Sore tiba. Sang surya meramah, ia tak lagi kirimkan terik seperti sesiang tadi. Semilir bayu mendayu-dayu merayu. Burung-burung bebas bermanuver, ke atas ke bawah ke samping ke manapun mereka ingin. Cericip pipit, prenjak dan ciblek bersahutan dalam iringan desah dedaunan yang takluk dibelai hembus. Semesta hantarkan pertanda bahwa hujan enggan segera datang, di sini, di Jogja Timur.

Dipayungi harmoni sore, dua pipit berbincang dalam riuh.

Pipit satu: Cuaca begini cerah. Semua makhluk pasti bergembira.
Pipit satunya lagi: Tidak juga, lihat manusia itu.

Pipit satu: Anak muda itukah? Yang duduk di depan rumahnya? Dengan secangkir kopi?
Pipit satunya lagi: Ya. Kulihat ia tak ceria.

Pipit satu: Darimana kau tahu? Kemarin kusaksikan ia tertawa-tawa dengan bapak-ibu-adik dan teman-teman lamanya.
Pipit satunya lagi: Mungkin karena itu, ia sekarang jadi tak bahagia.

Pipit satu: Bagaimana bisa?
Pipit satunya lagi: Kudengar ia akan terbang. Esok ia tak di sini lagi. Barangkali ia sedih karena harus meninggalkan tawa-tawanya kemarin.

Pipit satu: Memang ke mana ia akan terbang?
Pipit satunya lagi: Jakarta. Kau tahu di mana itu? Kudengar itu tempat yang tak seramah tempat ini. Tempat itu selayaknya dunia sedangkan tempat ini sehamparan surga. Aku bisa mengerti kenapa anak muda dengan secangkir kopi itu jadi nampak tak ceria. Ia harus meninggalkan surganya.

Pipit satu: Lalu kenapa ia harus pergi dari surganya?
Pipit satunya lagi: Ia harus kuatkan sayap-sayapnya, tajamkan pandangnya, dan panjangkan jangkaunya, di tempat yang jauh itu. Tempat di mana keluh kesah adalah kemubaziran tingkat dewa. Tempat di mana senyum yang tulus tak mudah didapat. Tempat di mana lampu-lampu malam berpendar dalam megah yang palsu. Tempat yang jalanannya hanya terdeskripsikan dengan satu kata: chaos. Sekaligus tempat yang akan membentuknya menjadi sebenar-benar manusia.

Pipit satu: Oya? Begitu? Memangnya ia tak bisa belajar terbang di dalam surganya?
Pipit satunya lagi: Barangkali ia merasa seperti kita. Iya, seperti kita yang takkan bisa terbang bila hanya diam di sarang saja dan cuma menunggu induk kita datang menyuapi hingga kenyang. Pun demikian anak muda dengan secangkir kopi itu, ia harus bekerja untuk mencukupi butuhnya, sendiri. Ia mungkin telah yakin bahwa itu hanya bisa ia lakukan di luar surganya yang nyaman.

Pipit satu: Oh begitu? Lalu kalau ia tahu harus begitu, kenapa duduk termenung sendiri di situ? Apa ia tak sadar akan darmanya?
Pipit satunya lagi: Aku percaya ia sadar tentang darma, tentang apa yang memang sudah seharusnya. Ah, ah, aku jadi tak yakin apa ia benar murung. Manusia punya bakat berpura-pura, kita tak tahu pedalaman hatinya. Burung kecil seperti kita ini sampai kapanpun tak akan mampu pahami manusia utuh-utuh. Manusia makhluk yang rumit.

Pipit satu: Mungkin saja kau benar. Mungkin memang ia sedang tak bersedih. Mungkin ia hanya sedang menanti, entah sesuatu atau seseorang. Mungkin saja ia sedang menghayati senja dengan caranya sendiri, dan secangkir kopi. Atau mungkin ia sedang menyimak cericip kita.
Pipit satunya lagi: Mungkin.

Riuh cericip pipit, prenjak, dan ciblek makin samar terdengar. Ufuk menelan matahari. Hitam perlahan tapi pasti menyapu biru dan jingga sekaligus. Malam menggantikan sore. Hanya angin yang seakan tak bosan mengayun dedaunan. Anak muda dengan secangkir kopi itupun bangkit dari duduknya. Ia beranjak, masuk ke dalam rumahnya. Ia nampak lebih stabil.

Daerah Istimewa Yogyakarta, 25 Maret 2012