Saya masih ingat, sekitar tahun 2000, Bapak membeli sekeping VCD album Iwan Fals; Best of the Best. Sampulnya berwarna kuning keemasan. VCD itu datang tak lama setelah beliau membawa pulang sebuah VCD Player yang saat itu masih masuk kategori barang mewah untuk keluarga kelas menengah ke bawah semacam keluarga saya. Selain album kumpulan lagu-lagu terbaik Iwan Fals, Bapak juga membawa serta VCD artis-artis lain seperti Didi Kempot, Manthous dengan Campur Sari Gunung Kidul-nya, karaoke khas Dewi Yull-Broery Marantika, juga kompilasi lagu-lagu kenangan. Bajakan tentu saja karena yang asli harganya hampir delapan kali lipat, sebuah harga yang mahal bagi kami kala itu.

Dari semua kepingan itu, album Iwan Fals paling menarik perhatian saya. Alasannya sederhana saja, karena dari cover CD-nya Iwan Fals terlihat paling muda. Bahkan, Didi Kempot yang pada kenyataannya lebih muda sekalipun, di kover VCD yang Bapak bawa ia terlihat lebih tua dari Iwan Fals.

Selain itu, video klip hasil remake lagu “Entah” sedang sering diputar di tivi, dan nada reffrain-nya yang sangat catchy itu adalah tipe melodi yang easy to stuck in everybody’s head. Jadilah lagu itu sering muncul di kepala saya. Sayapun lalu menjadi ABG labil penggemar baru Iwan Fals.

Bang Iwan, bagi saya adalah salah satu sumber inspirasi dalam berkesenian, bahkan mungkin dalam hidup. Dari lagu-lagunya saya menjadi percaya bahwa yang namanya kejujuran itu bernilai tinggi. Tidak mudah bagi sementara orang untuk berani mengabarkan kenyataan, terutama jika kenyataan itu bukan sesuatu yang enak didengar. Banyak dari kita yang dibesarkan dalam tradisi “Mikul Dhuwur Mendhem Jero”, yang dapat dimaknai sebagai “Hanya membicarakan kebaikan pemimpin dan mengubur/menyembunyikan yang buruk-buruk”.  Bang Iwan adalah salah satu yang berani menyerukan yang salah-salah namun tetap tanpa tendensi untuk merebut kekuasaan. Dengar saja salah satu lagunya, “Surat Buat Wakil Rakyat”:

Wakil rakyat seharusnya merakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Wakil rakyat bukan paduan suara
Hanya tahu nyanyian lagu setuju

Lagu itu diciptakan di tahun 1980-an.  Dari yang saya pelajari di bangku kuliah, pada masa itu lembaga eksekutif begitu powerful hingga lembaga legislatif hanya menjadi sejenis stempel bagi eksekutif saja. Maka, kalau sekarang banyak kata “interupsi” terlontar di gedung DPR, kira-kira dahulu lebih banyak kata “setuju”. Bang Iwan menghantam langsung lemahnya fungsi legislatif yang memang berjalan tak semestinya itu. Perlu diingat pula, pada jaman itu bersuara mengkritik penyelenggara negara sama saja bunuh diri. Adakah yang berani melakukannya di masa itu? Tak banyak, dan Bang Iwan salahsatunya.

Di sisi lain, saya juga belajar dari Bang Iwan, bahwa kadang keberanian membawa resiko yang tak remeh. Pada akhir dekade 1980-an, konser 100 kota Bang Iwan pernah dibatalkan. Ada yang mengatakan pembatalan itu karena masalah sponsorship, tapi banyak pula yang mengatakan izin konser dicabut oleh aparat militer akibat banyak lirik lagu Bang Iwan yang dianggap mengganggu stabilitas. Dalam wawancaranya dengan Andy F Noya di salah satu stasiun televisi swasta, Bang Iwan sendiri bercerita bahwa pernah, setelah konsernya di Pekanbaru, ia diinterogasi aparat militer hingga dua minggu disebabkan dua lagunya, Demokrasi Nasi dan Mbak Tini, dianggap melecehkan Presiden Suharto dan Ibu Negara Tien Suharto.

Akhir 80-an, Bang Iwan memasuki, menurut saya, masa-masa terbaik dalam karier bermusiknya. Saat itu, ia dan empat orang lain membentuk grup Swami. Bersama Swami, lahirlah dua lagu bersejarah, “Bento” dan “Bongkar”. Lagu “Bento” adalah semacam sinisme terhadap perilaku orang-orang di sekitar lingkar kekuasaan saat itu, perhatikan saja nukilan liriknya berikut:

Khotbah soal moral, omong keadilan sarapan pagiku
Aksi tipu-tipu lobbying dan upeti, woo jagonya

Sedangkan pada lagu “Bongkar”, jelas menghunjam tepat ke penguasa yang makin tak tersentuh, simak:

Ternyata kita harus ke jalan, robohkan setan yang berdiri mengangkang

Penindasan, serta kesewenang-wenangan, banyak lagi, teramat banyak untuk disebutkan
Hentikan, hentikan jangan diteruskan, kami muak dengan ketidakpastian dan keserakahan

Lagu “Bongkar” sendiri akhirnya ditempatkan oleh majalah musik “Rolling Stone” edisi Indonesia sebagai lagu terbaik pada kategori “150 lagu terbaik Indonesia sepanjang masa”. Bicara tentang Swami, menurut saya, tak boleh mengesampingkan duet vokal Bang Iwan-Sawung Jabo yang merupakan salah satu yang paling memorable di negeri ini selain duet Yok-Yon Koeswoyo dari grup Koes Plus.

Tak lama setelah proyek Swami I, Bang Iwan bergabung juga dengan sebuah kelompok kolaborasi kebudayaan yang melibatkan antara lain almarhum WS Rendra, Setyawan Djody, Sawung Jabo, dan juga Yockie Suryoprayogo yang diberi nama Kantata Takwa. Pada tahun 1991, Kantata Takwa menggelar konser yang bisa dibilang sebagai salahsatu peristiwa musik paling dikenang sepanjang sejarah musik Indonesia. Konser yang digelar di Gelora Bung Karno (saat itu masih bernama Gelora Senayan) itu didatangi hingga lebih dari 100ribu orang. Dan mudah ditebak, konser itupun rusuh! Bersama grup ini pula Bang Iwan menyanyikan lagu yang menurut saya punya pesan yang sangat kuat, yaitu Kesaksian, liriknya (oleh WS Rendra) powerful dan penggarapan musiknya (oleh Yockie) brilian, berikut ini reffrainnya:

Banyak orang hilang nafkahnya, aku bernyanyi menjadi saksi
Banyak orang dirampas haknya, aku bernyanyi menjadi saksi
Orang-orang harus dibangunkan, aku bernyanyi menjadi saksi
Kenyataan harus dikabarkan, aku bernyanyi menjadi saksi.

Well, saya tidak bermaksud ingin menulis biografi di sini. Saya tidak cukup cakap dalam menulis riwayat seseorang, dan saya juga tidak benar-benar mengikuti kehidupan Bang Iwan. Saya adalah seorang fans yang tidak ingin sekedar teriak-teriak histeris atau ‘terlihat menari-nari tapi diatur’ seperti penonton bayaran di acara-acara musik di Tivi saat ini.

Sebisa mungkin, saya belajar dari figur idola. Dari Bang Iwan saya belajar beberapa hal. Bahwa kesenian adalah ekspresi bukan pencarian impresi, bahwa menyuarakan kebenaran adalah kewajiban, bahwa tak ada yang akan sia-sia jika bertindak atas dasar cinta dan kemanusiaan, semua itu saya dapat dari karya-karya Bang Iwan. Barangkali dua baris dari lagunya yang berjudul “Mata Air Tak Ada Air Mata” ini, dapat merangkumnya:

Bibirku bergerak tetap nyanyikan cinta, walau aku tahu tak terdengar
Jariku menari tetap takkan berhenti sampai wajah tak murung lagi
.

Salam Oi! Bersatulah!