Aku masih terjaga, hampir tengah malam, di sini, di negeri mini ini. Di sana, di luar ruangan, hujan sedang turun. Aku selalu percaya bahwa hujan di mana-mana sama, ia datang bersama pesan. Ingin sekali rasanya keluar dan merasakan rintik, dengan demikian siapa tahu aku bisa pahami sepenuhnya pesan yang dibawa hujan. Namun, entah kenapa aku seperti tertambat di sudut ruangan kecil ini.

Jadi kubiarkan saja dinding ini memisahkan aku dan hujan. Seperti juga aku membiarkan dinding tebal, besar, tinggi, yang ada di depanku saat ini. Barangkali aku bisa pergi ke toko kimia, membeli bahan-bahan peledak, kubikin sebuah bom, dan hancurkan dinding itu. Barangkali pula, aku dapat menyewa sebuah traktor raksasa, dan runtuhkannya. Apa daya, dinding itu tak kasat mata. Ia ada, tapi tak terjamah indera. Aku tak tahu, apa aku bisa berbuat sesuatu terhadapnya. Mungkinkah? Sepertinya tidak. Hei, sesungguhnya, untuk apa aku harus menghancurkannya? Apa yang kudapat kalau dinding itu lenyap? Aku bisa bertemu denganmu?

Tentu saja, secara begitu, aku bisa bertatap denganmu. Lalu? Kurasa, kita bisa berbincang semau kita, menikmati setiap detik yang melaju, sambil sedikit demi sedikit merasai kopi. Aku tak tahu apa kau suka kopi atau tidak, mungkin karena dinding sialan itu, aku jadi tak tahu. Itulah kenapa dulu saat pertama kali aku tahu dinding itu memang ada, aku ingin sekali meremukkannya hingga jadi reruntuhan kecil, hingga jadi debu-debu, hingga jadi partikel-partikel super kecil, bahkan sampai jadi seimut atom.

Aku, saat ini, hanya berharap kamu baik-baik saja di sana. Aku, pasti turut tersenyum ketika tahu kamu berhasil mendapatkan apa yang kamu butuhkan, atau apa yang kamu mau. Aku, tentu saja sangat senang membaca linimasa di halaman jejaring sosialku bahwa kamu menjalani hari-hari dengan senang hati, bersemangat, optimis, dan ceria. Pun demikian ketika kusaksikan foto-fotomu yang kamu pasang di sana menggambarkan betapa gembiranya wajahmu.

Aku, di sini, merindukanmu, sejujurnya. Walau begitu, dinding di depanku itu barangkali akan kubiarkan saja. Biar kita sesekali saling sapa ketika sang waktu memberi jalan untuk itu. Dan aku tak perlu khawatir, aku tak perlu menakutkan apapun, karena selama aku bisa melihatmu senang di sana, itu sudah cukup membuat langitku cerah secerah-cerahnya dengan biru yang paling biru.

Mungkin, kita memang harus terpisah. Aku tak tahu, sebenarnya, kenapa kita harus demikian. Aku sempat protes dahulu. Kenapa kita tak bisa seperti yang lain. Yang bisa bertemu kapanpun di manapun, yang bisa berbincang sambil menghayati senja, yang bisa bergantian menyandarkan kepala yang berat oleh pekerjaan dan rutinitas, yang bisa saling mengucapkan selamat di tiap pagi dan ujung malam, kenapa kita tak boleh seperti mereka?

Tapi itu dahulu. Kini, dari sudut ruangan ini, walaupun aku tak mampu mengingkari bahwa melihat senyummu adalah hal terindah yang dapat aku bayangkan, aku telah sadar sepenuhnya bahwa dinding di depan kita terlalu tebal untuk kutinju, terlalu tinggi untuk kupanjat, dan terlalu besar untuk kugenggam lalu kupindahkan. Aku, pada akhirnya, adalah seorang yang masih kecil, yang sedang bermetamorfosa menjadi seseorang berjiwa besar di tengah semesta nan maha besar.

Dengan demikian, biar kusampaikan pesan untukmu, dari balik dinding ini, melalui hujan yang akan menyapamu kapanpun di manapun. Selamat malam. Semoga harimu esok menyenangkan. Semoga senyummu yang indah itu terus terkembang, dari sudut bibir satu ke sudut satunya, membentuk sebuah lengkung terindah. Meski bukan yang terindah di jagad raya, aku percaya bahwa dengan senyummu itu, kamu mampu membuat nuansa di sekitarmu jadi berwarna-warni. Seperti juga telah membuat beberapa halaman dalam buku kisah perjalanan hidupku ini penuh warna nan megah.

Singapura, 20 November 2011