatimu, temukan mutiara tiada tara, lalu terlena rebah di dasarnya..”. Bandingkan dengan lagu sejenis berikut: “..kenapa hatiku cenat cenut bila ada kamu..”. Bagi saya, yang kedua lebih dangkal. Memang cuma sepenggal, tapi percayalah, sudah cukup merepresentasikan kedua lagu itu.

4. Ragam

Ini dia hal yang paling saya rindukan dari musik 90-an/2000-an awal.  Keragaman. Iya, beragam. Coba diingat, pertengahan 90-an kita benar-benar dimanjakan dengan banyak pilihan. Hampir semua genre musik mainstream punya wakil yang signifikan dalam membawa pengaruh ke publik. Mau bukti? Mari kita ingat sejenak pertengahan 90-an. Anda mau mendengar musik rock n roll dengan lirik lugas? Ada Slank. Mau pop progresif dengan lirik romantis? Ada KLa Project. Mau tengah-tengahnya? Ada Dewa 19, Gigi, sampai Java Jive. Anda tidak suka format band? Siap, ada Nike Ardilla, Titi DJ, Kris Dayanti, sampai Yana Julio atau Andre Hehanusa. Ingin menikmati yang mendayu-dayu khas Melayu? Ada Exist, ada band-band negeri tetangga lain. Boyband? Dulu kita punya Trio Libels dan M.E, yang gak asal joget-joget, gak asal bikin rambut warna-warni, dan kualitas vokalnya pun bagus. Bagusnya lagi, semua genre/subgenre yang saya sebutkan di atas bisa dibilang tidak saling mendominasi satu sama lain. Mereka memiliki fan base masing-masing, dan yang lebih penting, industri hiburan memberi porsi yang hampir sama kepada setiap mereka untuk show off!

 

Saat ini, bisa dibilang, ‘penguasa’ industri musik kita (entah siapa/apa) tidak berlaku adil. Kenapa? Karena.. dari penerawangan saya sih polanya adalah seperti ini: Industri menciptakan booming sebuah genre/subgenre, lalu mengeksploitasi habis-habisan (baca: menyingkirkan yang lain), dan saat merasa sudah jenuh maka segera konstruksikan trend baru. Misalnya: masih ingat kan ya saat akhir 2000-an musik pop melayu  menjadi trend, bahkan Ahmad Dhani pun sampai me-recycle lagu melayu jadul. Semua media utama negeri ini mengangkat beramai-ramai pop melayu. Band-band beraliran itupun bermunculan secara sporadis. Buanyak. Tapi rapuh. Sedikit sekali yang berhasil menggali karakternya sendiri. Jadi, kalau nonton acara semacam Inbox sambil merem tanpa lihat tulisan siapa yang nyanyi, misalnya, sulit rasanya mengidentifikasi lagu ini lagu siapa, saking miripnya satu dan lainnya. Lalu, saat kira-kira para produser itu sudah merasa bahwa pasar mulai jenuh dengan musik pop melayu (sebenarnya, yang jenuh itu pasar atau para produser sih? gak paham saya..), maka dengan membonceng fenomena Korean Wave, dimunculkanlah secara masif berbagai boyband dan girlband. Boom!

Jadi, dengan perlakuan macam itu, sadly speaking, saat ini mengharapkan Gugus Blues Shelter bisa mendapat highlight yang setara dengan Cherrybelle (dari media mainstream) seperti dulu Bening mendapat sorotan yang setara dengan Boomerang, sungguh seperti lelaki biasa saja seperti saya berharap bisa macarin Asmirandah, alias nyaris mustahil.

Yah, apa mau dikata, saya memang tidak mampu mempengaruhi sedikitpun keadaan yang saya keluhkan di atas. Tapi setidaknya dengan tulisan ini saya sudah mengungkapkan keprihatinan saya, sebagai pemerhati sekaligus penikmat musik Indonesia. Selayaknya orang hidup ‘kan, saat kita mengalami hal-hal yang tidak dapat kita terima, tentu kita jadi berharap kepada datangnya keadaan yang lebih kita senangi, bahkan jika keadaan itu sudah berlalu. Manusiawi kan ya? Jadi, bukan berarti saya tidak mau mengikuti gerak jaman. Bukan berarti juga saya terjebak masa lalu. Dan bukan berarti saya berharap pada Asmirandah. Lhoh?