Pada suatu masa, 1959, di negeri bunga tulip oranye, negeri kincir angin, negeri sang ratu, Belanda, terjadi kehebohan besar. Telah ditemukan lapangan gas bumi dengan kandungan melimpah ruah yang siap dieksploitasi di Laut Utara. Resource boom! Semua bergembira! Perekonomian Belanda akan melesat.

Beberapa tahun kemudian…

Jreng.. jreng..

Belanda kolaps. Krisis ekonomi melanda Belanda… Oh dear, apa mau dikata, ternyata jalan cerita tak seindah kisah FTV dan tak semudah omongannya Mario Teg*h.

Holy fu*k! Kok bisa? Mereka ‘kan baru aja menemukan lapangan gas bumi raksasa?

Adalah majalah The Economist, pada 1977, yang kemudian mengulas fenomena krisis ekonomi Belanda tersebut. Mereka menyebutnya sebagai “Dutch Disease” (Penyakit Belanda).

Dua pakar ekonomi, Max Corden dan Peter Neary kemudian menjelaskan tentang Penyakit Belanda lebih lanjut pada 1982. Corden dan Neary berargumen bahwa resource boom atau kenaikan harga komoditas dapat menyebabkan terjadinya deindustrialisasi. Menurut duet maut ini, Resouce boom, seperti yang terjadi pada Belanda saat menemukan ladang gas besar, mempengaruhi perekonomian negara dalam dua cara.

Yang pertama adalah apa yang disebut dengan “resource movement effect”. Secara sederhana, alur “resource movement effect” adalah sebagai berikut: 1. Kenaikan harga komoditas primer, seperti gas bumi dalam kasus Belanda 60-an, akan mendorong kenaikan produksi di sektor tersebut. 2. Kenaikan produksi di sektor yang sedang booming itu akan meningkatkan permintaan pekerja dalam jumlah yang banyak. 3. Dengan demikian, maka terjadilah perpindahan tenaga kerja dari sektor-sektor lain, terutama manufaktur. 4. Akibatnya, produksi manufaktur akan turut menurun. This is called “direct-deindustrialisation”.

Yang kedua adalah “spending effect”. “Spending effect” dimulai dari pendapatan ekstra/berlebih yang didapat dari resource boom. Prosesnya adalah sebagai berikut: Kenaikan harga komoditas primer –> Peningkatan pendapatan masyarakat –> Peningkatan pengeluaran orang untuk barang-barang non-tradeable –> Peningkatan apresiasi riil dari nilai tukar –> dan..  industri manufaktur menjadi tak kompetitif. This is called “indirect-deindustrialisation”.

Dengan demikian, menurut konsep “Penyakit Belanda”, peningkatan dalam eksploitasi sumber daya alam di suatu negara dapat menyebabkan terjadinya deindustrialisasi di negara tersebut, sebagai akibat dari sektor manufaktur yang menjadi kurang kompetitif karena perpindahan tenaga kerja dan peningkatan apresiasi riil nilai tukar.

So, then, how about our lovely amazing rich surviving country, Indonesia? Apakah juga mengalami Penyakit Belanda? Indonesia memang pernah dijajah Belanda, konon katanya sampai lebih dari tiga abad (opo hubungane Su?). Namun demikian, tentu perlu pembahasan lebih lanjut terkait hal ini. Banyak pertanyaan yang perlu dijawab. Misalnya apakah kita sekarang mengalami resource boom (kalau booming boyband-girlband sih emang iya kalee)? Kalaupun iya, apakah resource boom itu telah membuat industri kita melemah? Industri mana yang melemah, yang padat karya atau padat modal? Lalu, apakah di tempat kita terjadi perpindahan tenaga kerja dari sektor manufaktur, atau agrikultur, ke sektor komoditas primer yang sedang booming?

Ahahaha, saya masih harus banyak belajar rupanya.