Home

Tesis Itu Merah, Jenderal!

Leave a comment

Bersamaan dengan pergantian musim dari musim gugur ke musim dingin, tahun 2015, saya berjuang habis-habisan menyelesaikan tesis. Masa itu adalah periode yang tidak mudah. Sama tidak mudahnya dengan menjaga keseimbangan saat naik sepeda di kala badai di Den Haag.

Kesulitan-kesulitan itu mencakup faktor teknis dan nonteknis. Saat akhirnya saya bisa melewati semuanya, dan lulus, meski nilai rata-rata air, rasanya ada kelegaan yang luar biasa. Diantara kesulitan itu adalah:

  1. Menulis

Secara prosedural, embrio tesis saya telah melewati final seminar, semacam pendadaran yang ditonton umum tapi tidak dinilai. Selain itu, sudah beberapa kali melalui sesi konsultasi dengan pembimbing dan second reader. Pun sudah beberapa kali pula dibaca dan dikritisi dua-tiga teman. Juga telah dirapal mantra-mantra pertolongan metafisik bernama doa, dan diratapi dengan penyesalan yang muncul setiap pulang dari bar, “asu tenan, ngapain gak tak kerjain tadi, malah ke bar. Yaudahlah, tidur aja”.

Persoalan penulisan berkutat pada banyak aspek. Pertama, bayangan akan kegagalan mencapai batas minimal 15.000 kata. Batas waktu terus mendekat, namun wordcount masih belum juga menembus 10.000. Kedua, masalah pada muatan tesis saya sendiri, terutama tentang data dan metodologi. Sebagian besar rekan mahasiswa yang risetnya sama-sama kualitatif mengambil data primer. Sedangkan saya, sekunder. Keterbatasan data membuat saya khawatir kalau tesis saya akan tidak cukup memenuhi syarat kelulusan. Sebulan kemudian, setelah saya berhasil lulus, kritik paling penting dari pembimbing dan second reader ternyata memang masalah data.

Pada akhirnya, saya memang berhasil menyelesaikannya. Terjadi begitu saja. Saya menulis terus, dan makin mendekati garis mati (deadline), kecepatan penulisan bertambah secara signifikan. Yang saya tidak paham adalah dimana kecepatan ini berada sebelumnya. Kata-kata yang sebelumnya tak pernah terpikirkan, tiba-tiba mengalir kencang. Rasanya seperti kata-kata itu tak pernah eksis saat jauh dari deadline. Barangkali, situasi menekan memang menyebabkan fungsi otak kita bekerja secara optimal.

Saya lalu menasbihkan diri saya sendiri sebagai deadliner garis keras. Mungkin, deadliner, jika dibagi menurut latar belakangnya, dapat dibagi menjadi tiga jenis. Pertama, menjadi deadliner karena memang tuntutan. Misalnya, jurnalis atau content writer. Kedua, karena malas, sehingga terus menunda tanpa alasan yang jelas. Misalnya, sebagian besar mahasiswa S1 di HI UGM angkatan 2004. Ketiga, karena gabungan faktor pertama dan kedua. Misalnya, saya saat menulis tesis.

  1. Makan

Masa-masa akhir penulisan tesis adalah periode dimana makan adalah hal yang sulit. Bahkan untuk sekedar berjalan ke Centrum (pusat kota Den Haag) membeli makanan-jadi saja rasanya kurang tenang. Merasa merugi atas waktu yang terbuang saat berjalan. Apalagi memasak.

Saya bersyukur akhirnya menemukan solusi atas masalah perut ini. Membentuk semacam grup ‘katering’. Empat orang. Setiap orang memasak secara bergantian untuk satu grup. Satu orang hari Senin, orang kedua hari Selasa, ketiga Rabu, dan seterusnya secara bergiliran-berurutan. Lumayan juga, selain  efisien secara waktu, juga lebih bisa irit dalam belanja.

Kalau ada masalah dalam kelompok, adalah kemampuan memasak yang tidak merata. Tiga anggota selain saya punya keahlian masing-masing. Anggota pertama, sebut saja Citra (bukan bukan nama sebenarnya), jago masakan nusantara pun internasional. Tidak perlu diragukan lagi. Anggota kedua, sebut saja Asti (bukan bukan nama sebenarnya pula), pintar dalam mengkomposisikan makanan penuh nutrisi. Juga rajin bereksperimen. Dan sering berhasil.  Anggota ketiga, Sandra (bukan bukan nama sebenarnya juga), punya keahlian memasak makanan kekinian dan, yang paling istimewa, puding. Anggota keempat, saya sendiri. Menggoreng telur dadar saja sering luput. Kadang jadinya telur dadar with extra salt (keasinan), lebih sering  overcooked (gosong), atau oily (terlalu berminyak).

Setidaknya, teman-teman saya tidak ada yang keracunan meski harus makan masakan saya sekali dalam empat hari.

Kelompok katering ini sangat membantu penulisan tesis. Waktu yang biasa dialokasikan untuk berbelanja dan memasak, jadi bisa dialihkan untuk menyicil tesis. Walaupun kenyataannya tidak demikian juga. Damn Youtu*be!

  1. Musim dingin

Program kuliah saya lebih dari setahun, jadi sebenarnya saya telah mengalami musim dingin di tahun sebelumnya. Seharusnya tidak jadi masalah. Namun, di luar dugaan saya, ternyata tidak semudah itu.

Cuaca? Tidak masalah. Saya sudah tahu harus bagaimana kalau di luar cuaca sedang dingin. Saya bahkan sudah bisa secara rikat memakai setelan musim dingin: long johns, jaket penghangat dan sepatu tebal. Lagipula ada heater di dalam ruangan.

Angin? Belanda memang sangat kejam soal urusan ini. Payung bawaan dari wilayah seputar garis khatulistiwa pasti hancur di sana. Seringkali, yang membuat hidung bocah tropis meler bukan suhu yang terlampau rendah, tetapi terpaan angin yang sungguh kencang. Memang buruk. Namun, saya sudah mulai terbiasa dengannya.

Lalu, persoalannya apa?

Perubahan siang-malam masalahnya. Di musim dingin, siang jadi lebih singkat. Kira-kira jam 7-8 pagi matahari baru muncul, dan sudah tenggelam di sekitar jam 4-5. Seharusnya hal itu tidak cukup berpengaruh, toh jatah hidup kita tetap 24 jam sehari. Masalahnya, saya cenderung menjadi lengah. Jam terbaik saya berpikir sistematis adalah pada siang menjelang sore hari. Sedangkan malamnya, saat sudah menggelap, otak kreatif yang lebih banyak bekerja. Maka, pergeseran jam itu membuat saya lebih malas berpikir sejak jam 4 sore, beberapa jam lebih awal dari seharusnya.

Solusinya, tidak ada jalan lain kecuali memaksa diri untuk menulis di waktu apapun. Siang maupun malam. Dan tak ada yang bisa memaksa selain, lagi-lagi, deadline. Semakin mendekati batas akhir, semakin tak peduli waktu. Sampai akhirnya, dua hari terakhir, siang sampai malam saya mengerjakannya tanpa henti. Untungnya laptop saya pengertian, tidak mogok kerja meski dipaksa hidup lebih dari 30 jam.

  1. Peer pressure

Saya sebetulnya tipe orang yang tak suka berkompetisi dan cenderung tak peduli dengan pencapaian orang lain. Jadi, meskipun penulisan teman-teman sudah hampir selesai, saya tidak akan merasa terganggu, selama saya masih merasa on progress. Masalahnya, saat itu saya ragu apakah kerjaan saya masih on track. Ketidakpercayaan diri itu menyebabkan kemajuan penulisan teman-teman menjadi beban tersendiri.

Melihat teman sudah menyelesaikan tulisan dan tinggal proofreading di saat saya masih berjuang merumuskan halaman-halaman kesimpulan, adalah hal yang cukup menyebalkan. Rasanya seperti, teman-teman sudah naik kereta ke Groningen, saya masih menunggu tram di tengah kota Den Haag. Mental block ini cukup mengganggu.

Untuk mengatasinya, saya lalu berpikir bahwa cara bekerja tiap orang berbeda. Maka, penilaian hanya akan obyektif jika menilik hasil. Bukan perkembangan, atau kemajuan, dalam proses. Tentu hal ini tidak tepat, tapi dalam konteks orang memerlukan penguatan mental, metode ini cukup efektif. Selain itu, sesekali perlu untuk melihat teman yang lebih keteteran dari kita. Hal ini juga tentu tidak baik jika terus dijadikan acuan, karena kita bisa salah memilih benchmark.  Namun, untuk sekedar menenangkan diri, tidak ada salahnya.

screenshot_2017-03-02-14-37-28==========

Saat kemudian berhasil melewati itu semua, dan pulang membawa tesis yang paripurna, saya tentu bahagia. Terlepas dari hasil yang sungguh biasa saja, dan usaha yang tidak bisa dibilang optimal, saya merasa mendapatkan apa yang memang layak saya dapatkan. I got what I deserve.

Masa-masa penulisan tesis, adalah salah satu periode yang akan paling saya kenang dalam hidup. Masa-masa itu memberi saya pelajaran bahwa pada kesulitan-kesulitan yang kita hadapi, akan ada jalan keluar dan cara mengatasinya. Terdengar klise memang. Saya tidak bermaksud sok tahu, seperti para motivator itu, bahwa semua kesulitan dapat diatasi. Ada kalanya kita harus gagal, kalah, atau merelakan kehilangan. Namun, satu hal, bahwa selama kita tak mudah menyerah, probabilitas untuk berhasil akan lebih besar.

Perjalanan ke Krakow: Kota Tua Yang Indah

Leave a comment

Saat itu, musim dingin menjelang purna. Salju yang tersisa telah menjadi beku. Pada malam, bintang-bintang terlihat gemilang, tersebar dan sumunar pada kanvas maha luas bernama langit. Pada siang, cahaya bagaskara ramah menyapa buwana dan para jalma yang berjalan di atasnya. Namun, hangat masih enggan tiba. Dingin tetap menyelinap hingga ke tulang, tanpa salam dan tegur sapa. Dan kota tua itu, masih tegak berdiri.

Kota tua itu bernama Krakow. Berada di sebuah negara Eropa Tengah bernama Polandia, eksistensi kota ini telah tercatat sejarah sejak abad pertengahan. Sebelum Warsawa menggantikannya, Krakow cukup lama menjadi ibukota sebuah wilayah yang kini di bawah Polandia. Krakow ialah juga tempat dimana komunitas Yahudi di Eropa Tengah bertumbuh, dan kemudian terbunuh oleh rezim fasis Nazi. Konon, di kota itu, pada suatu masa, makhluk legendaris bernama naga hidup dan dipelihara.

Krakow, adalah kota tua yang indah.

 

krakow old town hall

1.Krakow Old Town Hall.

wawel castle

2. Wawel Castle.

izaak synagoge

3. Izaak Syanogogue, di Krakow Jews Quarter.

DSC_0385

4. Gereja St. Peter and Paul.

DSC_0387

5. Gereja St. Andrews.

plac nowy market 1

plac nowy market

6. Pasar Plac Nowy.

st florians gate

7a. St. Florians Gate.

relief st.florians

7b. Relief St. Florians di St. Florians Gate.

florianska street

8. Jalan Florianska.

DSC_0445

9. Sungai Vistula.

papan arah di krakow

10. Papan petunjuk arah yang menarik dengan nama dan jarak ke berbagai kota di Eropa, dari Sevilla (Spanyol), Budapest (Hungaria), sampai Tbilisi (Georgia).

grafitti krakow

11. Sebagaimana di kota-kota lain, grafitti/lukisan dinding menjadi salah satu bentuk ekspresi masyarakat urban di Krakow.

wp_20150215_10_14_15_pro1

12. Musti dipahami bahwa makhluk tropis-agraris dari Kecamatan Kalasan akan selalu terkagum-kagum dengan salju, bahkan jika sudah berbentuk seperti es batu sekalipun, dan oleh sebab itu harus dibuatkan foto diri di atasnya. Terima kasih pada yang telah memoto saya. Masalahnya, saya lupa siapa tepatnya diantara teman travelling saat itu yang telah dengan baik hati melakukannya. Sesekali saya pikir, mungkin saya perlu memarahi ingatan, yang sering keterlaluan: menghapus yang seharusnya disimpan dan menyimpan yang semestinya enyah.

 

*Perjalanan dilakukan pada bulan Februari 2015
**Semua foto di atas dibuat oleh saya kecuali foto nomor 12. 
***Foto nomor 1,2,3,4,5,6,7b,8,9,10,11 dibuat memakai kamera Nikon D90.
****Foto nomor 7a dan 12 dibuat menggunakan kamera HP pada Nokia Lumia (lupa serinya).

 

 

Perjalanan ke Praha (4): Prague Castle

Leave a comment

(Februari 2015)

 

Prague Castle adalah juga satu kawasan yang tak semestinya dilewatkan. Selain karena ada bangunan-bangunan megah bersejarah panjang, kawasan ini terletak di tempat tinggi yang berarti dari sana, lanskap kota Praha dapat dinikmati secara cukup menyeluruh.

Kawasan ini sudah ada sejak abad ke-9. Sudah sejak lama pula, Prague Castle menjadi tempat kediaman para penguasa wilayah yang kini mungkin meliputi beberapa negara di Eropa Tengah. Tercatat, raja-raja Bohemia, pemimpin Dinasti Habsburg di bawah tahta suci Roma, sampai Presiden Cekoslowakia menjadikan tempat ini sebagai pusat kekuasaan. Saat ini pun, salah satu bangunan di kawasan ini masih menjadi tempat tinggal resmi untuk Presiden Republik Ceko.

Untuk mencapai Prague Castle, perlu menjalani tanjakan yang cukup curam. Anak-anak tangga harus ditaklukkan (baru anaknya lho, gimana emaknya, halah). Walaupun lumayan menguras bak keringat, tetapi karena di kanan-kiri jalan terdapat toko-toko yang menjual beraneka jenis barang, dari sandang, souvenir, hingga pangan, juga gedung-gedung unik, lelahnya menjadi tak terlalu terasa. WP_20150213_12_21_04_Pro

Bagian depan Gereja Katedral St. Vitus

WP_20150213_12_19_18_Pro.jpg

Sumur tua dan Pancuran Air di Tengah Castle

WP_20150213_16_37_35_Pro.jpg

St. Wenceslas Vineyard dan Pemandangan Kota

DSC_0492

Lanskap Kota Praha di malam hari dari Prague Castle

Mengunjungi Prague Castle, dan bangunan-bangunan kuno di Praha yang masih dipakai, membuat saya berpikir bahwa hal-hal kuno tak mesti semua harus disapu modernisasi. Masalahnya, sejak awal, secara konsep, kekunoan seringkali dipertentangkan dengan kekinian. Praha sebenarnya bisa menjadi contoh sahih dimana menjadi modern bisa dilakukan di tempat-tempat berlabel klasik. Namun demikian, tak bisa dipungkiri bahwa hal itu menjadi sangat kontekstual. St. Vitus misalnya, walaupun dibangun berabad lalu, namun secara teknis (dilihat dari kekuatan bangunannya misalnya) mungkin masih bisa dipakai, atau barangkali secara desain juga bisa disesuaikan dengan kebutuhan masa kini (bisa dipasangi heater/AC misalnya). Selain itu, sekilas memang tidak ada kerusakan serius yang terjadi dalam sekian abad. Yang tak kalah penting lagi, pergantian kekuasaan tak serta-merta berarti penghancuran.

Faktor-faktor tersebut yang mungkin menyebabkan bangunan-bangunan dari jaman kuno di belahan bumi lain tak bisa diperlakukan sama. Ada perubahan drastis dalam hal lingkungan, dan bahkan bentuk, yang terjadi. Perubahan drastis tersebut bisa disebabkan oleh bencana alam seperti yang jamak terjadi di wilayah rawan bencana macam Indonesia. Contohnya adalah bekas kerajaan Mataram Hindu yang hancur luluh oleh letusan Merapi semilenium lalu. Dapat pula disebabkan oleh faktor ketidaksesuaian bangunan dengan kebutuhan jaman. Seperti, rasa-rasanya tidak mungkin memasang AC di Kraton Ratu Boko. Bisa juga oleh pergantian kekuasaan yang kemudian menafikan, bahkan menghancurkan, bangunan masa silam yang entah kenapa dianggap mengancam. Misalnya seperti apa yang terjadi pada Palmyra di Syria yang dihancurkan ISIS dan peninggalan peradaban Timbuktu di Mali yang diratakan Ansar Dine.

Pada akhirnya, Praha seperti ingin menunjukkan bahwa keindahan masa lalu yang dirawat dengan sungguh-sungguh dapat membawa kebaikan bagi masa kini, dan masa depan. Bayangkan jika perawatan tak secara layak dilakukan, Praha mungkin tak lagi sama. Menurut saya, keindahan arsitektur dari masa lalu, beserta kisah yang mengiringinya, telah membentuk karakter kuat kota ini dan menciptakan suasana magis di banyak sudutnya.

Perjalanan ke Praha (3): Prague Old Town

Leave a comment

(Februari 2015)

 

Bagian lain yang juga luar biasa dari Praha adalah kota tua (Old Town). Di kawasan ini terdapat bangunan, benda, sudut dan jalan yang hampir semuanya memiliki keunikan dan narasi yang menarik untuk dibagi. Mulai dari Astronomical Clock yang melegenda, Old Town Square yang luas dan bersejarah, hingga wilayah permukiman Yahudi dengan sinagoga tua yang masih aktif dipakai hingga kini. Semua titik itu bisa dijangkau dengan hanya berjalan kaki.

  1. Astronomical Clock

Dibangun pada awal abad 15, Astronomical Clock di Praha adalah salah satu jam astronomi tertua di dunia. Jam kawakan ini terdiri dari tiga komponen berbeda, yang pertama adalah muka jam yang merepresentasikan posisi matahari dan bulan di langit. Yang kedua disebut “The Walk of the Apostles”, sebuah mesin jam yang pada setiap satu jam-nya menunjukkan sosok para Apostle (rasul dalam tradisi Kristiani) dan patung berbagai karakter. Yang ketiga adalah piringan kalender dengan medallion menggambarkan bulan-bulan. Menurut legenda lokal, kota Praha akan mengalami penderitaan apabila jam ini diabaikan dan sosok hantu yang dipasang pada jam menganggukkan kepalanya sebagai simbol konfirmasi datangnya bencana.

Astronomical Clock saat ini menjadi semacam landmark kota Praha. Sebagai jam yang sudah terpasang lebih dari 700 tahun, saya pikir jam ini menakjubkan. Pertama, karena masih beroperasi. Kedua, karena cerita yang mengiringinya. Dengan adanya makna di tiap komponen utamanya, juga legenda lokal yang terus diwariskan secara lintas generasi, Astronomical Clock menjadi menarik bukan hanya karena tua usianya, tapi juga karena memiliki makna atau cerita yang bisa dibagi. Mungkin, banyak orang di dunia ini yang mampu merawat benda warisan selama berabad lamanya. Namun, tak banyak yang mampu memberi makna dan menceritakan sesuatu.

DSC_0030

2. Old Town Square

Tempat ini, sebagaimana square-square di banyak negara lain di Eropa, berwujud lapangan luas dengan bangunan-bangunan penting di sekitarnya. Ada Old Town Hall, ada gereja tua (bukan lagu Panbers). Old Town Hall di sini merupakan serangkaian bangunan tua yang dulu dipakai sebagai kantor pemerintahan. Sedangkan gereja tua (yang bukan lagu Panbers) itu bernama Kostel Matky Boží před Týnem, yang dalam Bahasa Inggris berarti Church of Our Lady before Týn, atau Church of Mother of God before Týn.

Kabarnya, di square ini pernah terjadi berbagai peristiwa bersejarah dan juga berdarah-darah. Adalah darah 27 orang pemimpin revolusi Bohemia yang pernah tumpah di di sini. Revolusi Bohemia (Bohemian Revolt) tercatat sejarah sebagai perlawanan kelompok Bohemian, yang menganut Protestan, kepada Dinasti Habsburgs yang Katolik, pada awal abad 17. Singkat cerita, kelompok Bohemian takluk pada sebuah pertempuran yang dikenal dengan nama Battle of White Mountain. Pertempuran itu mengakhiri kontestasi power antara kedua pihak selama puluhan tahun, dan tentu saja menyeret para pemimpin pihak yang kalah untuk dieksekusi mati, di Old Tow Square.

DSC_0039

Old Town Square di sore hari, abaikan kelakukan teman-teman saya itu

3. Jews Quarter

Komunitas Yahudi memiliki sejarah yang panjang di Praha. Kehadiran mereka telah diperhitungkan sejak abad ke-16. Bahkan pada abad ke-18, jumlah warga Yahudi  di Praha pernah mencapai seperempat dari keseluruhan penduduk Praha. Dapat dimaklumi jika kemudian saat ini terdapat sejumlah peninggalan penting. Misalnya, sebuah sinagog dari abad 14. Disebut sebagai Old-New Synagogue, sinagog ini masih digunakan untuk beribadah jemaat Judaisme Ortodoks. Selain itu, terdapat juga pemakaman Yahudi kuno yang mulai dipakai pada abad ke-14 dan ditutup pada abad ke-17. Pemakaman yang kabarnya merupakan salah satu situs kuno Yahudi yang selamat dari penghancuran massal di era Nazi.

DSC_0050

Old-New Synagogue

DSC_0060

Bagian depan Jewish Cemetery

 

Mengunjungi Old Town di Praha, saya sempat teringat Old Town di Jakarta: Kawasan Kota Tua. Sebenarnya tidak fair membandingkan keduanya. Konteks sejarahnya sangat jauh berbeda. Tetapi, di sisi lain, saya juga tak bisa memungkiri bahwa sedih juga Kota Tua di Jakarta tidak bisa menyampaikan banyak cerita, sebagaimana Old Town di Praha. Tak banyak yang tahu, misalnya gedung-gedung di sekitar museum Wayang dahulu digunakan sebagai apa. Juga di Kota Tua “Square”, apa tanah lapang luas di sana selama ratusan tahun hanya berarti tanah lapang yang tak memiiki kisah apa-apa?

Mungkin, kita terlalu menganggap remeh masa lalu. Adagium “yang berlalu, biarlah berlalu” seringkali diangkat sebagai pembenaran atas penepian sejarah. Saya rasa itu kejam, karena cerita dari masa lalu tak melulu harus diabaikan. Kisah dari masa silam, dan juga peninggalan lainnya, tak sekedar pengingat dari mana kita dan peradaban kita beranjak. Namun juga penghargaan kita sebagai manusia atas karya peradaban lampau. Pun untuk memelihara kekaguman atas keindahan karya seni, arsitektur, tulisan, ritus, bahkan kisah, yang rasa-rasanya teramat sayang untuk hilang begitu saja ditelan jaman.

Rasa-rasanya apaan, ah, perasaan loe aja kali Mas?

 

Perjalanan ke Praha (2): Charles Bridge

Leave a comment

(Februari 2015)

 

Charles Bridge adalah sebuah jembatan tua yang membelah Praha. Jembatan ini nampak megah dengan patung berbagai karakter sejumlah 30 buah yang berdiri di kanan-kiri jembatan. Mengiris sungai Vtava, Charles Bridge menghubungkan dua tempat penting di Praha, yaitu Old Town dan Prague Castle.

Jembatan ini di siang hari mempresentasikan secara gamblang bangunan dan patung gaya baroque dari abad pertengahan dengan detail yang khas. Di malam hari, lampu remang yang memantul dari sungai Vtava dengan latar belakang Prague Castle yang megah menjulang, membentuk kecantikan yang terkesan dingin namun mempesona.

Mau siang mau malam, jembatan ini sempurna secara visual. Jika ada satu hal yang mengurangi kekhusyukan tempat ini, adalah keramaian yang kadang terlalu. Sebagai tujuan utama para pelancong, hal itu pada akhirnya musti dimaklumi.

DSC_0190a

  1. Charles Bridge malam hari

DSC_0129

2. Charles Bridge dengan background Prague Castle

DSC_0179

3. Salah satu patung di pinggiran Charles Bridge

DSC_0172

4. Charles Bridge dini hari

 

Jembatan ini memang sangat indah. Namun, selalu penuh orang hingga kira-kira tengah malam. Mungkin begitulah hukum yang berlaku, bahwa pesona selalu menarik perhatian banyak orang. Alamiah saya rasa. Untuk bangunan, pesona seringkali perkara visual. Berlaku hanya untuk bangunan, tentu. Untuk manusia? Sepertinya jauh lebih kompleks. Di mata saya, setiap manusia selalu punya daya pikat dalam caranya masing-masing.

Untuk Charles Bridge? Ialah seindah-indah bangunan. .

Perjalanan ke Praha (1)

Leave a comment

(Februari 2015)

 

Bayangan saya tentang Eropa Tengah, dulu, bersumbu pada potongan film Before Sunrise yang berlatar kota Vienna/Wina (Austria). Kota itu lalu mengendap di kepala saya sebagai contoh kota dengan keindahan visual Eropa Tengah. Uniknya, saat saya mendapat kesempatan untuk mendatangi Praha (Ceko), sebuah kota yang juga ada di Eropa Tengah, bayangan itu kemudian muncul.

Saya mungkin terlampau gegabah melakukan generalisasi atas kota-kota di Eropa Tengah, namun saya kesulitan untuk tidak demikian. Pengetahuan saya tentangnya terbatas. Juga soal Praha dan Republik Ceko. Sepertinya, saya pertama kali dengar nama negara ini dari sepakbola. Ceko adalah runner-up kejuaraan antar-negara Euro 1996 dengan permainan agresif yang atraktif.  Selain kaitannya dengan sepakbola, saya tidak familiar sama sekali.

Saya terbengong-bengong saat pertama kali memasuki Praha. Waktu itu awal malam di penghujung musim dingin. Dengan lampu kota di sana-sini, kota ini memang memikat sejak pandangan pertama. Secara umum, Praha itu seperti senja, indah dilihat, tapi lebih menyenangkan lagi kalau dikhidmati. Tentu itu gambaran yang absurd.

Saya tak bermaksud menuliskan Praha secara absurd. Tapi untuk tidak seperti itu, cukup berat rasanya. Sebab memang penghayatan seringkali terlalu absurd, tidak terukur, dan kadang susah dijelaskan. Maka dari itu, saya lebih memilih menjadi deskriptif saja untuk Praha. Lebih dari itu, saya tak mampu.

Pada akhirnya, bayangan awal saya tentang kota-kota di Eropa Tengah bisa dibilang salah dan benar. Salah karena tentu Praha berbeda dari Wina. Tetapi benar adanya dalam hal pesona. Bahkan tetap kurang tepat. Sebab daya tarik Praha itu beyond beauty. Lebih dari sekedar kecantikan.

Perpisahan

Leave a comment

Perpisahan kerap menjadi momok yang menakutkan. Maka, pada suatu sore, aku pernah berbicara tentang perlunya merayakan perpisahan. Bahwa perpisahan tak harus selalu tentang air mata. Alih-alih, perpisahan bisa saja diiringi dengan keceriaan. Bukankah perpisahan hanya rangkaian dari pertemuan. Jika kita bisa menertawai pertemuan, kenapa kita tak mampu bersikap sama atas perpisahan? Bukankah keduanya sama-sama proses yang musti dijalani?

Mungkin memang perpisahan tak pernah sesederhana itu. Sebagai antonim dari pertemuan, perpisahan mau tak mau membawa sifat yang juga berlawanan dengan karakter pertemuan. Maksudnya, jika pertemuan dimaknai dengan kebahagiaan, maka sebagai antitesis, perpisahan harus dilabeli dengan kesedihan. Tentu posisinya tak mutlak seperti itu. Ada pertemuan yang tidak menyenangkan, dan ada pula perpisahan yang justru ditunggu-tunggu. Namun, yang jelas, keduanya seperti selalu berada di kutub berbeda terhadap satu hal yang sama.

Selain itu, perpisahan juga berkelindan dengan berbagai hal lain yang membuatnya tak bisa sederhana. Perpisahan bisa berhubungan erat dengan akhir. Ketika perpisahan mengakhiri suatu masa yang menyenangkan, wajar jika kemudian orang bersedih atasnya. Perpisahan juga bisa berarti perubahan atas harapan. Level ekspektasi yang muncul atas jalin hubungan antar manusia saat interaksi masih dimungkinkan, mau tak mau harus diubah setelah perpisahan terjadi, karena memang kemudian menjadi tak sama lagi.

Perpisahan bertautan pula dengan hal paling menyebalkan di dunia: waktu, beserta sahabat kentalnya bernama ruang.

Waktu memang sungguh angkuh. Dia yang menyeretku ke perpisahan. Sekeras apapun aku meneriakinya agar berhenti, ia hanya akan terus melenggang tanpa pedulikan aku yang meraung-raung kencang. Yang terjadi justru suaraku yang kemudian hilang. Selembut apapun aku berusaha merayunya untuk tak berlalu, dia tak tergoda dan terus melaju. Hingga aku sadar bahwa aku telah tak punya apa-apa lagi untuk ditawarkan. Secerdik apapun aku berusaha mengakalinya agar dia hanya akan jalan di tempat atau bahkan mundur, dia takkan peduli dan terus berjalan ke depan secara teratur. Sampai kemudian malah aku yang tak mampu lagi berpikir dan terlempar ke gigir yang terjal.

Ruang tak jauh berbeda. Pada perpisahan, ruang menghadirkan sekat. Sekat, yang kokoh bergeming sekuat apapun aku berusaha memindahkannya. Justru kemudian aku yang roboh sendiri, kelelahan. Ruang juga mendatangkan hantu yang tak kalah menakutkannya bernama jarak. Jika pada pertemuan, ruang membiarkan satu-dua atau banyak manusia berjalinan satu sama lain, maka pada perpisahan, ruang menciptakan sela. Sela yang jauh, yang menjadikan satu dan yang lain mustahil saling sentuh.

Waktu dan ruang telah membawakanku perpisahan. Waktu yang itu. Yang kejam, dingin, tak berperasaan. Sekaligus ruang yang membiarkan perpisahan tak bisa dihindari. Keduanya memaksaku menerima perpisahan.

Maka aku memutuskan untuk berdamai saja dengan waktu, dan ruang. Aku pasrah saja akan dibawakan apa lagi oleh mereka. Aku menurut saja akan dipertemukan dengan siapapun lagi. Aku bahkan tak akan protes jika mereka hadirkan perpisahan suatu hari nanti. Mungkin, karena mereka juga telah banyak sekali mendatangkan pertemuan padaku. Dan aku berterimakasih atasnya. Sebab banyak, banyak sekali, dari pertemuan itu yang membahagiakan. Bahkan yang sangat singkat, dapat tersimpan abadi.

                                                           Perjalanan udara Amsterdam-Kuala Lumpur,
                                                           20 Desember 2015

Older Entries