Home

Menyambut Hardiknas

Leave a comment

Setiap ada peringatan Hari Pendidikan Nasional, saya selalu teringat keluarga. Ibu saya guru. Kakek dan nenek dari ibu juga guru. Bulik saya juga ada yang guru. Baiknya berhabitat di keluarga guru adalah perjalanan akademik kami -saya dan sepupu-sepupu saya- tidak ada yang keteteran. Semua selesai atau sedang berjalan dengan lancar.

Guru, sebagaimana pekerjaan lainnya, tentu memiliki dinamika yang khas. Setidaknya itu yang saya dengar dari cerita guru-guru dari anggota keluarga kami. Profesi sebagai guru sendiri masih dipandang mulia di daerah-daerah perdesaan. Di pasar dekat rumah saya, bertahun lamanya saya lebih sering dipanggil sebagai “anake bu guru” dibanding nama saya sendiri. Entah di kota-kota besar. Mungkin saja masih demikian. Namun jika ukuran kemuliaan seseorang di kota besar adalah materi, tentu guru tak termasuk.

Berbicara tentang kemuliaan profesi guru, kita selalu terantuk pada label lawas yang seringkali disematkan kepada mereka, “pahlawan tanpa tanda jasa”. Entah kenapa frase tersebut selalu terdengar memprihatinkan. Seolah-olah, guru tidak dihargai layak, tidak ditempatkan di tingkatan yang seharusnya.

Jika memang mau menghubungkannya dengan materi, idiom tersebut bisa jadi masih tepat ataupun sebaliknya. Jika tolok ukurnya adalah guru PNS di Pemda DKI misalnya, tentu tidak sepenuhnya tepat. Tunjangan dan fasilitas pengajaran yang baik membuat guru di wilayah ini dapat disebut sejahtera. Tapi pikirkan tentang guru honorer di pelosok negeri, gelar “pahlawan tanpa tanda jasa” tidak kehilangan relevansi. Mereka memang pahlawan bagi warga yang membutuhkan pendidikan, dan tak mendapat tanda jasa mengingat reward yang diterima tak cukup setimpal.

Padahal, guru juga berhadapan dengan tantangan-tantangan yang berat. Tantangan yang bersifat material maupun non material, yang dialami di dalam maupun di luar sekolah. Misalnya, tantangan dalam mengajar. Ibu saya pernah bercerita betapa susahnya membuat murid memahami reaksi kimia. Jangankan persamaan kimia, untuk berhitung tingkat dasar seperti setengah dibagi dua saja kesulitan. Tentu bukan semata-mata salah guru. Murid-murid di daerah banyak yang tidak punya privilege untuk bisa fokus belajar. Mereka seringkali harus bekerja di luar jam sekolah untuk hidup. Banyak diantara mereka, yang sepulang sekolah harus membantu orang tua mencari nafkah, alih-alih menyewa guru les privat atau ikut bimbel agar bisa mendongkrak nilai. Belum jika bicara perjuangan mereka agar sampai sekolah. Tidak jarang ada murid yang harus bersepeda belasan kilometer setiap harinya.

Suatu hari ada murid ibu yang tak lulus UN. Agar tidak malu di depan teman-temannya, ibu saya mengantar hasil UN murid tersebut langsung ke rumahnya, yang musti ditempuh hampir sejam menggunakan kendaraan bermotor. Terbayang bagaimana sehari-hari anak itu menempuh perjalanan dengan naik sepeda. Di rumahnya, di lereng pegunungan selatan di Kabupaten Klaten, murid tersebut kemudian menerima kabar buruk dari sekolah. Orang tuanya, buruh tani, memohon bantuan Ibu saya agar setidaknya bisa lulus di ujian susulan. Pada akhirnya memang semua yang mengikuti ujian susulan, lulus juga. Murid tersebut memang hanya ingin lulus, bukan berkompetisi menjadi yang paling tinggi. Sekedar menambah pilihan dalam hidupnya. Jika tidak lulus, ia mungkin akan menjadi buruh tani, seperti orang tuanya. Dengan ijasah setingkat SMA, ia setidaknya mempunyai pilihan untuk bisa melamar menjadi kasir tempat perbelanjaan atau buruh pabrik tekstil.

Tantangan pekerjaan guru tak hanya soal murid. Tetapi juga dari pembuat kebijakan. Belakangan, guru mendapat tambahan tunjangan sertifikasi. Namun untuk mendapatkannya, terdapat sejumlah prasyarat. Salah satunya adalah penggunaan teknologi informasi. Sayangnya, ibu saya termasuk generasi lama yang kesulitan mengoperasikan komputer. Jangankan membuat presentasi powerpoint sendiri, menyala-matikan PC saja masih kerepotan. Orang mungkin berpikir kenapa tidak belajar saja. Saya rasa memang persoalannya tidak sesederhana itu. Bagi banyak generasi pra-teknologi-informasi, mempelajari barang baru seperti internet dan komputer bukan hal yang mudah. Coba saja ajarkan cara bermain Facebook ke nenek. Pasti sulit. Lalu, jalan keluar pragmatislah yang dipilih: meminta tolong rekan sejawat yang lebih muda, adik atau keponakan saya yang memahami. Setidaknya, prasyarat yang diperlukan pun terpenuhi.

Kadangkala, posisi guru tak serta merta mendapatkan respek dari orang lain. Bahkan, dari banyak cerita, saya merasa profesi ini sering direndahkan, entah sengaja atau tidak. Seseorang yang belum lama saya kenal, beberapa waktu lalu, bercerita dengan bangganya bahwa ia kerap memukul guru yang membuat walinya dipanggil ke sekolah. Beberapa teman yang lain gembira saat menceritakan pengalamannya mencontek ketika ujian, yang terdengar seperti mempersonifikasikan guru sebagai keledai yang mudah ditipu. Pun banyak cerita lain yang tidak pernah enak didengar oleh saya sebagai anak dan cucu guru.

Tentu guru, dan juga sistem pendidikan, tidak kebal kritik. Mulai dari metode transfer ilmu satu arah, seperti halnya teko ke gelas. Hingga cara mengajar yang tidak mengakomodasi kreativitas dan inisiatif. Belum lagi jika kita membicarakan sistem pendidikan yang seakan hanya menghasilkan sekrup bagi mesin-mesin produksi, bukan para inovator pun kreator. Perubahan atas hal-hal tersebut menjadi hal yang penting, jika tidak krusial atau mendesak.

Begitu pula cara pandang kita atas profesi guru, perlu untuk diperbaiki. Saat ini, jika selebritas saja bisa dibayar puluhan juta rupiah hanya untuk mempertontonkan candaan tidak lucu di televisi, maka butuh berapa puluh tahun bagi seorang guru, yang mengajarkan rumus, logika, wawasan, nilai-nilai, untuk bisa mendapatkan imbalan yang setidaknya setara? Bahwa tidak bijak menilai sesuatu dari materi, imbalan uang atau gaji, saya setuju. Tapi, apakah sikap kita, perspektif kita, cara kita melihat guru, juga telah menempatkan mereka di tempat yang layak, yang tinggi? Rasa-rasanya, belum.

Advertisements

Namanya Juga Hidup

Leave a comment

Pada suatu siang sekitar empat belas tahun lalu, saya menaruh dua jerigen minyak tanah 20 literan di bagian depan motor bebek saya. Di antara jok dan stang. Minyak tanah sedang langka waktu itu. Beberapa agen penjualan di dekat rumah kami mengaku tidak punya stok lagi. Saya bawa dua jerigen itu berkeliling ke dua-tiga agen langganan, tapi nihil. Satu-satunya jalan agar kami bisa tetap berjualan minyak tanah adalah saya harus kulakan di desa sebelah. Minyak tanah adalah salah satu barang jualan yang paling laku di warung kecil keluarga kami, selain rokok tentunya. Maka, meski agak jauh, harus didapatkan.

Untuk mencapai lokasi agen yang saya tuju, saya harus menyeberang jalan besar, jalan Jogja-Solo. Saat itu, jalan cukup ramai, meskipun tentu tidak semacet sekarang. Mengiris jalan itu sungguh tidak mudah, karena di U-turn dekat rumah saya, orang-orang pada umumnya sedang memacu kendaraannya dengan kencang. Saya harus sangat sabar menunggu hingga jalan cukup aman untuk diseberangi. Ketika berangkat mungkin tidak terlalu sulit, karena jerigen masih kosong. Namun saat pulang, terasa cukup berat karena pada saat bersamaan saya harus menjaga keseimbangan tumpukan jerigen, menjaga mesin motor tua yang saya naiki tidak mati, dan menunggu kesempatan menyeberang.

Jerigen itu kira-kira berisi masing-masing 20 liter. Dari satu liternya, tidak banyak marjin yang bisa kami dapat. Paling hanya beberapa ratus rupiah. Tapi jumlah itu adalah tambahan yang cukup berarti bagi keluarga kami saat itu. Maka, saya harus memastikan bahwa minyak tanah itu tak berkurang sedikitpun dalam perjalanan, baik karena tumpah atau merembes lewat tutup bagian atas karena goyangan motor yang sedang melaju.

Saat jalanan saya pikir sudah cukup aman, saya beranikan diri menyeberang. Tapi ternyata saya salah perhitungan. Ada motor ngebut yang tak terlihat dibalik angkot Jogja Prambanan yang sedang berjalan lambat. Saya mendadak mengerem. Mesin pun lalu mati. Panik. Di tengah jalan besar, saya mencoba menghidupkan motor. Lalu tiba-tiba ada motor menyenggol bagian belakang-samping motor saya. Motor saya, saya, dan dia terjatuh di aspal panas Jalan Jogja-Solo.

Jerigen minyak tanah yang saya bawa ikut jatuh. Salah satu jerigen yang saya bawa sampai terbuka tutupnya, hingga lebih dari separo isinya tumpah.

Setelah beberapa menit, saya berhasil meminggirkan motor dan dua jerigen saya. Saya bingung melihat jerigen minyak tanah itu yang isinya tinggal separo. Saya terbayang kerugian yang akan terjadi. Walaupun saya juga yakin ibu tidak akan memarahi saya. Saya yakin dia hanya akan mengingatkan, dengan sabar, agar lebih berhati-hati sambil mengajak saya bersyukur karena saya tidak cedera serius akibat tabrakan. Dan memang akhirnya betul begitu.

Saya tahu persis, usaha saya berkeliling mencari minyak tanah kulakan itu berakhir sia-sia karena hampir separonya tumpah oleh kecelakaan itu, yang berarti potensi keuntungan juga turut raib. Tentu saya sempat kecewa. Tapi, tak lama kemudian, saya berpikir bahwa mungkin hidup memang seperti itu, kadang tidak seperti yang kita harapkan. Apa yang kita kerjakan, meskipun sungguh-sungguh, tak selalu lancar bagi kita untuk mendapatkan hasilnya. Sejak saat itu, saya menjadi percaya klausa klasik, “Ya sudah, namanya juga hidup. Jalani saja”, kata-kata yang kerap menjadi wujud penghiburan diri yang efektif dari realita yang melenceng dari ekspektasi.

Enam tahun lalu, saat saya mulai bekerja di salah satu kantor Pemerintah, saya sempat kaget dengan ritme kerja yang bisa dibilang gila. Pernah dalam seminggu saya rata-rata pulang jam 1 dinihari untuk menyiapkan keperluan bahan (mantan) Menteri, untuk kemudian harus datang jam setengah delapan pagi. Namun, seberat apapun pekerjaan di kantor ini, saya masih merasa bersyukur karena saya dibayar layak. Saya pikir, memang saya harus siap bekerja optimal. Harus siap kehilangan waktu luang. Juga harus siap dengan segala resiko pekerjaan.

Sebab, apapun yang saya alami di kantor ini, rasanya saya tak perlu hingga bertaruh nyawa hanya untuk beberapa ratus rupiah per liter minyak tanah seperti kejadian empat belas tahun lalu. Juga peristiwa-peristiwa sejenis setelahnya. Pun jika harus melihat kepada orang-orang lain yang bekerja keras di jalanan demi pendapatan yang tak seberapa. Yang sekeras apapun mereka bekerja, sangat mungkin tidak akan membuat mereka kaya raya, akibat struktur sosial yang membelenggu, yang tak memungkinkan mereka naik kelas.

Tentu sebagaimana manusia pada umumnya, keluhan-keluhan akan muncul pada situasi sulit. Namun, pada suatu kejadian tak mengenakkan, saya selalu berusaha menemukan sesuatu untuk disyukuri daripada dikutuki. Jika masih gagal, saya mengingat kejadian empat belas tahun lalu, dan peristiwa serupa lainnya, untuk mensyukuri bahwa sudah cukup jauh juga perjalanan saya sampai di titik ini. Jika penghiburan itu masih tidak berhasil juga, saya paling cukup berucap, “Namanya juga hidup”.

Tesis Itu Merah, Jenderal!

Leave a comment

Bersamaan dengan pergantian musim dari musim gugur ke musim dingin, tahun 2015, saya berjuang habis-habisan menyelesaikan tesis. Masa itu adalah periode yang tidak mudah. Sama tidak mudahnya dengan menjaga keseimbangan saat naik sepeda di kala badai di Den Haag.

Kesulitan-kesulitan itu mencakup faktor teknis dan nonteknis. Saat akhirnya saya bisa melewati semuanya, dan lulus, meski nilai rata-rata air, rasanya ada kelegaan yang luar biasa. Diantara kesulitan itu adalah:

  1. Menulis

Secara prosedural, embrio tesis saya telah melewati final seminar, semacam pendadaran yang ditonton umum tapi tidak dinilai. Selain itu, sudah beberapa kali melalui sesi konsultasi dengan pembimbing dan second reader. Pun sudah beberapa kali pula dibaca dan dikritisi dua-tiga teman. Juga telah dirapal mantra-mantra pertolongan metafisik bernama doa, dan diratapi dengan penyesalan yang muncul setiap pulang dari bar, “asu tenan, ngapain gak tak kerjain tadi, malah ke bar. Yaudahlah, tidur aja”.

Persoalan penulisan berkutat pada banyak aspek. Pertama, bayangan akan kegagalan mencapai batas minimal 15.000 kata. Batas waktu terus mendekat, namun wordcount masih belum juga menembus 10.000. Kedua, masalah pada muatan tesis saya sendiri, terutama tentang data dan metodologi. Sebagian besar rekan mahasiswa yang risetnya sama-sama kualitatif mengambil data primer. Sedangkan saya, sekunder. Keterbatasan data membuat saya khawatir kalau tesis saya akan tidak cukup memenuhi syarat kelulusan. Sebulan kemudian, setelah saya berhasil lulus, kritik paling penting dari pembimbing dan second reader ternyata memang masalah data.

Pada akhirnya, saya memang berhasil menyelesaikannya. Terjadi begitu saja. Saya menulis terus, dan makin mendekati garis mati (deadline), kecepatan penulisan bertambah secara signifikan. Yang saya tidak paham adalah dimana kecepatan ini berada sebelumnya. Kata-kata yang sebelumnya tak pernah terpikirkan, tiba-tiba mengalir kencang. Rasanya seperti kata-kata itu tak pernah eksis saat jauh dari deadline. Barangkali, situasi menekan memang menyebabkan fungsi otak kita bekerja secara optimal.

Saya lalu menasbihkan diri saya sendiri sebagai deadliner garis keras. Mungkin, deadliner, jika dibagi menurut latar belakangnya, dapat dibagi menjadi tiga jenis. Pertama, menjadi deadliner karena memang tuntutan. Misalnya, jurnalis atau content writer. Kedua, karena malas, sehingga terus menunda tanpa alasan yang jelas. Misalnya, sebagian besar mahasiswa S1 di HI UGM angkatan 2004. Ketiga, karena gabungan faktor pertama dan kedua. Misalnya, saya saat menulis tesis.

  1. Makan

Masa-masa akhir penulisan tesis adalah periode dimana makan adalah hal yang sulit. Bahkan untuk sekedar berjalan ke Centrum (pusat kota Den Haag) membeli makanan-jadi saja rasanya kurang tenang. Merasa merugi atas waktu yang terbuang saat berjalan. Apalagi memasak.

Saya bersyukur akhirnya menemukan solusi atas masalah perut ini. Membentuk semacam grup ‘katering’. Empat orang. Setiap orang memasak secara bergantian untuk satu grup. Satu orang hari Senin, orang kedua hari Selasa, ketiga Rabu, dan seterusnya secara bergiliran-berurutan. Lumayan juga, selain  efisien secara waktu, juga lebih bisa irit dalam belanja.

Kalau ada masalah dalam kelompok, adalah kemampuan memasak yang tidak merata. Tiga anggota selain saya punya keahlian masing-masing. Anggota pertama, sebut saja Citra (bukan bukan nama sebenarnya), jago masakan nusantara pun internasional. Tidak perlu diragukan lagi. Anggota kedua, sebut saja Asti (bukan bukan nama sebenarnya pula), pintar dalam mengkomposisikan makanan penuh nutrisi. Juga rajin bereksperimen. Dan sering berhasil.  Anggota ketiga, Sandra (bukan bukan nama sebenarnya juga), punya keahlian memasak makanan kekinian dan, yang paling istimewa, puding. Anggota keempat, saya sendiri. Menggoreng telur dadar saja sering luput. Kadang jadinya telur dadar with extra salt (keasinan), lebih sering  overcooked (gosong), atau oily (terlalu berminyak).

Setidaknya, teman-teman saya tidak ada yang keracunan meski harus makan masakan saya sekali dalam empat hari.

Kelompok katering ini sangat membantu penulisan tesis. Waktu yang biasa dialokasikan untuk berbelanja dan memasak, jadi bisa dialihkan untuk menyicil tesis. Walaupun kenyataannya tidak demikian juga. Damn Youtu*be!

  1. Musim dingin

Program kuliah saya lebih dari setahun, jadi sebenarnya saya telah mengalami musim dingin di tahun sebelumnya. Seharusnya tidak jadi masalah. Namun, di luar dugaan saya, ternyata tidak semudah itu.

Cuaca? Tidak masalah. Saya sudah tahu harus bagaimana kalau di luar cuaca sedang dingin. Saya bahkan sudah bisa secara rikat memakai setelan musim dingin: long johns, jaket penghangat dan sepatu tebal. Lagipula ada heater di dalam ruangan.

Angin? Belanda memang sangat kejam soal urusan ini. Payung bawaan dari wilayah seputar garis khatulistiwa pasti hancur di sana. Seringkali, yang membuat hidung bocah tropis meler bukan suhu yang terlampau rendah, tetapi terpaan angin yang sungguh kencang. Memang buruk. Namun, saya sudah mulai terbiasa dengannya.

Lalu, persoalannya apa?

Perubahan siang-malam masalahnya. Di musim dingin, siang jadi lebih singkat. Kira-kira jam 7-8 pagi matahari baru muncul, dan sudah tenggelam di sekitar jam 4-5. Seharusnya hal itu tidak cukup berpengaruh, toh jatah hidup kita tetap 24 jam sehari. Masalahnya, saya cenderung menjadi lengah. Jam terbaik saya berpikir sistematis adalah pada siang menjelang sore hari. Sedangkan malamnya, saat sudah menggelap, otak kreatif yang lebih banyak bekerja. Maka, pergeseran jam itu membuat saya lebih malas berpikir sejak jam 4 sore, beberapa jam lebih awal dari seharusnya.

Solusinya, tidak ada jalan lain kecuali memaksa diri untuk menulis di waktu apapun. Siang maupun malam. Dan tak ada yang bisa memaksa selain, lagi-lagi, deadline. Semakin mendekati batas akhir, semakin tak peduli waktu. Sampai akhirnya, dua hari terakhir, siang sampai malam saya mengerjakannya tanpa henti. Untungnya laptop saya pengertian, tidak mogok kerja meski dipaksa hidup lebih dari 30 jam.

  1. Peer pressure

Saya sebetulnya tipe orang yang tak suka berkompetisi dan cenderung tak peduli dengan pencapaian orang lain. Jadi, meskipun penulisan teman-teman sudah hampir selesai, saya tidak akan merasa terganggu, selama saya masih merasa on progress. Masalahnya, saat itu saya ragu apakah kerjaan saya masih on track. Ketidakpercayaan diri itu menyebabkan kemajuan penulisan teman-teman menjadi beban tersendiri.

Melihat teman sudah menyelesaikan tulisan dan tinggal proofreading di saat saya masih berjuang merumuskan halaman-halaman kesimpulan, adalah hal yang cukup menyebalkan. Rasanya seperti, teman-teman sudah naik kereta ke Groningen, saya masih menunggu tram di tengah kota Den Haag. Mental block ini cukup mengganggu.

Untuk mengatasinya, saya lalu berpikir bahwa cara bekerja tiap orang berbeda. Maka, penilaian hanya akan obyektif jika menilik hasil. Bukan perkembangan, atau kemajuan, dalam proses. Tentu hal ini tidak tepat, tapi dalam konteks orang memerlukan penguatan mental, metode ini cukup efektif. Selain itu, sesekali perlu untuk melihat teman yang lebih keteteran dari kita. Hal ini juga tentu tidak baik jika terus dijadikan acuan, karena kita bisa salah memilih benchmark.  Namun, untuk sekedar menenangkan diri, tidak ada salahnya.

screenshot_2017-03-02-14-37-28==========

Saat kemudian berhasil melewati itu semua, dan pulang membawa tesis yang paripurna, saya tentu bahagia. Terlepas dari hasil yang sungguh biasa saja, dan usaha yang tidak bisa dibilang optimal, saya merasa mendapatkan apa yang memang layak saya dapatkan. I got what I deserve.

Masa-masa penulisan tesis, adalah salah satu periode yang akan paling saya kenang dalam hidup. Masa-masa itu memberi saya pelajaran bahwa pada kesulitan-kesulitan yang kita hadapi, akan ada jalan keluar dan cara mengatasinya. Terdengar klise memang. Saya tidak bermaksud sok tahu, seperti para motivator itu, bahwa semua kesulitan dapat diatasi. Ada kalanya kita harus gagal, kalah, atau merelakan kehilangan. Namun, satu hal, bahwa selama kita tak mudah menyerah, probabilitas untuk berhasil akan lebih besar.

Perjalanan ke Krakow: Kota Tua Yang Indah

Leave a comment

Saat itu, musim dingin menjelang purna. Salju yang tersisa telah menjadi beku. Pada malam, bintang-bintang terlihat gemilang, tersebar dan sumunar pada kanvas maha luas bernama langit. Pada siang, cahaya bagaskara ramah menyapa buwana dan para jalma yang berjalan di atasnya. Namun, hangat masih enggan tiba. Dingin tetap menyelinap hingga ke tulang, tanpa salam dan tegur sapa. Dan kota tua itu, masih tegak berdiri.

Kota tua itu bernama Krakow. Berada di sebuah negara Eropa Tengah bernama Polandia, eksistensi kota ini telah tercatat sejarah sejak abad pertengahan. Sebelum Warsawa menggantikannya, Krakow cukup lama menjadi ibukota sebuah wilayah yang kini di bawah Polandia. Krakow ialah juga tempat dimana komunitas Yahudi di Eropa Tengah bertumbuh, dan kemudian terbunuh oleh rezim fasis Nazi. Konon, di kota itu, pada suatu masa, makhluk legendaris bernama naga hidup dan dipelihara.

Krakow, adalah kota tua yang indah.

 

krakow old town hall

1.Krakow Old Town Hall.

wawel castle

2. Wawel Castle.

izaak synagoge

3. Izaak Syanogogue, di Krakow Jews Quarter.

DSC_0385

4. Gereja St. Peter and Paul.

DSC_0387

5. Gereja St. Andrews.

plac nowy market 1

plac nowy market

6. Pasar Plac Nowy.

st florians gate

7a. St. Florians Gate.

relief st.florians

7b. Relief St. Florians di St. Florians Gate.

florianska street

8. Jalan Florianska.

DSC_0445

9. Sungai Vistula.

papan arah di krakow

10. Papan petunjuk arah yang menarik dengan nama dan jarak ke berbagai kota di Eropa, dari Sevilla (Spanyol), Budapest (Hungaria), sampai Tbilisi (Georgia).

grafitti krakow

11. Sebagaimana di kota-kota lain, grafitti/lukisan dinding menjadi salah satu bentuk ekspresi masyarakat urban di Krakow.

wp_20150215_10_14_15_pro1

12. Musti dipahami bahwa makhluk tropis-agraris dari Kecamatan Kalasan akan selalu terkagum-kagum dengan salju, bahkan jika sudah berbentuk seperti es batu sekalipun, dan oleh sebab itu harus dibuatkan foto diri di atasnya. Terima kasih pada yang telah memoto saya. Masalahnya, saya lupa siapa tepatnya diantara teman travelling saat itu yang telah dengan baik hati melakukannya. Sesekali saya pikir, mungkin saya perlu memarahi ingatan, yang sering keterlaluan: menghapus yang seharusnya disimpan dan menyimpan yang semestinya enyah.

 

*Perjalanan dilakukan pada bulan Februari 2015
**Semua foto di atas dibuat oleh saya kecuali foto nomor 12. 
***Foto nomor 1,2,3,4,5,6,7b,8,9,10,11 dibuat memakai kamera Nikon D90.
****Foto nomor 7a dan 12 dibuat menggunakan kamera HP pada Nokia Lumia (lupa serinya).

 

 

Perjalanan ke Praha (4): Prague Castle

Leave a comment

(Februari 2015)

 

Prague Castle adalah juga satu kawasan yang tak semestinya dilewatkan. Selain karena ada bangunan-bangunan megah bersejarah panjang, kawasan ini terletak di tempat tinggi yang berarti dari sana, lanskap kota Praha dapat dinikmati secara cukup menyeluruh.

Kawasan ini sudah ada sejak abad ke-9. Sudah sejak lama pula, Prague Castle menjadi tempat kediaman para penguasa wilayah yang kini mungkin meliputi beberapa negara di Eropa Tengah. Tercatat, raja-raja Bohemia, pemimpin Dinasti Habsburg di bawah tahta suci Roma, sampai Presiden Cekoslowakia menjadikan tempat ini sebagai pusat kekuasaan. Saat ini pun, salah satu bangunan di kawasan ini masih menjadi tempat tinggal resmi untuk Presiden Republik Ceko.

Untuk mencapai Prague Castle, perlu menjalani tanjakan yang cukup curam. Anak-anak tangga harus ditaklukkan (baru anaknya lho, gimana emaknya, halah). Walaupun lumayan menguras bak keringat, tetapi karena di kanan-kiri jalan terdapat toko-toko yang menjual beraneka jenis barang, dari sandang, souvenir, hingga pangan, juga gedung-gedung unik, lelahnya menjadi tak terlalu terasa. WP_20150213_12_21_04_Pro

Bagian depan Gereja Katedral St. Vitus

WP_20150213_12_19_18_Pro.jpg

Sumur tua dan Pancuran Air di Tengah Castle

WP_20150213_16_37_35_Pro.jpg

St. Wenceslas Vineyard dan Pemandangan Kota

DSC_0492

Lanskap Kota Praha di malam hari dari Prague Castle

Mengunjungi Prague Castle, dan bangunan-bangunan kuno di Praha yang masih dipakai, membuat saya berpikir bahwa hal-hal kuno tak mesti semua harus disapu modernisasi. Masalahnya, sejak awal, secara konsep, kekunoan seringkali dipertentangkan dengan kekinian. Praha sebenarnya bisa menjadi contoh sahih dimana menjadi modern bisa dilakukan di tempat-tempat berlabel klasik. Namun demikian, tak bisa dipungkiri bahwa hal itu menjadi sangat kontekstual. St. Vitus misalnya, walaupun dibangun berabad lalu, namun secara teknis (dilihat dari kekuatan bangunannya misalnya) mungkin masih bisa dipakai, atau barangkali secara desain juga bisa disesuaikan dengan kebutuhan masa kini (bisa dipasangi heater/AC misalnya). Selain itu, sekilas memang tidak ada kerusakan serius yang terjadi dalam sekian abad. Yang tak kalah penting lagi, pergantian kekuasaan tak serta-merta berarti penghancuran.

Faktor-faktor tersebut yang mungkin menyebabkan bangunan-bangunan dari jaman kuno di belahan bumi lain tak bisa diperlakukan sama. Ada perubahan drastis dalam hal lingkungan, dan bahkan bentuk, yang terjadi. Perubahan drastis tersebut bisa disebabkan oleh bencana alam seperti yang jamak terjadi di wilayah rawan bencana macam Indonesia. Contohnya adalah bekas kerajaan Mataram Hindu yang hancur luluh oleh letusan Merapi semilenium lalu. Dapat pula disebabkan oleh faktor ketidaksesuaian bangunan dengan kebutuhan jaman. Seperti, rasa-rasanya tidak mungkin memasang AC di Kraton Ratu Boko. Bisa juga oleh pergantian kekuasaan yang kemudian menafikan, bahkan menghancurkan, bangunan masa silam yang entah kenapa dianggap mengancam. Misalnya seperti apa yang terjadi pada Palmyra di Syria yang dihancurkan ISIS dan peninggalan peradaban Timbuktu di Mali yang diratakan Ansar Dine.

Pada akhirnya, Praha seperti ingin menunjukkan bahwa keindahan masa lalu yang dirawat dengan sungguh-sungguh dapat membawa kebaikan bagi masa kini, dan masa depan. Bayangkan jika perawatan tak secara layak dilakukan, Praha mungkin tak lagi sama. Menurut saya, keindahan arsitektur dari masa lalu, beserta kisah yang mengiringinya, telah membentuk karakter kuat kota ini dan menciptakan suasana magis di banyak sudutnya.

Perjalanan ke Praha (3): Prague Old Town

Leave a comment

(Februari 2015)

 

Bagian lain yang juga luar biasa dari Praha adalah kota tua (Old Town). Di kawasan ini terdapat bangunan, benda, sudut dan jalan yang hampir semuanya memiliki keunikan dan narasi yang menarik untuk dibagi. Mulai dari Astronomical Clock yang melegenda, Old Town Square yang luas dan bersejarah, hingga wilayah permukiman Yahudi dengan sinagoga tua yang masih aktif dipakai hingga kini. Semua titik itu bisa dijangkau dengan hanya berjalan kaki.

  1. Astronomical Clock

Dibangun pada awal abad 15, Astronomical Clock di Praha adalah salah satu jam astronomi tertua di dunia. Jam kawakan ini terdiri dari tiga komponen berbeda, yang pertama adalah muka jam yang merepresentasikan posisi matahari dan bulan di langit. Yang kedua disebut “The Walk of the Apostles”, sebuah mesin jam yang pada setiap satu jam-nya menunjukkan sosok para Apostle (rasul dalam tradisi Kristiani) dan patung berbagai karakter. Yang ketiga adalah piringan kalender dengan medallion menggambarkan bulan-bulan. Menurut legenda lokal, kota Praha akan mengalami penderitaan apabila jam ini diabaikan dan sosok hantu yang dipasang pada jam menganggukkan kepalanya sebagai simbol konfirmasi datangnya bencana.

Astronomical Clock saat ini menjadi semacam landmark kota Praha. Sebagai jam yang sudah terpasang lebih dari 700 tahun, saya pikir jam ini menakjubkan. Pertama, karena masih beroperasi. Kedua, karena cerita yang mengiringinya. Dengan adanya makna di tiap komponen utamanya, juga legenda lokal yang terus diwariskan secara lintas generasi, Astronomical Clock menjadi menarik bukan hanya karena tua usianya, tapi juga karena memiliki makna atau cerita yang bisa dibagi. Mungkin, banyak orang di dunia ini yang mampu merawat benda warisan selama berabad lamanya. Namun, tak banyak yang mampu memberi makna dan menceritakan sesuatu.

DSC_0030

2. Old Town Square

Tempat ini, sebagaimana square-square di banyak negara lain di Eropa, berwujud lapangan luas dengan bangunan-bangunan penting di sekitarnya. Ada Old Town Hall, ada gereja tua (bukan lagu Panbers). Old Town Hall di sini merupakan serangkaian bangunan tua yang dulu dipakai sebagai kantor pemerintahan. Sedangkan gereja tua (yang bukan lagu Panbers) itu bernama Kostel Matky Boží před Týnem, yang dalam Bahasa Inggris berarti Church of Our Lady before Týn, atau Church of Mother of God before Týn.

Kabarnya, di square ini pernah terjadi berbagai peristiwa bersejarah dan juga berdarah-darah. Adalah darah 27 orang pemimpin revolusi Bohemia yang pernah tumpah di di sini. Revolusi Bohemia (Bohemian Revolt) tercatat sejarah sebagai perlawanan kelompok Bohemian, yang menganut Protestan, kepada Dinasti Habsburgs yang Katolik, pada awal abad 17. Singkat cerita, kelompok Bohemian takluk pada sebuah pertempuran yang dikenal dengan nama Battle of White Mountain. Pertempuran itu mengakhiri kontestasi power antara kedua pihak selama puluhan tahun, dan tentu saja menyeret para pemimpin pihak yang kalah untuk dieksekusi mati, di Old Tow Square.

DSC_0039

Old Town Square di sore hari, abaikan kelakukan teman-teman saya itu

3. Jews Quarter

Komunitas Yahudi memiliki sejarah yang panjang di Praha. Kehadiran mereka telah diperhitungkan sejak abad ke-16. Bahkan pada abad ke-18, jumlah warga Yahudi  di Praha pernah mencapai seperempat dari keseluruhan penduduk Praha. Dapat dimaklumi jika kemudian saat ini terdapat sejumlah peninggalan penting. Misalnya, sebuah sinagog dari abad 14. Disebut sebagai Old-New Synagogue, sinagog ini masih digunakan untuk beribadah jemaat Judaisme Ortodoks. Selain itu, terdapat juga pemakaman Yahudi kuno yang mulai dipakai pada abad ke-14 dan ditutup pada abad ke-17. Pemakaman yang kabarnya merupakan salah satu situs kuno Yahudi yang selamat dari penghancuran massal di era Nazi.

DSC_0050

Old-New Synagogue

DSC_0060

Bagian depan Jewish Cemetery

 

Mengunjungi Old Town di Praha, saya sempat teringat Old Town di Jakarta: Kawasan Kota Tua. Sebenarnya tidak fair membandingkan keduanya. Konteks sejarahnya sangat jauh berbeda. Tetapi, di sisi lain, saya juga tak bisa memungkiri bahwa sedih juga Kota Tua di Jakarta tidak bisa menyampaikan banyak cerita, sebagaimana Old Town di Praha. Tak banyak yang tahu, misalnya gedung-gedung di sekitar museum Wayang dahulu digunakan sebagai apa. Juga di Kota Tua “Square”, apa tanah lapang luas di sana selama ratusan tahun hanya berarti tanah lapang yang tak memiiki kisah apa-apa?

Mungkin, kita terlalu menganggap remeh masa lalu. Adagium “yang berlalu, biarlah berlalu” seringkali diangkat sebagai pembenaran atas penepian sejarah. Saya rasa itu kejam, karena cerita dari masa lalu tak melulu harus diabaikan. Kisah dari masa silam, dan juga peninggalan lainnya, tak sekedar pengingat dari mana kita dan peradaban kita beranjak. Namun juga penghargaan kita sebagai manusia atas karya peradaban lampau. Pun untuk memelihara kekaguman atas keindahan karya seni, arsitektur, tulisan, ritus, bahkan kisah, yang rasa-rasanya teramat sayang untuk hilang begitu saja ditelan jaman.

Rasa-rasanya apaan, ah, perasaan loe aja kali Mas?

 

Perjalanan ke Praha (2): Charles Bridge

Leave a comment

(Februari 2015)

 

Charles Bridge adalah sebuah jembatan tua yang membelah Praha. Jembatan ini nampak megah dengan patung berbagai karakter sejumlah 30 buah yang berdiri di kanan-kiri jembatan. Mengiris sungai Vtava, Charles Bridge menghubungkan dua tempat penting di Praha, yaitu Old Town dan Prague Castle.

Jembatan ini di siang hari mempresentasikan secara gamblang bangunan dan patung gaya baroque dari abad pertengahan dengan detail yang khas. Di malam hari, lampu remang yang memantul dari sungai Vtava dengan latar belakang Prague Castle yang megah menjulang, membentuk kecantikan yang terkesan dingin namun mempesona.

Mau siang mau malam, jembatan ini sempurna secara visual. Jika ada satu hal yang mengurangi kekhusyukan tempat ini, adalah keramaian yang kadang terlalu. Sebagai tujuan utama para pelancong, hal itu pada akhirnya musti dimaklumi.

DSC_0190a

  1. Charles Bridge malam hari

DSC_0129

2. Charles Bridge dengan background Prague Castle

DSC_0179

3. Salah satu patung di pinggiran Charles Bridge

DSC_0172

4. Charles Bridge dini hari

 

Jembatan ini memang sangat indah. Namun, selalu penuh orang hingga kira-kira tengah malam. Mungkin begitulah hukum yang berlaku, bahwa pesona selalu menarik perhatian banyak orang. Alamiah saya rasa. Untuk bangunan, pesona seringkali perkara visual. Berlaku hanya untuk bangunan, tentu. Untuk manusia? Sepertinya jauh lebih kompleks. Di mata saya, setiap manusia selalu punya daya pikat dalam caranya masing-masing.

Untuk Charles Bridge? Ialah seindah-indah bangunan. .

Older Entries