Dalam hidup saya, banyak hal yang tak terdokumentasikan secara nyata. Beberapa diantaranya memang masih melekat di kepala. Namun sebagian yang lain menguap entah kemana.

Bermacam bentuknya. Bisa berupa peristiwa, baik yang saya alami, yang saya lihat, bahkan sekedar yang saya dengar dari informan kategori C alias bukan sumber kredibel. Bisa pula buah pikiran saya, yang pernah saya tulis, ataupun tidak sempat saya tulis, atau bahkan hanya sekedar pernah melintas sesaat di kepala saya dan hilang sekelibat kemudian. Bisa jadi perasaan, yang pernah saya rasakan, sedang saya hayati, baik itu menyangkut diri saya, orang lain, lingkungan, atau apapun yang menggelisahkan saya.

Ada kalanya saya lalu merasa, saya perlu sebuah peti. Ya, peti kecil, yang dapat menyimpan hal-hal tadi. Tak perlu semuanya. Tentu saja, kalau semua dipaksakan, peti ini bukan lagi peti kecil, tapi kargo, dan itu tempatnya di Tanjung Priok. Peti kecil ini adalah semacam penyimpan, agar yang seharusnya layak disimpan tidak raib begitu saja.

Saya jadi ingat seorang Pemudi dari Jepara yang hidup kira-kira sejarak abad dengan saya namun sampai saat ini namanya terus berkelindan dengan rakyat Indonesia di tiap tahunnya. Kartini namanya. Dia bukan siapa-siapa saat itu, maksud saya tentu saja dia ‘siapa-siapa’ dalam posisinya sebagai putri seorang bangsawan di sebuah masa yang feodal sekaligus kolonialistis, namun bukan itu yang membuatnya istimewa. Sisi keistimewaannya adalah, dia kemudian menjadi seseorang yang dikenang, mewakili jamannya. Memangnya, apa yang dia lakukan? Yup, dia menulis! Dia merekam buah pikirnya ke dalam tulisan-tulisan yang dikenang hingga bertahun-tahun kemudian. Dia, dengan korespondensinya itu, telah dianggap menginspirasi pergerakan sebuah bangsa untuk mencapai kemajuan dan memasuki era baru!

Saya tak pernah berpikir akan sanggup melakukan apa yang Kartini lakukan jika konteksnya adalah mengilhami sebuah pergerakan sosial. Saya sendiri tak dibesarkan dalam tradisi penulisan, mungkin sama seperti Kartini. Saya rasa pendidikan Indonesia lebih mementingkan hitung-hitungan eksakta dan ilmu alam. Adakah Sekolah Dasar di negeri ini yang jumlah jam pelajaran bahasa dan sastranya lebih tinggi dari matematika atau IPA? Saya kira tidak. Namun demikian, saya percaya, saya akan sanggup meneladani Kartini dalam ranah pengabadian buah pikir, peristiwa, dan tentu perasaan.

Sejujurnya, saya tak peduli apakah ada orang lain yang turut membuka peti kecil ini. Saya hanya ingin menulis di sini. Menempelkan huruf demi huruf di kotak segi empat di depan muka saya. Iya, menulis.