Libur Natal 2011, long weekend di penghabisan tahun. Sebagai pelaku sekaligus korban rutinitas ibukota, saya selalu menganggap long weekend adalah anugerah. Maka, jadilah saya bersama sejumlah kawan melancong ke Pulau Sulawesi dengan segepok niat agar waktu lowong nan berharga di long weekend tidak habis di bawah atap kosan dan di hadapan film-film “drama” Jepang tak jelas.

Tujuan kami adalah salah satu tempat tujuan wisata paling terkenal di Pulau Sulawesi, Tana Toraja. Singkat cerita, dengan bantuan dua orang kawan yang bekerja di Makassar, kamipun mencapai Toraja tanpa kendala berarti.

Sebelum berangkat, saya sempat tanya-tanya ke mbah Gugel, beliau memberi petunjuk bahwa akan rugi kalau jauh-jauh ke Toraja tidak menyaksikan secara langsung upacara kematian di sana. Sayang sekali saat kami tiba di sana, kami mendapat informasi bahwa tidak akan ada upacara kematian hingga waktu liburan kami berakhir. Yah, jadilah kami hanya mengunjungi obyek-obyek wisatanya saja.

Kata tante Whitney Houston, there can be miracles when you believe.. and she’s damn right. Saat kami mengobrol sok asyik dengan penjaga kompleks menhir di dekat Rantepao (sebuah kota kecamatan cukup besar di Kabupaten Toraja Utara), tak disangka-sangka kami mendapat informasi berharga bahwa pada sehari setelah natal akan ada event adu kerbau di suatu daerah bernama Minanga. Horee… Oiya kawan, adu kerbau adalah salah satu rangkaian upacara kematian di Toraja selain penyembelihan kerbau, memindahkan rumah tongkonan, dan lain-lain.

Dengan demikian, tanggal 26 Desember, kami berangkat mencari suatu daerah bernama Minanga. Kami sempatkan mampir terlebih dahulu  ke sebuah desa tenun, di mana kami bisa melihat proses penenunan kain khas Toraja sekaligus membelinya.

Mbak-mbak di atas bukan penenun. Dia turis yang (selalu) pengen difoto.

Selesai dari desa tenun, kami melanjutkan perjalanan ke tujuan utama kami, desa Minanga. Karena tidak ada yang tahu tempatnya, maka kami rajin-rajin bertanya, pada orang-orang yang kami lalui, pada rumput-rumput, pada dahan yang melambai, pada angin yang  membelai… halah. Dan pada google maps yang telah menyerah duluan (entah apa saya yang gaptek, tapi google maps tak tahu ada daerah namanya Minanga).

Perjalanan ke Minanga mungkin gak jauh beda rintangannya dengan perjalanan Bhiksu Tong Sam Cong mencari kitab suci dan Pendekar Yo Ko mencari Bibi Lung. Jalanan yang kami lalui saat itu naik turun-kiri tebing-kanan jurang dengan lebar kira-kira sepadan dengan lebarnya Toy*ta Avanza + satu buah motor Yam*ha Mio. Kondisinya pun memprihatinkan, nyaris gak ada permukaan yang rata.

Entah kapan program pemerataan pembangunan infrastruktur sampai ke sana. Jalan di Lebak, Banten, Provinsi terdekat dari Jakarta saja banyak yang masih berlubang dan belum diperbaiki juga, apalagi jalan di Minanga yang berjarak hampir satu hari dari Jakarta. Hei, tapi bukankah sekarang jamannya otonomi daerah? Lalu kemana para pengambil kebijakan di daerah? Sepertinya terlalu banyak problema dalam implementasi ‘pembangunan daerah oleh daerah’. Salah satunya, menurut saya, adalah banyak diantara pemimpin di daerah yang sudah mengeluarkan cost politik begitu tinggi untuk kampanye saat pilkada. Konsekuensi logisnya adalah ketika berhasil terpilih menjadi pemimpin, prioritasnya adalah mencapai break even point (atau kalau bisa untung) dari ongkos politiknya dulu. Jadi soal membangun jalan nanti sajalah kalau sudah mau pilkada lagi, sekalian kampanye ‘kan coy.

Oke, mari kita tinggalkan dulu soal itu. Cekak cerita, setelah menempuh waktu kira-kira sepertandingan sepakbola tanpa adu penalti, akhirnya kami menemukan desa Minanga. Sungguh pemandangan yang menarik. Desa itu terletak di sebuah lembah di tengah bukit-bukit dan di sebelahnya mengalir sungai yang airnya masih jernih. Dan cuma ada satu akses jalan keluar-masuk ke sana, yaitu jalan busuk yang kami lalui sebelumnya. Haduh.


Ini lokasinya. Sebelum hujan deras, sungai
di sebelah itu jernihnya menggoda, suwerr.

But it’s okay, yang penting kami sampai, urusan pulang urusan nanti. Kami datang saat adu kerbau hampir dimulai. Walaupun kemudian hujan, momen ini tidak saya lewatkan. Saya, dan tiga orang teman lain, sempat menonton di pinggir arena sampai akhirnya memutuskan pindah ke atas karena takut diseruduk kerbau (pekok, emange banteng neng Spanyol) yang lari keluar ring.

Kerbau aduan nampak berbeda dengan kerbau-kerbau sawah yang setiap saya lihat pasti kalau tidak sedang makan, ya sedang tiduran atau berkubang. Mungkin kerbau aduan itu secara fisik di atas rata-rata karena mereka secara rutin nge-gym, jogging, skipping, push up dan dikasih suplemen. Secara mental juga berbeda, kerbau aduan terlihat percaya diri, sebelum bertanding si kerbau pasti dinasehati oleh Pak Mario Teg*h. *dua kalimat terakhir jangan dipercaya*.

Para petarung dibawa masuk ke arena

Menurut info dari salah satu warga di sana, taruhan tiap pemilik kerbau bervariasi, dari 5 juta hingga 10 juta, tergantung wani piro.

Antusiasme penonton

 
Sama perkasa

Kerbau yang dianggap kalah adalah yang lari keluar arena duluan. Tapi kalau keluar sebelum saling seruduk, gak dihitung kalah karena dianggap belum bertanding.

Ini yang depan sudah hampir kalah. Setelah keluar arena resmi kalah

Selama beberapa jam di sana, kami menonton dari first sampai last match, sekitar 4-6 pertandingan. Seru sekali memang menontonnya. Walaupun sejujurnya saya iba menyaksikan si kerbau yang barangkali kalau boleh memilih, lebih baik jadi kerbau sawah yang tidak perlu saling seruduk, apalagi sambil diketawain makhluk licik bernama manusia. Tapi ya… siapa yang tahu pedalaman jiwa kerbau. Dalam bentuk yang lain, secara naluriah mungkin mereka juga paham apa itu ‘harga diri’, jadi bukan lagi soal rasa sakit, tapi tentang pembuktian siapa yang terhebat. Bukankah manusia pun mengenal gladiator, shumo, tinju, dan sejenisnya? Bukankah manusia juga setiap saat berkompetisi? Bahkan kerapkali dengan cara ilegal.

(dialog imajiner)
Kerbau X: masbro, udahan aja yuk. Kita dimanfaatkan sama manusia-manusia brengsek itu. Sadarlah.

Kerbau Y: shut up! Lu udah ambil cewe gue. Gue bunuh lu!

Kerbau X: gak kok masbro, suwerr. Masbro jangan mau ditipu manusia. Mereka cuma mau menertawakan kesakitan kita.
Kerbau Y: banyak bacot lu, kalo emang cowo, buktikan pake tanduk bukan pake mulut! Lu kebo, gue kebo, biar dunia tahu siapa kebo sejati!

Sebelum saya makin ngelantur, sebagai penutup, ini dia foto rombongan kawan-kawan selo yang pada liburan Natal tahun 2011 sudah berkeliling ke obyek-obyek wisata di Toraja hingga bertualang jauh ke pelosok pegunungan demi menonton sebuah ritual budaya.

Satu hal lagi kawan, kita punya Nusantara yang indah, beragam, unik, penuh warna…  sayang untuk dilewatkan.

Gambar diambil di Pare-Pare, dalam perjalanan berangkat dari Makassar ke Toraja.
Iya, semua yang ada di foto itu ikut ke Minanga kecuali si gadis berbaju merah yang saya ambil paksa topi Santa-nya. :D