Saya coba mengingat, apa sih cita-cita saya waktu masih berumur enam tahun. Dokter? Pilot? Insinyur? Polisi? ABRI? Seingat saya, memang profesi-profesi itu yang jadi jawaban favorit teman-teman kalau ditanya soal cita-cita mereka.

Saya sendiri agak kesulitan mengingat secara tepat sebenarnya ingin jadi apa saya waktu itu. Namun, samar-samar saya ingat kalau saya sempat berangan-angan untuk jadi pemain bulutangkis. Barangkali karena saya ikut menonton TVRI saat pemain badminton Indonesia berambut gondrong, Ardy Wiranata, mengalahkan pemain Cina.

Saya coba mengingat lagi, apa yang dulu saya bayangkan tentang masa depan ketika saya berumur enam belas tahun. Penulis? Astronot? Keduanya? Iya. Seingat saya, memang keduanya yang muncul di angan-angan. Saya ingin jadi penulis semata-mata karena waktu itu saya antusias kalau ada tugas pelajaran Bahasa Indonesia menulis cerpen atau puisi, yang jauh lebih menyenangkan bagi saya dibanding saat harus menghitung momentum tumbukan atau menghafalkan organ tubuh kodok. Astronot? Mudah saja alasannya, film Armageddon! Gara-gara nonton film itu, saya lalu ingin jadi both a hero (Bruce Willis) and a lucky bastard (Ben Affleck). Asli, ABG korban Hollywood.

 

Saya kemudian memejamkan mata sejenak, tiga hari lalu saya genap berumur dua puluh enam tahun. Lalu, jadi apa saya di umur dua puluh enam? Yak, Pegawai Pemerintah! Suatu profesi yang sama sekali tidak pernah saya bayangkan dari pertama kali bisa mengikat tali sepatu sendiri sampai diwisuda sebagai sarjana. Ahahahaha.

Lalu kenapa saya tidak bisa menjadi seseorang yang saya bayangkan saat dulu masih berumur enam dan enam belas tahun? Apakah yang salah? Sistem pendidikan? Guru? Lingkungan? Keluarga? Ekonomi? Nasib? Atau sebenarnya tidak ada yang salah?

Waktu SD dulu, sebenarnya saya pernah bilang ke ortu (akronim yg 90-an banget) kalau ingin masuk klub bulutangkis. Tidak jauh dari rumah pun sebenarnya ada klub bulutangkis yang cukup terkenal, yang konon katanya adalah klub pertama pemain legendaris Indonesia, Sigit Budiarto. Kira-kira jawaban ortu saya saat itu adalah, “Nak, kalau kamu di klub itu, kamu harus latihan rutin seminggu tiga kali, sore hari. Nanti kalau malamnya kecapekan, gimana kamu bisa belajar?” Baiklah.

Apakah kini saya menyalahkan ortu atas jawaban itu? Tidak sama sekali. Pertimbangan mereka sangat rasional. Jaman itu, atlet belum dihargai dengan layak. Banyak cerita tentang atlet nasional yang melarat di masa tuanya. Bandingkan dengan lulusan terbaik ‘sekolahan’, yang lebih mudah dijumpai sebagai ‘orang mapan’. Dengan demikian, wajar kalau tidak banyak ortu yang rela anaknya meninggalkan sekolah demi menjadi atlet. Kalau boleh saya sotoy sedikit, mungkin itu juga penyebab penurunan prestasi bulutangkis kita saat ini, kita kekurangan talenta karena banyak bakat yang tak tersalurkan. *ini bukan bermaksud bilang kalau saya punya bakat bulutangkis lho ya*.

Oke, beranjak ke cita-cita masa remaja saya. Tentang menjadi penulis, kenapa saat ini saya hanya mampu menulis ‘hal galau sekaligus narsis’ seperti tulisan ini? Bahkan blog ini pun tak bisa rutin update postingan serius.😀 Kenapa saya belum juga mampu menghasilkan sebuah roman atau cerpen-cerpen bermutu yang layak dimuat di media cetak? Mau menyalahkan sekolah? Saya rasa tidak tepat. Bukankah banyak waktu dan kesempatan yang tersisa di luar jam sekolah untuk menulis? Lalu?

Saya pikir masalahnya ada pada diri saya sendiri. Iya, saya sangat menikmati proses penulisan, apapun itu, apalagi yang galau-galau. Namun, saya sadar kenikmatan yang saya rasakan ketika menulis adalah saat saya tak terbebani apapun, baik tenggat waktu, pencapaian, dan batasan-batasan. Saya pernah mencoba menulis semacam roman, saya sudah finalisasi sinopsisnya, saya sempat riset untuk bab I-nya, tetapi hingga kini, naskah itu teronggok di komputer lama saya di Yogya. Kok bisa gitu? Tak lain karena saat saya malas menulis, ya saya berhenti, dan kacaunya saya tak tahu kapan akan mulai lagi. Kalau meminjam istilah pembangunan, tidak berkesinambungan. Jadi, untuk cita-cita yang satu ini, saya yang salah? Yuhu.

Bagaimana dengan angan saya menjadi astronot? Kombinasi Bruce Willis-Ben Affleck? Hell yeah, boro-boro. Bahkan cita-cita itu cepat menguap, sesaat setelah menginjak lantai kelas tiga SMA dan harus memilih jurusan kuliah. Sepengetahuan saya saat itu, syarat menjadi astronot adalah harus masuk dulu ke semacam sekolah penerbangan, lalu menjadi pilot. Pun bukan sembarang pilot. Jadi, barangkali kalau mau jadi astronot Indonesia ya harus melanjutkan sekolah ke Akademi Angkatan Udara. Waktu itu, saya adalah seseorang yang tak pernah mau menurut begitu saja kepada siapapun, saya pun terbiasa membantah apa-apa yang saya tak setuju, jadi saya pikir tak cocok ‘lah masuk ke institusi yang bernuansa militeristik. So, kalau begitu, siapa yang salah? Saya lagi? Jelas.

Yes, me and me again.

Kini, saya jadi yakin satu hal, tepat di awal fase kedua twenty-something saya. Bahwa pada saat masih kecil maupun remaja, saya ternyata tak pernah punya cita-cita. Walaupun saya sering membayangkan saya menjadi orang hebat, semua itu tak pernah saya manifestasikan ke dalam upaya yang serius, karena berbagai alasan.

Saya juga jadi percaya satu hal lagi, bahwa jalan hidup anak-anak dan remaja yang segenerasi dengan saya seperti telah diserahkan pada suatu pola yang nyaris serupa. Banyak dari kita dituntut untuk hanya sekolah yang rajin untuk kemudian cepat mendapatkan pekerjaan yang mapan. Dan yang menurut saya lebih parah, harus diakhiri, ialah adanya “paksaan” untuk memisahkan hobi dan cita-cita. Misalnya, kamu boleh saja punya hobi main biola, tapi mau jadi violist? Tunggu dulu. Anda sah-sah saja punya hobi menggambar, tapi mau jadi pelukis? Wait pals! Kami seperti dipaksa untuk sekolah mainstream dulu, lalu dapat kerja yang ‘mapan’, baru coba-coba lagi untuk jadi apa yang kita inginkan, kalau sempat. Saya pikir tak terlalu banyak anak negeri ini yang beruntung bisa dianggap sukses dengan menjalani hobi/kesukaan-nya. Atau saya saja yang tak tahu. Semoga dugaan saya ini tak terbukti.

Apakah itu berarti sekarang saya menyesal? Tidak sama sekali. Selepas masa kanak-kanak yang jujur dan masa remaja yang asyik, sejujurnya saya kini juga punya mimpi-mimpi, yang tak akan saya sebar di sini. Saya merasa tak ingin melepas mimpi-mimpi ini. Saya masih berusaha mengejarnya. Seperti kata sahabat saya yang kini saya panggil Kakak, “mumpung masih twenty-something, lakukan aja yang kita senangi”.

Lalu, bagaimana dengan profesi saya kini? Saya pikir saya belum perlu meninggalkan pekerjaan untuk mewujudkan mimpi-mimpi post-teen saya. Meskipun mimpi dan pekerjaan saya sekarang adalah dua hal yang sangat berbeda, saya merasa masih mampu berlari di dua jalur ini.

Hey, hey, hey, kenapa saya malah menulis yang beginian ya? Ahahaha, wake up kid!

You are 26 now. No more “galau gak jelas”.😀